Duniaekspress, 5 Juli 2017

udzur bil-jahl(udzur karena bodoh) salah satu mawani dalam takfir merupakan aqidahnya manhaj ahli sunnah waljama’ah, walaupun di dalamnya ada perbedaan ijtihadi. dan al-qaidah pun yang bermanhaj ahlussunnah waljama’ah, memahami ada udzur bil jahl dalam mawani penghalang takfir, sebagaimana yang terungkap dalam sebuah nasehat syaikh Usama bin Laden rahimahullah yang akan kami sampaikan.

Halaman Syaikh Khalid Ar-Rasyid, ulama yang dipenjarakan oleh Otoritas Saudi, di jejaring sosial
facebook mengunggah video cuplikan dari ceramah Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Dalam cuplikan video tersebut, beliau memaparkan masalah takfir (pengkafiran), terutama pengkafiran individu. Berikut adalah terjemahan dari cuplikan video yang berdurasi 05:33 menit itu:
“Merupakan akidah Ahlusunnah wal Jamaah bahwasanya jika sesorang jika masuk ke dalam agama ini dengan yakin (kepastian), maka tidak dia tidak keluar darinya kecuali dengan alasan yang yakin. Maka hukum asal pada muslimin adalah mereka muslim. Maka tidak boleh bagi seseorang mengkafirkannya karena hal itu merupakan madzhab khawarij wala hawla wala quwwata illa billah.
Dan hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jika seseorang mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka perkataan itu akan kembali kepada salah satu di antara keduanya. Jika yang disebut itu benar kafir, maka hal itu untuknya. Jika tidak, maka hal itu kembali kepada si penuduh. Ini adalah peringatan keras sekali untuk terlalu masuk ke dalam masalah ini, khususnya dalam masalah pengkafiran individu(ta’yin). Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kemenangan yang kita tunggu selama ini, kita persembahkan kesabaran dan takwa kepada Allah. (Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka tipu daya musuhmu tak dapat membahayakanmu.
Maka berhati-hatilah. Karena mengkafirkan seseorang (tanpa alasan yang benar) termasuk dosa besar. Maka jagalah lisan-lisan kalian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara dari kalian, kalian menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu, berpegang pada tali Allah dan jangalah bercerai-berai,. Ini adalah kaidah yang besar. Yaitu berpegang teguh pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Syaikhul Islam berkata, hadits ini mencakup pokok Islam. Dan ketiga adalah saling menasehati di antara kalian dan pemimpin kalian.
Hendaknya yang berbicara masalah takfir adalah ahlul ilmi yang mengerti dhawabith dalam masalah takfir. Maka tidak mengapa ia berbicara tentang itu menjelaskan kepada orang-orang.
Begitu juga dengan orang-orang yang menjauhkan orang lain dalam masalah takfir penguasa yang berhukum dengan hukum selain Allah. Ini juga madzhab thoghut. Maka siapa yang dikafirkan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kami kafirkan jika berlaku padanya hukum- hukumnya. Adapun yang jelas seperti Fir’aun yang secara jelas disebutkan dalam nash, maka tidak beriman orang yang tidak mengkafirkannya. Adapun lainnya yang melakukan salah satu pembatal keislaman, maka masalah
ini sangat sensitif. Terkadan orang melakukan kekufuran namun ia tidak kafir karena mungkin jahil atau dipaksa. Maka masalah ini sangat detail tidak mungkin bagi semua ikhwah untuk mengetahui secara dalam. Akan tetapi kita berbicara secara umum tentang rezim-rezim yang telah melakukan
pembatal Islam, padahal mereka telah dinasehati dan dijelaskan kepada mereka. Namun mereka tetap melakukan hal tersebut dan memerangi Allah dan Rasul-Nya. Maka kami katakan bahwa
rezim-rezim itu telah murtad” papar Komandan Tertinggi Al-Qaidah yang dikabarkan gugur pada bulan Mei 2011 di Abottabat, Pakistan.     [AB/duniaekspress/syamina].