Duniaekspress, 15 Juli 2017. Kekeliruan-kekeliruan ini sebagiannya umum  terjadi, dan sebagiannya adalah sangat busuk di dalam masalah takfier yang terjatuh ke dalamnya banyak kalangan dari orang-orang yang bersemangat tinggi, para pemula, dan orang-orang yang ghuluw. Di mana mereka melontarkan ungkapan-ungkapan yang bisa saja pendorongnya adalah hawa nafsu, di samping kelemahan ilmu dan keikhlasan. Kelemahan ilmu adalah pintu peluang bagi syubuhat, dan kelemahan keikhlasan adalah peluang bagi syahwat, sedangkan penyerahan diri kepada syubhat dan syahwat itu adalah pijakan hawa nafsu dan kendaraan bagi kesesatan. Allah Subhanahu Wa Ta’alaberfirman:

وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ (٢٦)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shaad: 26)

Dan kadang yang menjerumuskan kepada hal itu adalah adalah sikap aniaya yang sesekali menghantarkan kepada sikap berlebihah, dan sesekali menghantarkan kepada sikap mengada-ada. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ

“Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri” (Yunus: 23)

Dan di antaranya juga adalah buruknya niat yang muncul dari percikan-percikan perseteruan yang tidak diikat dengan timbangan keadilan yang mana bumi dan langit berdiri dengannya. Allah Subhanahu Wa Ta’alaberfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah: 8)

Dan kadang yang mendorongnya adalah tekanan realita kekafiran, terror pemikiran, terror pisik serta terror mental yang dilakukan musuh-musuh agama ini terhadap para penganutnya, yang mana hal itu pada sebagian orang melahirkan pemahaman-pemahaman yang muncul sebagai reaksi sebaliknya, yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai al fikru as sujuni(pemahaman yang muncul dari akibat tekanan penjara), serta nama-nama lainnya yang mereka ada-adakan dalam rangka mencoreng citra baik dakwah tauhid ini dengan klaim bahwa aqidah para penganutnya adalah tidak murni dan tidak ada kaitannya dengan agama ini, namun ia adalah lahir dari fase-fase ketertindasan, kefaqiran dan tekanan, oleh sebab itu mereka mengira bahwa dakwah tauhid ini akan lenyap dengan lenyapnya fase-fase ini.

Yang mereka klaim ini, andaikata ada sesuatu darinya, maka ia itu hanya ada pada orang-orang yang lemah akalnya dan miskin ilmunya yang tidak terarah dengan batasan-batasan syari’at, serta tidak terikat dengan kaidah-kaidah dan dasar-dasarnya, sehingga mereka dan pikiran mereka dipermainkan oleh situasi, tekanan dan penindasan.

Sedangkan para du’at tauhid yang haq dan para penganut aqidah yang mantap, maka mereka itu adalah tidak seperti itu.

Namun lontaran-lontaran yang muncul dari ghulat (orang-orang yang ghuluw di dalam takfier) itu hanyalah mempengaruhi kadang kepada sebagian orang-orang yang bersemangat tinggi atau para pemula yang belum mantap keilmuannya di dalam dakwah ini, sebagaimana yang kadang saya saksikan, itu muncul karena rasa ghirah dan marah karena pelanggaran terhadap apa yang dilarang agama ini.

Kemudian orang yang berakal di antara mereka, bila diingatkan, maka dia tersadar dan kembali kepada dalil-dalil syar’iy, kemudian dia mengikat dengannya rasa ghirahnya (cemburunya), ucapannya serta perbuatannya, di saat kondisi ridla dan marah, di saat kondisi susah dan lapang. Karena sudah maklum bahwa ghairah yang terpuji itu adalah apa yang diikat dengan batasan-batasan syari’at, bukan apa yang muncul dari reaksi balik yang tidak diikat dengan batasan syari’at.

Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat Sa’ad merasa sulit bila dia mendapatkan seorang laki-laki lain bersama isterinya terus ia membiarkannya dan tidak membunuhnya sampai ia mendatangkan empat orang saksi, dan itu sebelum turun hukum Li’an, dan berkata: Tidak, demi Dzat yang telah mengutus engkau sebagai Nabi, sungguh saya akan menghabisinya dengan pedang sebelum itu, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( أتعجبون من غيرة سعد ، فو الله لأنا أغير منه ، والله أغير مني ، ومن أجل ذلك حرم الفواحش ما ظهر منها وما بطن ، ولا شخص أغير من الله.. ) الحديث أصله في الصحيحين.

“Apakah kalian merasa heran dari ghairah Sa’ad, maka demi Allah sesungguhnya aku adalah lebih ghairah darinya, dan Allah lebih ghairah dariku, oleh sebab itu Dia telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang nampak maupun yang tersembunyi darinya, dan tidak seorangpun lebih ghairah daripada Allah….” Asal hadits ada di dalam Ash Shahihain.

