Duniaekspress, 26 juli 2017.

Selama 2 minggu ini banyak kejadian-kejadian yang menyita perhatian, baik kancah internasional maupun kancah nasional. Di luar negeri kita melihat bagaimana IS/ISIS di Irak mengalami kemunduran berupa jatuhnya Mosul ke tangan pasukan koalisi kekafiran AS dan Irak dan juga takluknya beberapa wilayah kekhalifahan sepihak tersebut ke musuh-musuhnya. Disamping itu tewasnya amir mereka menyebabkan munculnya benih-benih perpecahan yang dimulai dengan pertanyaan: “siapa yang paling berhak menggantikan Abu Bakar Al-Baghdadi”. Dalam keadaan limbung muncul tindakan-tindakan yang tidak terkontrol, mulai dari berita-berita dusta dan hoax seperti ISIS “masih kuat”, fitnah pengeboman masjid An-Nuri di Mosul yang menyalahkan pasukan AS (padahal karena malu kalau lambang tempat deklarasi kekhalifahan tersebut direbut musuh), sampai tindakan brutal seperti pemboman madrasah anak-anak HTS di Idlib.

Tindakan-tindakan zalim ini dilakukan karena tidak mampu membalas atau mengimbangi kekalahan yang diderita melalui cara-cara yang legal atau wajar. Tidak jauh berbeda dengan kejadian lokal, ketika seorang Hermansyah yang dianggap “mengganggu” bagi sebagian orang kemudian dibalas dengan cara zalim, ketika sebuah kelompok dianggap “mengganjal kepentingan” dihapus dengan cara “legalitas yang dipaksakan” melalui perppu. ISIS melakukan hal tersebut untuk menunjukkan eksistensinya, demikian pula kelompok orang bahkan rezim sering melakukan kezaliman untuk menunjukkan eksistensinya. Lalu apakah kita selaku pembawa penegakan syariat melalui jalan jihad fii sabilillaah hendak melakukan hal yang serupa??

Alloh Subhaana wata’ala memerintahkan kita, bahkan jika kita dizalimi pilihannya adalah bersabar dengan memaafkan, ini yang paling mulia, yang kedua adalah membalas dengan cara yang sama. Tapi jika kita membalas dengan cara yang lebih zalim atau jahat maka Alloh membenci hal ini, dan Alloh benci orang-orang yang zalim. Apalagi jika kita dikalahkan dengan cara yang “normal, legal dan wajar”, lalu kita membalas dengan kezaliman maka hal ini adalah perbuatan jahat dan kerusakan di muka bumi.

Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Syura: 40)

Sebagian kita bahkan menganggap bentuk kezaliman seperti menyebarkan hoax, dusta, dan menjadi buzzer dalam masalah itu sebagai suatu yang wajar dan boleh dalam memperjuangkan keyakinan kita…. ini yang patut kita renung ulang dan kaji apakah hal tersebut sesuai dengan langkah-langkah yang dijalankan Rosul yang mulia…

(team redaksi)