TAKFIR & TAHDZIR TEBANG PILIH DARI SEKTE “PENGKAPLING SURGA”.!!

Duniaekspress,  22 juli 2017. Memahami Al-Qur’an ataupun hadits, haruslah dengan pemahaman para ulama salaf, tidak boleh tidak !
Al-Imam Asy-Syafi’i Rahmatullah ‘alaihi menuturkan bagaimana unggulnya kaum salaf :

هم فوقنا في كل علم و عقل و دين و فضل، و كل سبب ينال به علم أو يدرك به هدى، و رأيهم لنا خير من رأينا لأنفسنا

“Mereka unggul diatas kita dalam segala ilmu, pemahaman, ketakwaan, dan keutamaan, dan segala sebab untuk menggapai ilmu dan mendapatkan hidayah. Pendapat mereka lebih baik baik daripada pendapat kita untuk diri kita sekalipun.”

Oleh karena itulah Al-Imam Ahmad rahmatullah ‘alaihi menegaskan :

إيّاكَ أن تتكلمَ في مسألة ليس لكَ فيها إمام

“Hati-hatilah anda dalam berbicara pada suatu permasalahan, yang pada permasalahan tersebut anda tidak memiliki imam (salaf) sebagai sandarannya.”

Salaf secara mutlak ialah tiga generasi terbaik dari ummat ini, kemudian berkembang dan dianggaplah suatu fase masih berada di era salaf. Mayoritas fuqaha’ Syafi’iyyah menganggap bahwa era salaf diakhiri dengan wafatnya dua Syaikh yang mulia (Al-Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’iy rahmatullah ‘alaihima​), sedangkan kalangan Asyaa’irah mutaakhirin menganggap bahwa era salaf ialah sebelum tahun 500 H.

Saya mau bertanya kepada pengingkar udzur dalam perkara kekufuran, kebid,ahan dll. Sehingga mudah sekali mereka mengkafirkan atau mentahdzir orang/kelompok islam yang tergelincir dalam kesalahan, tanpa adanya ikhomatul hujjah.

Silahkan saja tampilkan kalam ulama salaf yang mentahdzir atau mengkafirkan secara ta’yin kepada beberapa atau banyak ulama salaf yang terjatuh kedalam berbagai kesyirikan semisal Ibnul Jauzi, Al-Harabi, Al-Hafizh Al-Imam Hakim (penulis kitab Al-Mustadrak dll) yang ngalap berkah ke kuburan Yahya bin Yahya sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tanpa ingkar dari Ibnu Hajar di Tahdzibut Tahdzib. Demikian pula Al-Hafizh Adz-Dzahabi yang banyak mengutip di As-Siyar perbuatan ngalap berkah dan berdoa ke kuburan ulama dan orang shalih dan tanpa ada pengingkaran dari beliau. Bahkan imam Nawawi & Ibnu hajar Al asqolani tergelincir dalam mentakwil sifat Alloh seperti dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin dan lajnah daimah (https://islamqa.info/id/107645).

Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.”
Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].

Tidak dikafirkan/ditahdzirnya mereka dan diterima karya mereka oleh seluruh ulama dari masa ke masa hingga saat ini adalah Ijma’ atas adanya udzur bagi mereka. Iya perbuatan mereka adalah perbuatan salah, syirik, namun untuk dianggap murtad keluar dari Islam, siapakah ulama salaf yang berkata demikian ?

Demikian pula dengan masa setelah era salaf, kita dapati para ulama menerima dan mengakui karya Al-Hafizh As-Suyuthi, Al-Haitsami dll yang sangatlah banyak yang dikenal sebagai quburiyyun namun kitab-kitab mereka malah diajarkan oleh Asy-Syaikh Wasyiyullah Al-Abbas di Masjidil Haram dan menjadi referensi ummat.

Orang-orang yang tidak memberi udzur mungkin akan berkilah terkait perbuatan kesyirikan para ulama salaf diatas dengan ayat :

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ

“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan.” (Al-Baqarah: 134)

Ini adalah pemahaman yang keliru, sebab para mufassirin telah menafsirkan bahwa ummat yang lalu itu ialah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, dan anak cucunya. Sebagaimana ayat sebelumnya :

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Oleh karena itulah Ibnu Katsir menyatakan :
“sesungguhnya orang-orang terdahulu dari kalangan kakek moyang kalian yang menjadi nabi-nabi dan orang-orang saleh, tiada manfaatnya bagi kalian ikatan kalian dengan mereka jika kalian sendiri tidak mengerjakan kebaikan yang manfaatnya justru kembali kepada kalian. Karena sesungguhnya bagi mereka amalan mereka, dan bagi kalian amalan kalian sendiri. Dalam ayat berikutnya disebutkan :

وَلا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan kalian tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Baqarah: 134)

Para ahli tafsir kebanyakan membawakan hadits berikut sebagai syahid atas ayat diatas :

مَنْ أَبْطَأَ به عمله لم يسرع به نسبه

Barang siapa yang lamban amalnya karena mengandalkan kepada keturunan, maka keturunan (yang dibangga-banggakannya) itu tidak akan cepat menyusulnya.

Intinya, lari dari kenyataan bahwa ulama dahulu banyak terjatuh kedalam kesyirikan​ kemudian takut (“) Mengkafirkan mereka dengan ayat diatas adalah sebuah kekeliruan.

Atau mungkin pengingkar udzur ada yang mau tetap nekat mengkafirkan para ulama diatas dengan klaim, bahwa tidak ada yang mengkafirkan bukan berarti tidak kafir.