Dan diriwayatkan juga di dalam hadits marfu’: “Sesungguhnya di antara ghairah itu ada yang Allah cintai dan ada yang Allah benci…” Hadits riwayat Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, sedang ia adalah hadits hasan dengan seluruh jalan-jalannya.

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang semacam itu selagi mereka itu adalah ansharuddien, maka sesungguhnya mereka itu diudzur, bila sangat kuat syubhat yang mendorong mereka untuk melontarkan sesuatu kepada sebagian orang, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengudzur Umar tatkala berkata tentang Hathib: “Sesungguhnya dia itu munafiq” dan ia meminta izin untuk membunuhnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan kepadanya (kamu telah kafir karena kamu telah mengkafirkan saudaramu yang muslim), itu dikarenakan Hathib telah terjatuh ke dalam syubhat amalan yang mukaffir. Namun mereka itu harus diberikan pengarahan ilmu dan pengingatan serta pengembalian mereka kepada al haq, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersikap seperti itu kepada Umar, karena dien ini tidak ada toleran kepada seorangpun.

Ini adalah Umar, jadi kesalahan itu bagaimanapun dorongannya adalah tetap kesalahan, karena tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.

Wajah kesesatan yang buruk itu tidak boleh dihiasi atau dibuat indah dengan sesuatupun dari niat-niat yang baik atau tujuan-tujuan yang bagus atau dorongan yang positif, walaupun ia itu adalah banyak.

Kemudian sesungguhnya musuh-musuh dien ini dan lawan-lawan dakwah ini selalu mencari-cari kesalahan yang muncul dari para pengikut dakwah ini seraya tidak memakluminya sedikitpun atau mengudzur mereka di dalam takwil, dan mereka itu tidak mau membedakan antara dakwah dengan para pengikutnya atau membedakan antara orang-orang yang sudah mantap keilmuannya dengan para pemula.

Dan suatu yang paling sulit dan paling jarang pada diri mereka itu adalah sikap inshaf (obyektif), dan yang paling banyak mereka miliki adalah dusta dan mengada-ada, sedangkan sekedar klaim dalam rangka perseteruan adalah hal yang sangat mudah bagi setiap orang yang membolehkan dan menganggap baik sikap berbicara tanpa dasar ilmu dan keadilan.

Para pembawa dakwah tauhid yang penuh berkah ini adalah memiliki pakaian yang putih bersih yang sedikit kotoran saja sangat nampak kelihatan padanya, oleh sebab itu mereka harus menghindari penyimpangan dari manhaj mereka yang murni, walaupun hanya hal kecil di dalam pandangan mata. Di mana mereka itu tidak seperti lawan-lawan tauhid ini yang telah mencoreng hitam wajah dan pakaian mereka dengan pekatnya kebatilan serta dengan kegelapan syubhat dan syahwat, sehingga mereka itu sudah tidak merasa segan dari hal-hal yang membinasakan atau bersikap wara’ dari hal-hal yang mencelakakan atau merasa malu dari kebejatan-kebejatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menuturkan di dalam suatu risalah yang tergolong risalah paling bagus di dalam kritikan diri: (Sesungguhnya di antara sebab penyepelean ahli bid’ah terhadap salaf adalah apa yang muncul dari sebagian orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf berupa suatu keteledoran dan sikap  aniaya, dan apa yang muncul dari sebagian mereka berupa urusan-urusan ijtihadiyyah yang mana kebenaran adalah kebalikannya, maka sesungguhnya apa yang muncul itu adalah menjadi fitnah bagi orang yang menyelisihi salaf, yang dengan sebabnya dia tersesat dengan sangat jauh) Selesai dari Majmu Al Fatawa 4/91.

Oleh sebab itu maka kami tidak mungkin mengakui kekeliruan-kekeliruan ini, pada orang-orang yang kami berkumpul dengan mereka atau mengajari mereka atau menangani urusan mereka, dan kami tidak pernah mendiamkan hal semacam itu kapanpun. Di dalam rangka membersihkan dakwah yang mahal ini dari setiap corengan yang mengotorinya atau memperkeruhnya maka kami tidak peduli dengan keridlaan atau kebencian, orang dekat mapun yang jauh, dan tidak akan menghalangi kami dari hal itu sikap aniaya mereka atau permusuhan mereka atau gangguan mereka, karena orang-orang yang lebih baik dari kami telah disakiti pada jiwanya dan kehormatannya sampai datang pertolongan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang mengatakan:

ادأب على جمع الفضائل جاهداً       وأدم لها تعب القريحة والجسد

واقصد بها وجه الإله ونفع من        تلقاه ممن جد فيها واجتهد

واترك كلام الحاسدين وبغيهم       هملاً فبعد الموت ينقطع الحسد

Teruslah di atas semua keutamaan seraya bersungguh-sungguh

Dan langgengkan untuknya kelelahan hati dan badan

Niatkan dengannya Wajah Allah dan manfaat orang

yang engkau temui dari kalangan yang serius dan sungguhan

Dan biarkan ucapan para pendengki dan aniaya mereka begitu saja

Karena setelah kematian terputuslah kedengkian.

