Duniaekspress, 31 juli 2017. Polisi di Filipina bagian selatan menembak mati 15 orang tersangka narkoba pada hari Minggu (30/7) dini hari, dalam serangan yang digambarkan kantor berita Associated Press (AP) paling berdarah sepanjang operasi anti narkoba di bawah perintah Presiden Rodrigo Duterte.

Termasuk diantara korban tewas adalah Walikota Ozamiz, Reynaldo Parojinog Sr, serta tiga anggota keluarganya yakni istrinya Susan Parojinog, saudara laki-lakinya Octavio Jr, dan saudara perempuannya Mona.

“Ini adalah target bernilai tinggi dalam penindakan obat-obatan terlarang,” kata Jovie Espenido, Kepala Kepolisian Ozamiz yang memimpin penggerebekan di rumah kediaman Walikota Reynaldo Parojinog.

Kepada wartawan, seperti dikutip AP, Espenido menuturkan, semula polisi akan menyerahkan surat izin pengadilan kepada Reynaldo Parojinog Sr. untuk menggeledah rumah-rumah miliknya dalam rangka mencari senjata api yang tidak mempunyai izin.

Tiba-tiba, kata Espenido, sekelompok orang bersenjata yang merupakan pengawal pribadi Parojinog menembaki mobil polisi dan melukai seorang polisi. Selanjutnya terjadi tembak-menembak di tengah pemadaman listrik yang menewaskan walikota tersebut dan 14 orang lainnya.

“Kami menegakkan hukum untuk melindungi rakyat yang menghendaki kedamaian di negara ini,” kata Espenido. “Bagaimana kami menegakkan hukum kalau kami takut terhadap bandar narkoba? Ini tidak boleh, mereka yang harus takut terhadap orang yang melakukan kebaikan bagi semua orang.”

Polisi menangkap sedikitnya lima orang, termasuk putri Parojinog, dalam penggrebekan di kota pelabuhan itu. Beberapa pucuk senjata dan narkoba jenis methamphetamine yang belum diketahui berapa jumlahnya juga disita dari rumah walikota yang tewas tersebut.

Presiden Filipina duterte

 

Walikota Ketiga

Presiden Filipina Duterte telah bersumpah melancarkan perang terhadap perdagangan obat terlarang, walau menerima kritik dari berbagai kelangan khususnya dari kelompok hak asasi manusia.

Dalam sejumlah jumpa pers dan kegiatan publik, Duterte menunjukkan sebuah buku tebal yang menurutnya berisi nama-nama pejabat yang diduga terkait dengan perdagangan obat terlarang. Buku itu berisi sekitar 3.000 nama.

Walikota Ozamiz Parojinog adalah walikota ketiga di Filipina yang tewas dalam operasi penindakan peredaran narkoba. Dua walikota lainnya, yang masuk dalam daftar politisi yang oleh Duterte dikaitkan dengan peredaran obat-obatan terlarang, tewas terbunuh pada tahun lalu.

Pada bulan November, Rolando Espinosa Sr, walikota Albuera, di Leyte Filipina bagian tengah, tewas dalam baku tembak di malam hari di sel tahanannya di sebuah penjara provinsi.

Duterte membela petugas yang terlibat dalam penggerebekan tersebut dan memerintahkan pengukuhan mereka kembali. Sejumlah kritikus menyebut keputusan Duterte itu akan memperburuk “budaya impunitas” negara Filipina.

Sebelumnya pada bulan Oktober, Samsudin Dimaukom, walikota kota Ampatuan di selatan Mindanao, tewas beserta sembilan orang lainnya dalam baku tembak di sebuah pos pemeriksaan polisi di Cotabatu, karena dicurigai mengangkut obat-obatan terlarang.

Polisi mengatakan, mereka membunuh para tersangka sebagai upaya bela diri. (AB).