Mengenal Lebih Dekat Tentang Al-Qa’idah Dan Hubungan Mereka Dengan Al-Zarqawi.

bagian II

baca sebelumnya, ANTARA SYAIKH ABU MUS’AB AZ-ZARQOWI RAHIMAHULLAH DAN AL-QAIDAH.

Duniaekspress, 08 juli 2017, Esoknya, adalah hari dimana kita janji untuk bertemu kembali dengan Akh Abu Mush’ab. Tepatnya pukul 09.00 pagi, saya bersama ikhwan Mesir yang tadi saya ceritakan, berangkat. Kali ini, kami juga ditemani seorang ikhwah dari Jazirah Arabb, aslinya dari Hijaz. Hijaz termasuk negeri yang melahirkan orang-orang yang memiliki andil besar dalam kancah jihad dan perjuangan Islam, di berbagai penjuru dunia. Orang ini banyak memiliki kesamaan fikiran dengan saya dalam berbagai hal.

Sesampai di sana, kami tidak masuk ruang tamu seperti biasanya. Kami justru memanggil Akh Abu Mush’ab untuk ikut kami. Waktu itu beliau kami minta sendirian. Akhirnya, kami menaiki mobil menuju rumah ikhwan Hijaz ini. seperti lazimnya, kami perkenalkan Akh Abu Mush’ab kepada ikhwan Hijaz ini. dan saya rasa, Abu Mush’ab bisa menerima pemikiran ikhwan Hijaz ini dengan lapang dada.

Saya memulai pembahasan, karena sayalah yang mengusung proyek yang besar ini dan punya cara pandang paling utuh dari berbagai sisi dan tujuannya. Sebenarnya, point inti dari proyek ini adalah mendesaknya untuk segera membuka sebuah daerah baru di Afghanistan, yang disana kita akan memiliki kamp latihan sederhana untuk latihan harian. Rencananya, Akh Abu Mush’ablah yang diminta untuk menjadi penanggung jawab daerah atau basis baru ini, sengaja kita buat untuk mengundang ikhwan-ikhwan terutama dari Yordania, Palestian, Suriah, Lebanon, Irak dan Turki. Sebab menurut kami, negara-negara ini sangat strategis. Sementara, kami merasa tidak berkemampuan untuk menggarap daerah-daerah tersebut.

Point berikutnya, kami telah diskusikan secara matang bersama ikhwan-ikhwan senior, daerah yang akan kita buka ini harus dijauhkan dari basis utama kami, namun berdekatan dengan daerah sebelah barat Afghanistan yang berbatasan dengan Iran. Pertimbangan kami adalah, jalur yang aman bagi para ikhwan yang ingin masuk hanya dari Iran. Sebab, fihak Pakistan mulai sangat ketat memantau pergerakan kami. Sangat sulit bagi ikhwan arab atau yang lain untuk masuk melalui jalur Pakistan. Berbeda dengan mereka yang masuk melalui jalur Turki – Iran – Afghanistan, mereka masuk dengan mudah. Nah, kota paling tepat yang kami pilih untuk proyek ini adalah kota Heart. Heart adalah kota terletak di bagian barat Afghan yang paling dekat dengan perbatasan Iran. Di satu sisi, kota ini juga jaun dari basis utama kami. Mengenai kebutuhan material, ikhwan dari Hijaz tadi bersedia menanggungnya, sesuai jumlah orang yang akan tinggal dan kebutuhan-kebutuhan proyek.

Suatu hal yang kami sampaikan juga kepada Akh Abu Mush’ab, kami tidak akan menuntut beliau ber-bai’at secara total kepada Tandzim kami, kami hanya menginginkan tantsiq (kerjasama atau aliansi) untuk menggapai tujuan bersama.

Kami tegaskan juga kepada beliau, bahwa kami siap memberikan latihan khusus bagi anggota atau tim beliau yang menonjol. Kami juga sudah menjalin kerjasama dengan ikhwan Thaliban, supaya ke depan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami mengusulkan kepada beliau agar membuat dua tempat transit, pertama di Teheran, dan satu lagi di Masyhad. Ini untuk memudahkan keluar masuk ikhwan-ikhwan dari dan ke Afghanistan.

Ide-ide ini memiliki satu target, yaitu menjalin hubungan ikhwan-ikhwan di negara-negara Arab dan dunia Islam, sekaligus membukan kesempatan bagi ikhwan-ikhwan yang benar-benar ikhlas untuk berjihad.

Khususnya bagi mereka yang “belum” sepakat dengan pemikiran Al-Qa’idah. Sebab, dibukanya daerah ini akan membentuk kesepakatan pemikiran secara bertahap, dan dimasa mendatang akan mensejajarkan langkah dengan izin Allah.

Selesai mengutarakan ide kami, kami sudah tidak sabar menunggu jawaban Akh Abu Mush’ab. Sejurus kemudian, beliau mengatakan, “Saya punya orang-orang dekat yang saya jadikan penasehat. Akh Kholid Al ‘Ariwi dan Akh Abdul Hadi Daghlas adalah orang-orang yang selalu mendampingiku sejak kami merintis jalan ini. sudah sewajarnya mereka dimintai pertimbangan dan saran”.

Kami mengiyakan permintaan beliau. Kita sepakat bertemu dua hari lagi, yaitu hari Jum’at. Akhi dari Hijaz menjanjikan akan mengundang kita untuk makan bersama di rumahnya. Kamipun setuju. Tapi Abu Mush’ab meminta agar kedua teman dekatnya tadi turut diundang. Ok. Kami akan kirimkan satu mobil untuk menjemput mereka nanti sebelum sholat Jum’at, supaya kita dapat sholat jum’at bersama-sama.

Rencana berjalan lancar. Hari Jum’at, kami bisa sholat jum’at bersama-sama. Setelah itu pergi ke rumah Akhi dari Hijaz, di sana kami menyantap hidangan yang telah disediakan. Waktu itu kami disuguhi hidangan kambing arab. Sembari menikmati makanan, kami berbincang-bincang. Akh Abdul Hadi – teman Abu Mush’ab – mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Dari penampilannya, nampaknya ia memiliki kepandaian yang cukup. Dengan izin Allah, kami jawab semua yang ia ajukan. Al hasil, kita semua sepakat dengan proyek ini. besok kita akan segera melakukan persiapan.

Program dimulai. Kali pertama, Abu Mush’ab dan kedua temannya kami beri tugas untuk memberikan latihan khusus selama 45 hari kepada rombongannya. Ketika latihan berlangsung, kami menjanjikan akan mengadakan latihan di Heart dan akan datang ke sana.

Mulailah Abu Mush’ab mengontak ikhwan-ikhwan Yordan untuk datang. Ketika latihan berlangsung, kami perhatikan Abu Mush’ab dan kedua temannya adalah sosok yang sangat agresif dan selalu ingin menggapai prestasi yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi. mereka kuat dalam latihan.(AB/duniaekspress).

Bersambung…