MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM TAKFIR (PENGKAFIRAN)
(Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah).

Duniaekspress, 9 Juli 2017.

Saya katakan; Wahai saudara-saudaraku …

Sesungguhnya di antara manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah bahwa seseorang itu apabila secara yakin telah masuk Islam maka dia tidak akan keluar darinya kecuali dengan suatu perkara yang meyakinkan.

Pada dasarnya kaum muslimin itu adalah orang-orang Islam. Maka tidak boleh seseorang mengkafirkan mereka. Yang semacam ini adalah manhaj Khowarij … wa la haula wa la quwwata illa billah …

Di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya; Hai orang kafir! Niscaya kata-katanya itu akan mengenai salah satu dari keduanya.” (H.R. Bukhari)

Maka jika orang yang disebut kafir itu memang kafir, ya sudah dia kafir. Namun jika orang tersebut bukan orang kafir maka kata-kata itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.

Ini merupakan peringatan yang sangat-sangat keras agar tidak menceburkan diri ke dalam perkara ini. Khususnya dalam mengkafirkan orang per individu.

Maka takutlah kepada Allah SWT, karena pertolongan yang kita harapkan dari Allah SWT kita raih dengan cara bersabar dan bertaqwa.

“Jika kalian bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikitpun.”

Maka jangan sekali-kali kalian melakukan hal ini. Karena mengkafirkan orang itu termasuk dosa yang sangat besar dan berbahaya.

Maka jagalah lisan kalian. Di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah meridhai 3 hal bagi kalian;

Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Kalian berpegang teguh dengan tali Allah secara bersama-sama dan tidak berpecah-belah.”

Poin yang pertama ini tidak akan tegak kecuali dengan poin yang kedua. Apa itu? Yaitu BERJAMA’AH!

“Kalian berpegang teguh dengan tali Allah secara bersama-sama dan tidak berpecah-belah.”

Syaikhul Islam berkata: Hadits mengenai 3 hal ini mencakup prinsip-prinsip Islam.

“Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,

kalian berpegang teguh dengan tali AllAh secara bersama-sama dan tidak berpecah belah,

dan hendaknya kalian saling memberi nasehat kepada orang-orang yang AllAh jadikan sebagai pemimpin kalian.”

Maka hendaknya kalian saling nasehat-menasehati. Baik sesama kalian maupun dengan para pemimpin.

“Dan AllAh tidak menyukai 3 hal buat kalian;

Mendengar dan menyebarkan berita-berita yang tidak jelas, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

Maka hubungannya sangat erat antara 3 hal yang pertama dan 3 hal yang kedua.

3 hal yang pertama adalah prinsip-prinsip Islam yang menjadi pondasi bangunan Islam.

Sedangkan 3 hal yang kedua adalah penghancur Islam.

Maka tinggalkanlah mendengar dan menyebarkan berita-berita yang tidak jelas, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.

Ketika kita berbicara, jika yang berbicara itu adalah seorang ulama’ dan memahami kaidah-kaidah takfir, maka tidak mengapa dia berbicara masalah ini dan menjelaskan kepada saudara-saudaranya.

Namun menjauhkan orang dari takfir sampai-sampai para penguasa itu melakukan kekafiran sehari 40 kali namun tidak ada seorangpun yang dapat mengkafirkan mereka. Maka yang seperti ini juga merupakan manhaj para Thaghut. Mereka menyebarluaskan dan terlalu membesar-besarkan masalah ini, sehingga mereka dapat melakukan kekafiran namun tidak ada seorangpun yang mengafirkan mereka.

Siapa saja yang dikafirkan oleh Al Qur’an dan Sunnah maka kita mengkafirkannya. Jika vonis tersebut cocok dengan orang tersebut maka kita mengkafirkannya.

Orang yang dikafirkan secara nash, seperti Fir’aun dan Abu Jahal, maka ini jelas orang yang tidak mengkafirkannya bukanlah orang beriman.

Adapun yang lain, jika mereka melakukan pembatal Islam, maka ini adalah masalah yang sensitif dan pelik.

Terkadang seseorang melakukan perbuatan kafir namun dia tidak kafir, karena dia tidak tahu atau karena ikrah.

Yang semacam ini adalah perkara yang pelik yang mana tidak semua ikhwah dapat mempelajari dan menguasainya.

Akan tetapi kita berbicara mengenai perkara-perkara yang umum. Negara-negara ini jumlahnya terbatas. Negara-negara ini melakukan pembatal-pembatal Islam, dan telah diberi nasehat dan penjelasan berkali-kali sementara mereka terus bersikukuh dan memerangi Allah dan Rasul-Nya. Maka kita katakan bahwa negara-negara ini telah murtad dari agama Allah SWT.

Tapi para ikhwah masuk ke wilayah yang lebih jauh dari ini. Ia katakan; Si A memuji para penguasa tersebut. Fulan dan sebagainya.

Sebagian orang itu tidak tahu sehingga tidak bisa kamu memvonis mereka.

Bahkan paling banter yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rh, ketika beliau mengkafirkan sebagian penguasa wilayah pada jamannya, yang berhukum dengan selain hukum Allah sehingga beliau mengkafirkan mereka. Lalu ada sebagian orang yang mengaku sebagai ulama’, mereka membela para penguasa tersebut. Baliaupun membantah mereka dan mengatakan bahwa minimal mereka ini, yaitu orang-orang yang memuji dan membela para penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah tersebut, minimal mereka ini adalah orang-orang fasiq.

Sedangkan antara kefasikan dan kekafiran ini ada jarak yang sangat jauh.

Maka takutlah kalian kepada Allah dan tahanlah diri kalian dari perkara ini. Sibukkanlah diri kalian dengan banyak berdzikir, berdo’a, dan mengingat anugerah Allah serta mensyukurinya, sampai kita menghadap Allah dalam keadaan Ia ridha kepada kita.

Sebelum berbicara berfikirlah apa dampak dari pembicaraan tersebut.

Bersungguh-sungguhlah dalam mentaati Allah dan berjihad di jalan-Nya. Pada perkara-perkara yang kamu tidak kuasai maka hendaknya kamu bertaqwa. Di antara bentuk taqwa itu adalah hendaknya engkau tidak lancang dalam berfatwa .. wa la haula wa la quwwata illa billah …

(AB/duniaekspress).