Duniaekspress, 3 Juli 2017.

Pada hari jumat, 30 Juni 2017 telah terjadi aksi teror berupa penusukan anggota kepolisian sesaat setelah shalat Isya di Masjid Falatehan, perum peruri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Teror yang menyebabkan ketakutan jamaah Masjid Falatehan tersebut dilakukan oleh seorang pedagang parfum di Pasar Roxy Bekasi yang bernama Mulyadi. Setelah salam, Mulyadi yang berada di shaf ketiga langsung berteriak “kafir” kepada anggota polisi yang juga selesai sholat di sebelahnya, lalu sambil berteriak takbir langsung menusuk dua anggota polisi yang bernama AKP Dede Suhatmi dan Briptu Syaiful Bachtiar dengan pisau sangkur merk cobra. Tindakan tersebut menyebabkan luka-luka di leher, wajah dan dada kedua polisi yang bersama 20 polisi lainnya melakukan sholat berjamaah di masjid yang lokasinya tidak jauh dari Mabes Polri.

Akibat kejadian tersebut beberapa jamaah sholat sontak lari dari masjid bahkan tidak memperdulikan lagi alas kaki dan barang bawaannya.

Pelaku juga langsung lari ke arah Blok M dan langsung dikejar aparat lainnya, karena tidak menyerah pelaku akhirnya ditembak sampai tewas di samping terminal Blok M. Identitas yang ada di KTP Mulyadi tertulis beralamatkan di Cikarang Selatan, ternyata alamat tersebut adalah rumah kakak ipar Mulyadi.

Polisi langsung meminta keterangan dari ipar dan saudara kandung Mulyadi. Pola-pola penyerangan seperti ini biasa dilakukan oleh jamaah pro ISIS seperti JAD (Jamaah Anshar Daulah), bahkan tidak perduli jika penyerangan tersebut dilakukan di rumah Alloh (masjid). Sebut saja pemboman bunuh diri di dalam masjid Adz-Dzikra Mapolres Cirebon tahun 2011 yang dilakukan oleh M.Syarif, anggota JAT (Jamaah Anshar Tauhid) murid Ustadz Aman Abdurrahman yang sekarang menjadi ulama tertinggi ISIS di Indonesia.