Duniaekspress, 13 Juli 2017,

Salem Khalaf, seorang sopir traktor berusia 63 tahun, ingat dengan jelas pada hari di bulan Agustus 2014 ketika pejuang ISIS menyerang wilayah Sinjar. Setelah mendengar bahwa kelompok tersebut semakin dekat dan pasukan keamanan telah melarikan diri, Khalaf dan orang-orang Yazidi lainnya mengamankan keluarga mereka, sementara mereka tetap berada di tempat itu, mengangkat senjata ringan untuk mempertahankan rumah mereka.

Tapi mereka tidak sebanding dengan para pejuang ISIS. Setelah beberapa hari, Khalaf dan tetangganya yang tersisa melarikan diri ke pegunungan, mengikuti rute yang dilalui ribuan orang Yazidi lainnya. Mereka menghadapi kelaparan dan dehidrasi di sepanjang jalan.

Khalaf yang memiliki suara yang tinggi dan kuat, tapi ketika dia mulai berbicara tentang istri dan kelima anaknya – yang berusia 10, 11, 16, 18 dan 23 tahun saat terakhir kali ia melihatnya pada bulan Agustus 2014 – dia tertunduk dan hampir tidak dapat berkata apa-apa . Mereka semua diculik oleh ISIS saat mereka melarikan diri dari keluarga supir traktor tersebut.

“Anak-anak perempuan saya biasa memeluk saya setiap hari ketika saya kembali kerja, saya sering memberikan hadiah kecil untuk semua anak saya – seperti boneka, mainan hewan dari plastik, bunga dan make up – hal-hal kecil untuk membuat mereka bahagia,” kata Khalaf kepada wartawan Al Jazeera saat duduk di tendanya di sebuah kamp pengungsian warga Irak di dekat kota Duhok. “Dan istri saya yang sangat cantik dan baik, kami benar-benar merupakan tim yang bagus.”

Beberapa bulan yang lalu, Khalaf kembali ke rumahnya di desa Hardan, sebelah utara Sinjar, dan menemukannya sudah hancur total. Semua barang-barang yang berharga telah diambil, kecuali hadiah yang dibelinya untuk dua anak laki-laki dan tiga perempuannya. Ketika melihat barang-barang pribadinya tergeletak di lantai, Khalaf lunglai.

“Awalnya, saya ingin membawa barang-barang mereka ke saya, tapi saya tidak dapat tahan membayangkan hal-hal ini setiap hari. Ini sangat menyakitkan,” katanya.

Salem Khalaf

Menurut adik iparnya, Ida, istri dan anak Khalaf terakhir terlihat di Tal Afar hampir dua tahun lalu. Ida juga diculik oleh ISIS, namun dibebaskan beberapa bulan kemudian bersama 200 orang Yazidi lainnya, kebanyakan wanita tua dan anak-anak. Sejak itu, tidak ditemukan jejak keluarga Khalaf .

“Saya tahu bahwa ISIS menjual mereka sekarang sebagai budak. Begitulah yang mereka lakukan dengan wanita dan anak perempuan Yazidi,” katanya dengan suara terbata-bata.

Lebih dari 6.400 orang Yazidi diculik oleh ISIS saat kelompok tersebut menyerang Sinjar pada Agustus 2014, menurut Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG). Sebagian besar pria tewas dan dibuang ke kuburan massal, sementara para wanita dan anak-anak diculik, berulang kali diperkosa atau dipaksa untuk bertempur bersama kelompok tersebut.

Sejak saat itu, lebih dari 3.000 orang yazidi berhasil lolos, kata KRG. Ketika Perang Mosul dimulai akhir tahun lalu, banyak keluarga Yazidi berharap agar anggota keluarga mereka segera diselamatkan.

“Kami meminta tentara Irak untuk memotong jalur jalan ke Suriah pada tahap awal peperangan namun sayangnya, itu tidak terjadi .. Oleh karena itu, ISIS punya banyak waktu untuk mentransfer banyak orang-orang yazidi yang diculik ke tempat lain, dan karena itu, kami tidak dapat menyelamatkan “Ribuan dari mereka masih hilang,” kata Hussein al-Qaidi, direktur Kantor KRG Urusan Penculikan di Duhok, kepada Al Jazeera.

