Betulkah Tidak Ada Udzur Jahil Dalam Syirik Akbar ?

Penulis : Sultan bin Abdul Rahman al-Amiri.

Bagian 1

Duniaekspress, 23 juli 2017.

Kata Pengantar

Ada kisah seorang ulama bercerita tentang kisah nya , kisah yang yang berkaitan fenomena pemikiran Takfiri yang menimpa anak-anak muda hari ini ‘’Dulu saat aku masih di Madiinah, Riyaadl As-Sa’iid pernah menghubungiku – dan ia seorang yang ma’ruuf dan ada di Riyadh sekarang -. Ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya di sini, di Thaaif, ada lima puluh orang pemuda yang semuanya mengkafirkan Syaikh Al-Albaniy!!. Mengapa?. Karena ia tidak mengkafirkan quburiyyuun dan memberikan ‘udzur kejahilan kepada mereka !!!.

Thayyib. (Itu artinya) mereka juga harus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, dan banyak kalangan dari salaf, karena mereka memberikan ‘udzur kejahilan dan mereka mempunyai dalil-dalil, diantaranya: ‘Dan Kami tidak akan menurunkan adzab sebelum mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15). ‘Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali’ (QS. An-Nisaa’: 115). ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi’ (QS. At-Taubah : 115). Dan nash-nash lain yang menunjukkan bahwa seorang muslim tidak (langsung) dikafirkan (secara mu’ayyan) akibat kekufuran yang ia terjatuh di dalamnya. Kami berkata : jatuh dalam kekufuran, kekufuran yang ia jatuh padanya karena kejahilan misalnya. Maka kami tidak mengkafirkannya hingga kami jelaskan kepadanya hujjah dan kami tegakkan padanya hujjah. Apabila ia menentang, baru kami mengkafirkannya.

Dan pendapat ini dipegang sejumlah ulama Najd; dan sebagian mereka perkataannya berlainan. Kadang mensyaratkan penegakan hujjah (qiyaamul-hujjah), dan kadang mengatakan: ‘tidak memberikan ‘udzur kejahilan!!’. Lalu orang-orang berpegang pada perkataan yang tidak memberikan ‘udzur kejahilan; dan mengabaikan nash-nash yang jelas yang mensyaratkan adanya penegakan hujjah, dimana seorang muslim yang terjatuh dalam kekufuran tidaklah dikafirkan hingga ditegakkan padanya hujjah. Diantaranya adalah apa yang aku sebutkan kepada kalian dari (perkataan) Al-Imaan Asy-Syaafi’iy rahimahullahu dan nash-nash yang aku sebutkan kepada kalian.

Aku mengenal seorang syaikh faadlil yang tidak memberikan ‘udzur kejahilan. Dan ketika (dulu) kami tinggal di Saamithah, syaikh tersebut mengunjungi kami dan membawa pemikiran ini. Namun demikian, beliau tidak menyalakan api fitnah, tidak membantah/mendebat, dan tidak pula menyesatkan orang yang memberikan ‘udzur kejahilan.Kami dan beliau hidup bersahabat dekat selama empat puluh tahun, dan beliau telah meninggal dunia belum lama ini – semoga Allah merahmati beliau -.

Di antara pintu masuk pemahaman Khawarij modern hari ini adalah persoalan Udzhur biljahl dalam perkara syirik akbar, demikian celah masalah ini yaitu (memberikan) ‘udzur kejahilan atau tidak memberikan ‘udzur, banyak ahlul-fitnahdalam masalah ini adalah aliran Khawarij modern yang berlari-lari di sekitarnya, bahkan permasalahan ini dijadikan komoditas musuh untuk  memecahkan di kalangan Muwahidin, salafiyyiin dan Mujahidin serta menyebabkan mereka bertikai satu dengan yang lainnya. Padahal masalah ini adalah perkara ikhtilaf yang banyak di bangun ijtihad oleh para ulama, ulama-ulama Najd menjadikan celah ini untuk memerangi seluruh Madzhab di Najd dan Hijaz dengan alasan mereka adalah orang-orang murtad dan orang kafir karena telah memberikan Udzhur Biljahl kepada pelaku kemusyrikan.

Udzhur bil Jahl Adalah Perkara Ikhtilaf

Padahal Diantara ulama-ulama tauhid hari ini banyak yang tidak memberikan Udzhur Jahl dalam perkara Syirik Akbar diantaranya adalah ulama kontemporer yang sudah kita kenal karya-karyanya di antara adalah Syaikh Hamud Al-Uqla Rahimahullah, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah, Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz Fakallahu Asrah, Syaikh Nasir Al-Fath Fakallahu Asrah, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafizhahullah dan sebagian ulama mujahidin di Syabab Shumalia, dan sebagian Ulama-ulama Jihadis di pesisir pantai utara Afrika seperti di libya,Aljazair dan Tunisia, akan tetapi sekali lagi mereka tidak mengibarkan bendera Al-wala Wal Barra, menaikan panji permusuhan kepada pihak yang menyelisihinya (pihak yang memberikan Udzhur), tidak pernah kita mendengar mendengar Syaikh Al-Maqdisi mencela kepada ulama apalagi melaknat ulama yang memberikan Udzhur jahl, sesama mereka saling menghormati karena mereka paham ini adalah persoalan Ijtihadi yang banyak di bangun “gholabatuz zhan” banyak sangkaan baik perkara itu adalah perkara Ushul/pokok dan perkara Furu’/ cabang.

