Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Syaikh Abdul Aziz bin Syakir al-Rafi’i, salah seorang anggota Majlis Syari’ah Mimbar Tawhid Wal Jihad, berkata :
“Tidak dipungkiri bahwa beberapa orang yang sangat ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat tersebut adalah orang-orang yg memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap perjuangan Islam. Bahkan, mereka melakukan hal itu didorong oleh semangat mendakwahkan tauhid, memerangi syirik dan menegakkan panji jihad di jalan Allah Ta’ala. Niat mereka baik, bahkan sangat baik. Namun terkadang niat yang baik tidak mampu membuahkan hasil yang baik, karena cara untuk merealisasikan niat baik tersebut keliru dan tidak tepat.”
Syaikh Abdul Aziz bin Syakir Asy-Syarif hafizhahulah menyebutkan bahwa sikap mereka yang ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tersebut -sadar maupun tidak sadar- telah melayani musuh-musuh Islam.
Sikap mereka tersebut sadar maupun tidak sadar, telah merusak dakwah dan jihad dari tiga aspek :
Pertama : Memisahkan mujahidin dari umat Islam dengan menggambarkan mujahidin -bagi orang awam yang bodoh dan tidak mengenal hakekat mujahidin- sebagai orang-orang ekstrim yang mengkafirkan kelompok-kelompok, ulama-ulama dan juru dakwah Islam yang berbeda pendapat dengan mujahidin.
Kedua : Menyebarluaskan pemahaman-pemahaman ekstrim di tengah kelompok-kelompok mujahidin dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihad fiqih yang bersifat zhanni. Akibatnya sebagian mujahidin yang terkena racun pemikiran-pemikiran tersebut akan mengarahkan peperangan mereka kepada umat Islam sendiri, yaitu orang-orang Islam yang mereka vonis sebagai “orang-orang musyrik”, “orang-orang kafir” dan “ahlu bid’ah”. Hal itu akan mengalihkan konsentrasi mujahidin dari memerangi aliansi zionis, salibis, paganis dan komunis yang memerangi kaum muslimin.

Ketiga : Mengecilkan dan meremehkan kedudukan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin dalam pandangan masyarakat serta mencela mereka, dengan tuduhan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin memiliki kelemahan di bidang kajian syariat dan tidak memiliki ilmu yang mumpuni.

 

(Ustad Abu Izzudin, حفظه الله تعل)