لا يلزم من وجود شيء عدمه

“Tidaklah melazimkan ketiadaan sesuatu, maka sesuatu itu dianggap tidak ada”

Maka kita akan katakan kepada mereka : “selamat, anda sungguh nekat melawan arus ulama dan anda siap dengan segala konsekwensinya”. Mari silahkan kafirkan Al-Imam Hakim dll

Sebagian mereka bahkan sudah berani secara terang-terangan​ mengkafirkan dan menyesatkan siapa saja yang memberi udzur kepada pelaku kesyirikan.

Adz-Dzahabi (wafat 748H) mengatakan, “Sesungguhnya seorang ulama besar, apabila kebenarannya lebih banyak, dan diketahui bahwa dirinya adalah pencari kebenaran, luas ilmunya, tampak kecerdasannya, dikenal kepribadiannya yang shalih, wara’ dan berusaha mengikuti sunnah maka kesalahannya dimaafkan. Kita tidak boleh mencap sesat, tidak boleh meninggalkannya, dan melupakan kebaikannya. Memang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya. Kita do’akan semoga dia bertaubat dari perkara itu. [Lihat Siyar A’lam An-Nubala V/271]

Beliau menambahkan, “Kalau setiap kali seorang ulama (kaum muslimin) salah berijtihad dalam suatu permasalahan yang bisa dimaafkan kita bid’ahkan dan kita jauhi, maka tidak ada seorang pun yang selamat, apakah itu Ibnu Nashr, Ibnu Mandah, atau orang yang lebih hebat dari keduanya sekalipun. Allah yang memberi petunjuk kebenaran kepada makhlukNya, dan Dia adalah dzat Yang Maha Penyayang. Kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan perangai yang kasar” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XIV/39-40].

Beliau juga berkata, “Kalau setiap orang-orang yang salah berijtihad kita tahdzir dan kita bid’ahkan, padahal kita mengetahui bahwa dia memiliki iman yang benar dan berusaha keras mengikuti kebenaran, maka amat sedikit ulama yang selamat dari tindakan kita. Semoga Allah merahmati semuanya dengan karunia dan kemuliaanNya” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XIV/376].

Beliau menambahkan, “Kami mencintai sunnah dan para pengikutnya. Kami mencintai ulama dikarenakan sikap mereka yang berusaha mengikuti sunnah dan juga sifat-sifat terpuji yang mereka miliki. Sebaliknya, kami membenci perkara-perkara bid’ah yang dilakukan ulama yang biasanya dihasilkan dari penakwilan-penakwilan. Sesungguhnya yang menjadi parameter adalah banyaknya kebaikan yang dimiliki” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XX/46].

Ibnul Qayyim (wafat 751H) berkata, “Mengenal keutamaan, kedudukan, hak-hak dan derajat para ulama Islam, dan mengetahui bahwa keutamaan mereka, ilmu mereka miliki, dan keikhlasan yang mereka lakukan semata-mata karena Allah dan Rasulullah, tidak mengharuskan kita menerima seluruh perkataan mereka. Begitu juga, apabila ada fatwa-fatwa mereka tentang permasalahan yang belum mereka ketahui dalil-dalinya, kemudian mereka berijtihad sesuai dengan ilmu yang mereka miliki, dan ternyata salah, maka hal itu tidak mengharuskan kita membuang seluruh perkataan mereka atau mengurangi rasa hormat kita, atau bahkan mencela mereka. Dua sikap diatas menyimpang dari sikap yang adil. Sikap yang adil adalah tengah-tengah di antara kedua sikap tersebut. Kita tidak boleh menganggap seseorang selalu dalam kesalahan dan juga tidak boleh menganggapnya sebagai orang yang maksum (terbebas dari kesalahan)”

Dia menambahkan, “Barangsiapa yang memiliki ilmu tentang syari’at dan kondisi riil masyarakat, maka dia akan mengetahui secara pasti bahwa seseorang yang terhormat serta memiliki perjuangan dan usaha-usaha yang baik untuk Islam, bahkan mungkin seorang yang disegani di tengah-tengah umat Islam, bisa saja melakukan kekeliruan dan kesalahan yang bisa ditolerir, yang malah mendapatkan pahala karena telah berijtihad. Akan tetapi, kesalahan yang dilakukannya tidak boleh kita ikuti, dan dia tidak boleh dijatuhkan kehormatan dan kedudukannya dari hati kaum muslimin” [Lihat kitab I’lam Al-Muwaqqi’in III/295].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728H) berkata dalam kitab Majmu ‘Al-Fatawa III/348-349) pada halaman (XIX/191-192) , “Banyak para ulama ahli ijtihad yang Salaf maupun khalaf, mereka mengatakan sebuah perkataan atau melakukan perbuatan yang termasuk kebid’ahan sementara mereka tidak mengetahui bahwa perkara tersebut adalah bid’ah. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya karena mereka menetapkan shahih sebuah hadits padahal dha’if, atau dikarenakan pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Ada kalanya hal itu juga dikarenakan mereka ijtihad dalam sebuah masalah, padahal dalil-dalil yang menjelaskannya, namun dall-dalil tersebut belum sampai kepada mereka. Apabila tindakan mereka itu masih dalam rangka melakukan ketakwaan kepada Allah semampu mereka, maka mereka termasuk dalam firman Allah Ta’ala.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kamu tersalah” [Al-Baqarah : 286]

Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah menjawab, “Sungguh, telah Aku lakukan”.
Allahu Al Musta’an

Barokallohu fikum.

(AB).