Akan tetapi kaum khawarij modern hari ini banyak berdusta dan banyak mengklaim bahwa ini adalah perkara Ushul yang tidak boleh menyelisihinya dan bahkan yang menyelisihinya bisa jatuh pada kekafiran, bukan hanya itu mereka juga tidak amanah dalam hal ilmu.

Udzhur bil Jahl tidak dikenal salaf dan yang Awalnya bukan perkara aqidah

Silahkan lihat dan diteliti kembali kitab-kitab klasik ulama yang membahas masalah aqidah maka kita tidak pernah melihat dan mendapatkan perkara Udzhur biljahl kedalam masalah Aqidah, Dilihat dari literatur kitab-kitab klasik yang tertua, terbukti bahwa Ibnu Hazm lah yang pertama membahas Udzhur bil Jahl, sejatinya ini adalah perkara Fiqh, Furu’iyyah dan Ijtihadiyah. Akan tetapi yang terjadi kemudian, pola ini menjadi acuan dan pijakan takfiriyun untuk membangun aqidahnya, memanipulasinya dari persoalan Fiqh ke dalam perkara Aqidah.

Masalah kebodohan terhadap perkara akidah apakah menjadi udzur atau tidak menjadi udzur merupakan permasalahan fiqih, bukan termasuk pokok-pokok masalah akidah. Permasalahan kebodohan terhadap perkara akidah apakah menjadi udzur atau tidak menjadi udzur dibahas dalam bab kemurtadan (ar-riddah) pada buku-buku fiqih. Sebab tujuan pembahasan tersebut adalah mencari kepastian apakah hujah telah tegak atau belum tegak atas diri mukallaf yang bodoh terhadap sebuah permasalahan tertentu dalam bidang akidah. Barangsiapa tidak mengetahui hukum permasalahan tersebut dan ia bukan orang yang teledor atau lalai dalam menuntut ilmu, maka ia dianggap memiliki udzur. Sebaliknya, barangsiapa tidak mengetahui hukum permasalahan tersebut karena ia teledor atau lalai dalam menuntut ilmu, maka ia dianggap tidak memiliki udzur.

Didalam Diskusi dalil juga dikatakan bahwa masalah Udzhur bil jahl adalah perkara Fiqh, sebagai mana dikatakan …Hal yang lain yang menunjukkan bahwa permasalahan ini adalah permasalahan cabang fiqih, bukan permasalahan pokok-pokok akidah adalah permasalahan ini adalah cara dan sarana untuk mengetahui nama-nama dalam agama (al-asma’, seperti nama: muslim, mukmin, fasik, musyrik, kafir, atau murtad –pent) dan hukum-hukum dalam agama (al-ahkam,seperti: terjaganya nyawa, harta dan kehormatan atau halalnya nyawa, harta, dan kehormatan; bisa mewarisi dan diwarisi atau tidak bisa mewarisi dan diwarisi; boleh menikahi dan dinikahi atau tidak boleh menikahi dan dinikahi).

Karena memvonis seorang muslim dengan vonis kafir, misalnya, karena ia melakukan sebuah kekufuran, menuntut penelitian dan pengkajian tentang kondisi muslim tersebut. Apakah ia memiliki udzur kebodohan karena ia telah berusaha mencari ilmu kebenaran namun tidak mendapatkannya, dan ia bukan orang yang teledor atau meremehkan kewajiban menuntut ilmu? Ataukah ia tidak memiliki udzur kebodohan karena ia meremehkan atau teledor dari kewajiban menuntut ilmu, padahal ia memiliki kesempatan dan kemampuan? Apakah ia memiliki udzur dipaksa yang disertai siksaan keras (al-ikrah) ataukah tidak? Apakah ia memiliki udzur salah memahami dalil (at-ta’wil) ataukah tidak? Apakah ia memiliki udzur kekeliruan dan tiadanya maksud (al-khatha’ atau intifa’ al-qasd) ataukah tidak?