Kemudian sesungguhnya di antara orang-orang yang merasa benci dan mengingkari saya karena sikap bara kami dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap berlebihan mereka pada suatu waktu, ada orang-orang yang pada akhirnya mereka rujuk kepada kebenaran setelah mereka matang dan memiliki bashirah, atau setelah mereka merasakan bahayanya sikap-sikap ganjil mereka terhadap dakwah ini serta mereka mengetahui akibat-akibat negatifnya, maka merekapun akhirnya memuji sikap bara’ kami atau melakukan apa yang kami lakukan walaupun setelah waktu yang lama, sehingga perumpamaan saya dengan mereka itu adalah seperti orang yang mengatakan:

بذلت لهم نصحي بمنعرج اللوى           فلم يستبينوا الرشد إلا في ضحى الغدِ

Aku kerahkan nasehat pada mereka dengan penuh penentangan

Namun mereka tidak tersadar pada kebenaran kecuali di keesokan hari

Maka segala puji bagi Allah atas segala keadaan, sesungguhnya sikap rujuk mereka kepada Al haq walaupun setelah perdebatan sengit dan penentangan, adalah lebih baik daripada bersikukuh di atas kebatilan dan kesesatan. Sesungguhnya penghidayahan hati itu bukanlah di tangan kami dan tidak pernah juga ada di tangan seorangpun, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia terbaik:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٥٦)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash: 56)

Namun itu adalah karunia Allah dan taufiq-Nya, yang Dia berikan kepada orang-orang yang Dia pilih dari kalangan hamba-hamba-Nya yang menjihadi dirinya dan hawa nafsunya serta musuh-musuh Allah di jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dansesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(Al ‘Ankabut: 69)

Kesimpulannya adalah bahwa kami dengan karunia Allah ta’ala saja tidak pernah menganut sesuatupun dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap ganjil-ganjil itu kapanpun, dan kami tidak pernah mengakuinya, dan tidak pernah juga menerimanya atau mendakwahkannya atau menulisnya kapanpun. Ini buktinya kitab-kitab kami yang diterbitkan dan yang masih berbentuk tulisan tangan, sejak Allah memberikan hidayah kepada kami ke jalan ini, bahkan kami senantiasa berlepas diri dari kekeliruan-kekeliruan dan sikap-sikap ngawur tersebut sebelum kami di penjara dan saat kami mendekam di dalamnya, dan insya Allah kami akan tetap seperti itu, dan kamipun tidak pernah menganut pemahaman-pemahaman yang muncul akibat tekanan penjara dan tidak pula reaksi-reaksi yang muncul akibat penindasan yang tidak dibatasi dengan batasan-batasan syari’at. Namun kami membawa aqidah ini yang merupakan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kami menulisnya dan kami mendakwahkannya pada kondisi sempit dan lapang, dari hasil pengkajian, pencarian dan penelaahan pada dalil-dalil syar’iy dan ucapan-ucapan salaf.

Kami senantiasa dengan karunia Allah tetap berada di atasnya dalam kondisi penjara, penahan dan kondisi sulit, dan kami tidak pernah menyimpang dengan sebab tekanan dan iming-iming kepada sikap ifrath (berlebihan) ataupun tafrith. Maka kami memohon kepada AllahSubhanahu Wa Ta’ala agar menyempurnakan nikmat-Nya kepada kami dengan keteguhan dan husnul khatimah.

Inilah kami menulis dalam hal itu, sebagai bentuk nasehat dan pengingatan bagi para pemula dan orang-orang yang bersemangat tinggi, dan sebagai bentuk pentahdziran dan tarhib bagi orang-orang yang ghuluw dan berlebihan, serta sebagai bentuk penguatan sikap bara’ kami dan sikap bara’ para pembawa dakwah ini dari segala sikap ganjil dan kekeliruan.

(AB).

*************

[1] Takfier Sayyid Quthb dengan sebab kekeliruannya dalam bab sifat-sifat  Allah, dan sebagian ungkapan-ungkapan sastranya, saya telah mendengarnya dari sebagian Neo Murji-ah yang menisbarkan diri secara palsu kepada salafiyyah padahal mereka itu bersikap wara’ yang dingin lagi dungu dalam takfier orang-orang murtad yang memerangi dien ini dari kalangan para thaghut dan ansharnya.

[2] Lihat sebagai contoh 2/.214

SIKAP BERLEBIHAN DALAM TAKFIR DAN BAHAYANYA BAGI HARAKAH ISLAM