Duniaekspress, 11 Juli 2017. Pada Juni 2014, ISIS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Tiga tahun kemudian, benteng kota ISIS terakhir di Irak dan tempat dimana kekhalifahannya itu sendiri diploklamirkan 3 tahun lalu dengan cepat runtuh.

Kota yang masih menampung lebih dari satu juta orang, saat ini dikepung oleh koalisi pasukan Irak yang dipimpin secara internasional. Menurut koalisi tersebut, pasukan berada dalam tahap akhir untuk merebut kembali kota tersebut dari sejumlah kecil pejuang kelompok ISIS. Wilayah yang masih dikontrol ISIS di Mosul sudah sangat kecil.

Selama tahap akhir desakan untuk merebut kembali kota tersebut, tidak ada lagi kehadiran yang signifikan dari kelompok bersenjata ISIS di Irak, seperti yang tergambarkan pada peta kontrol ini:

map kontrol Mosul, sumber: Al-Jazeera, LiveUmap

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, pertempuran Mosul berpotensi menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah. Mereka telah memperingatkan bahwa 20.000 warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran berada dalam “bahaya ekstrim”.

Sejak awal serangan untuk merebut kembali Mosul, pemerintah Irak mengatakan ada lebih dari 850.000 warga sipil yang sekarang mengungsi.

(AZ)

baca juga: ISIS MELEDAKKAN MASJID BERSEJARAH DI MOSUL

 

HOME