Dengan demikian, permasalahan ini termasuk permasalahan sarana (al-wasail), bukan termasuk permasalahan tujuan dan pokok urusan akidah (al-maqashid dan al-ushul) sehingga orang yang berbeda pendapat tidak divonis sesat, ahli bid’ah, fasik atau kafir. (Masalatul Udzri bil Jahli fi Masailil I’tiqad Dirasah Nazhariyah Ta’shiliyah, hlm. 22-23)

Dengan demikian, permasalahan ini juga termasuk perkara ijtihadiyah, karena permasalahan meremekan atau tidak meremehkan, teledor atau tidak teledor, tidaklah memiliki batasan yang tegas dan baku untuk setiap individu mukallaf. Ia bisa berbeda-beda sesuai perbedaan individu, tempat, dan zaman, sehingga pendapat para ulama pun bisa berbeda-beda dalam menentukannya. (Lihat Naqdhu Asas At-Taqdis hlm. 5 dan Bughyatul Murtaad hlm. 311, keduanya karya Ibnu Taimiyah Al-Harrani dan Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain, hlm. 611-612 karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Oleh karenanya, syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan syaikh Athiyatullah Al-Libi menegaskan bahwa masalah ini termasuk permasalahan fiqih. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata,

“Perbedaan pendapat dalam masalah udzur dengan kebodohan adalah seperti perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah fiqih ijtihadiyah lainnya. Dan terkadang perbedaan tersebut hanya berupa perbedaan lafal dalam sebagian kesempatan guna menerapkan hukum atas seorang individu tertentu. Maksudnya, semua pihak sepakat bahwa perkataan (keyakinan) ini adalah kekafiran, atau perbuatan ini adalah kekafiran, atau meninggalkan perkara ini adalah kekafiran. Namun apakah hukum (vonis kafir) ini telah sesuai untuk seorang individu tertentu karena telah terpenuhinya faktor penentu (terpenuhinya syarat pengkafiran –pent) pada dirinya dan tiadanya penghalang pada dirinya; ataukah hukum tersebut tidak sesuai sesuai untuk seorang individu tertentu tersebut karena belum terpenuhinya beberapa faktor penentu (terpenuhinya syarat pengkafiran –pent) pada dirinya atau adanya beberapa penghalang pada dirinya?” (Syarhu Kasyfi Syubuhat, hlm. 37 karya syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Saat membahas beberapa catatan penting seputar permasalahan udzur dengan kebodohan, syaikh Athiyatullah Al-Libi berkata, “Pertama, ketahuilah bahwa masalah ini termasuk masalah ijtihad yang caranya adalah istinbath (penyimpulan hukum) dan cara mengetahuinya adalah penggalian makna dalil, karena ia bukanlah masalah yang telah disebutkan dalilnya secara nash dalam syariat.Wallahu a’lam.

Perkataan kami bahwa permasalahan ini tidak disebutkan dalilnya secara nash dalam syariat bermakna tidak ada nash terhadap masalah ini secara umum dan sebagai sebuah kaedah, misalnya. Hal ini tidak menegasikan bahwa di dalam nash-nash firman Allah dan sabda Rasulullah SAW terdapat hal yang menunjukkan udzur bagi seseorang tertentu pada suatu keadaan tertentu atau keadaan-keadaan lain. Kemudian nash-nash tersebut yang memuat penunjukan-penunjukan tersebut dipakai dan dijadikan dalil oleh para ulama fiqih, dan dalam mengambil kesimpulan hukum (istinbath) dari keseluruhan (penujukan-penunjukan nash tersebut) terjadilah perbedaan pendapat.

Kedua, oleh karena itu berbeda-berbeda pemahaman para ulama dan beragam ijtihad mereka, dan dalam masalah tersebut muncul pendapat-pendapat ulama yang berbeda-beda yang insya Allah akan kami isyaratkan, seperti halnya masalah-masalah ijtihad dan perbedaan pendapat lainnya.

Kelima, Ketahuilah bahwa masalah ini termasuk masalah fiqih (dengan pengertiannya secara istilah yaitu mengetahui hukum-hukum syariat dalam perkara-perkara ‘amaliyah yang disimpulkan dari dalil-dalil yang terperinci). Hal itu karena masalah ini adalah ‘amaliyah dan cara mengetahuinya adalah dengan menggali penunjukan dalil (istidlal) dan menggali kesimpulan hukum (istinbath) seperti yang tadi kami sebutkan.”

Ia berupa fatwa atau keputusan hakim, dan menurut para ulama masalah ini masuk dalam masalah kemurtadan (ar-ridah), yaitu sebuah bab dalam ilmu fikih. Hal ini tidak berarti masalah ini tidak disebutkan dalam pembahasan ilmu akidah dan tauhid, karena tidak samar lagi bahwa masalah ini memiliki kaitan yang erat dengan akidah dan tauhid. Hal ini termasuk bagian dari masuknya satu permasalahan ke dalam beberapa cabang ilmu. Selain itu, setiap hukum syar’i ‘amali memiliki kaitan dengan akidah, yaitu meyakini hukum tersebut. Namun masalah ini lebih spesifik dengan bab fiqih seperti telah saya sebutkan. Baik anda menganggapnya sebagai bagian dari ilmu ini (fiqih) atau ilmu itu (akidah dan tauhid), ia tetap saja termasuk masalah ijtihad.” (Fatwa syaikh Athiyatullah Al-Libi, dimuat dalam situs ana al-muslim). (AB).

Bersambung…