Orang-orang Yazidi yang ditinggalkan mengatakan bahwa mereka merasa dikhianati tidak hanya oleh pasukan militer, yang mundur dalam menghadapi pasukan ISIS yang merengsek maju, tetapi juga oleh beberapa tetangga Arab mereka, yang menyarankan mereka untuk menyerah. Banyak keluarga Yazidi menerima saran itu, mereka bilang, diketahui kemudian hari bahwa hasutan tersebut hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa tetangga-tetangga ini bekerja sama dengan ISIS. Pertanyaan “bagaimana kalau…” terus menghantui banyak para pria.

“Ketika ISIS maju, kami melarikan diri ke pegunungan, Setelah beberapa hari, kami memutuskan untuk mencari air dan makanan di desa terdekat, saat kami kelaparan. Ketika kami berada di sana, beberapa tetangga Arab kami datang kepada kami. Berjanji untuk melindungi kami ” kata Khiri Abdallah, seorang guru sekolah berusia 35 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera. “Istri dan anak-anak saya pergi bersama mereka, dan saya kembali untuk mendapatkan yang lain. Kami mempercayainya.”

Kenyataannya, keluarga Abdallah diserahkan ke ISIS. Dia kemudian menemukan bahwa istri dan anak-anaknya telah dibawa ke Suriah dan dijual ke seorang pejuang ISIS dari Tunisia, yang kemudian melakukan serangan bunuh diri. “Anggota ISIS lainnya mendatangi keluarga saya, memberi mereka $ 500 dan mengatakan kepada anak saya bahwa ayahnya telah pergi ke surga,” tambahnya.

Abdallah baru saja dipertemukan kembali dengan anak-anaknya Shalal, 14, dan Hachem yang berusia enam tahun, setelah lebih dari dua tahun. Istrinya dan anak perempuannya masih ditahan di wilayah ISIS.

Di kamp lain di wilayah Kurdi di Irak, Khudeda Msto Haji yang berusia 66 tahun tinggal sendiri. Ia pernah menjadi orang terhormat di kota Khanasor bersama keluarga dan bisnis kasino serta kateringnya sendiri, dia sekarang tinggal sendirian di tenda, berjuang untuk hidup setiap hari. Terkadang, dia bahkan seolah berbicara dengan anak-anaknya, menghayal bahwa mereka duduk di sampingnya di ruangan itu.

Saat dia menunjukkan foto istri dan anak-anaknya, air mata mengalir di pipinya. “Apa dosa istri saya sehingga ia mendapatkan hal ini? Mengapa mereka melakukan ini terhadap kami Orang-orang yazidi? ISIS menghancurkan kami,” tanyanya.

Haji bersama foto-foto keluarganya

Haji baru-baru ini mulai bekerja sebagai juru masak lagi untuk memberikan dukungan kepada putra tertuanya, yang sedang kuliah di kedokteran di universitas yang kebetulan tidak berada di rumah saat ISIS menyerang daerah tersebut.

Setiap pesta pernikahan yang dihadiri Haji membuat dia merasa semakin tertekan. “Saya mencoba untuk tersenyum dan berpura-pura baik-baik saja, tapi sebenarnya sangat menyakitkan saya untuk melihat orang bahagia. Orang yang bahagia mengingatkan saya pada masa lalu, saya bahkan tidak dapat membayangkan bahwa saya pernah menjadi orang yang bahagia dengan sebuah keluarga, Katanya,ia menekankan bahwa dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan istri dan anak-anaknya dari cengkeraman ISIS.

“Seorang korban Yazidi lainnya mengatakan kepada saya bahwa anak perempuan saya dijual ke seorang pejuang di Raqqa, [Suriah]. Saya sekarang membutuhkan $ 30.000 untuk membayar penyelundup – jumlah uang yang tidak saya miliki,” katanya. “Saya kehilangan segalanya saat ISIS menyerang kami.”

(AZ, diterjemahkan dari Al-Jazeera)

HOME