Gema takbir, tahlil, dan tahmid di awal syawal baru saja kita dengar kumandangnya. Sedih karena kita baru saja meninggalkan bulan yang penuh berkah, yaitu Bulan Ramadhan. Namun kita juga gembira karena dapat bersilaturahmi dengan keluarga pada momen yang dinanti-nanti oleh anak-anak, yaitu ‘iedul fitri.

Di tengah senyum dan tawa dalam nuansa saling memaafkan dan pakaian baru nan indah, nun jauh di sana, di tanah pertempuran dimana dentuman bom dan mortir serta desiran peluru mujahidin juga merayakan kemenangan. Hanya saja kemenangan mereka jauh lebih tinggi nilainya dari kita di sini, karena mereka menang segalanya. Bukan hanya menang menahan lapar dan dahaga namun juga menang dalam kesabaran di medan tempur yang penuh resiko dan bahaya.

Jihad tiada berhenti ditelan zaman, akan senantiasa ada wakil-wakil dari umat ini yang memegang jihad dengan setia dan sabar:

“Sekali-kali akan tetap ada dalam agama ini sekelompok orang dari kaum muslimin  yang senantiasa berperang hingga datangnya hari kiamat.” (HR. Muslim)

Alhamdulillah dengan izin Alloh Subhaana wata’ala kami hadir di hadapan antum semua dalam suasana perjuangan izzul Islam wal muslimin yang tiada henti dari berbagai dimensi. Berbagai dimensi karena jihad pada zaman sekarang bukan hanya melulu kekuatan besi dan misiu, namun juga kekuatan trafic di dunia maya. ”Pekerjaan media adalah setengah dari jihad” demikian diungkapkan As-syahiid Syekh Usamah bin Ladin. Ini juga yang disadari oleh musuh-musuh Islam.

Ampuhnya pengaruh media sebenarnya sudah dirasakan jauh hari masa Rosul SAW. Pada masa perang Uhud, Ibnu Qam’ah dari pasukan Quraisy berteriak bahwa Muhammad SAW telah terbunuh, provokasi ini menyebabkan pasukan kaum muslimin terpecah. Pada masa sekarang provokasi media oleh musuh-musuh Islam melalui berita-berita hoax di medsos sangat efektif memecah belah kaum muslimin dan mempermainkan emosi mereka.

Untuk itu kami mengambil moto “Adil dan maslahat dalam bergerak”. Orang yang bersikap adil tidak mudah terprovokasi karena ia bersikap objektif terhadap setiap masalah. Sikap adil lebih dekat kepada taqwa

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian saksi yang adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menghalangi kalian berlaku adil. Berlaku adil-lah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (Al-Ma’idah: 8)

Sementara sikap memperhatikan maslahat dan mudharat dalam bertindak sudah banyak diabaikan oleh para jihadis akhir-akhir ini. Orang yang tidak memperhatikan hal ini adalah egois, walau ia sudah menunaikan kewajibannya atau cita-citanya namun jika hal tersebut justru merugikan Islam dan kaum muslimin pada dasarnya dia telah kalah.

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Janganlah engkau membahayakan dan saling merugikan”.
(HR. Ibnu Majah, Daraquthni dan lain-lainnya, Hadits hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththa sebagai Hadits mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tanpa menyebut Abu Sa’id. Hadits ini mempunyai beberapa jalan yang saling menguatkan)

Banyak hal-hal dalam berjuang yang kelihatannya mulia namun jika dilakukan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mudharat itu bukan saja masalah nyawa, tapi pencitraan negatif terhadap Islam dan mujahidin sehingga tidak mendapat dukungan mayoritas umat adalah juga mudharat dan kerugian yang besar terhadap jalannya perjuangan.

Sekali lagi… ahlan wa sahlan… semoga kehadiran kami memberi banyak manfaat. Aamiin.

(Redaksi)