Duniaekspress, 1 Agustus 2017. Abu Mahmud al-Filishtini, salah seorang ideolog jihad yang terlibat aktif dalam insurgensi di Suriah menekankan agar para komandan jihad memahami persoalan fikih muwazanah dengan baik. Karena menurutnya, hal itulah yang bisa mengantarkan mereka berhasil mewujudkan revolusi islami sebagaimana yang mereka kehendaki.

Ia menyatakan dalam artikelnya—sebagaimana yang dimuat oleh Jihadologi, “Ada beberapa jenis persoalan fikih yang semestinya menjadi perhatian, dipahami, dan diaplikasikan oleh para komandan gerakan jihad supaya terwujud reformasi (islami) yang diinginkan, yaitu: fikih muwazanah, fikih maqashid, fikih aulawiyyat (prioritas), fikih sunnah kauniyyah (sebab-akibat), dan fikih ikhtilaf (perbedaan pendapat).” Sedangkan, “Fikih muwazanah dapat dianggap sebagai fikih paling penting bagi gerakan jihad,” tegasnya.

Hal ini menurutnya karena mereka (para komandan jihad) akan berinteraksi dengan realita, merespon berbagai perubahan situasi kondisi, dan memahami pergeseran-pergesaran yang terjadi agar pilihan pendapat yang diambilnya memberi maslahat bagi umat.

 

baca juga, NASEHAT PIMPINAN HTS ABU JABIR UNTUK MUJAHIDIN YANG BERPERANG

Ia menyarankan agar para komandan jihad memilih pendapat yang terbaik dan mempertimbangkan (dengan cermat dan tepat) antara maslahat dan mafsadat. Ia menambahkan bahwa dasar-dasar pijakan fikih muwazanah sebenarnya terdapat dalam teks al-Quran dan Sunnah. Selain itu, para ulama klasik pun sudah banyak yang menyinggungnya dalam tulisan-tulisan mereka.

Ia juga menegaskan bahwa fikih muwazanah sangat penting bagi gerakan Islam secara umum; terkhusus gerakan jihad. Karena gerakan-gerakan tersebut—baik Islamis maupun jihadi—melalui fase yang berbeda-beda; setiap fase masing-masing memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki fase-fase sebelumnya. Sesuatu yang cocok dilakukan pada suatu fase terkadang sudah tidak cocok lagi dikerjakan pada fase lainnya, dan sesuatu yang tepat diterapkan pada suatu wilayah terkadang belum tentu tepat untuk diaplikasikan pada wilayah yang lain.

Prinsip memecahkannya memang sama, namun sikap-sikap yang diambil dan metode-metode yang ditempuh bisa saja berubah dan berlainan.

Metode lainnya yang digunakan oleh manusia pada umumnya—juga oleh beberapa gerakan jihad—untuk merespon perubahan yaitu dengan fikih muqaranah (perbandingan, atau fikih statistik).

Fikih muqaranah menurut Abu Mahmud adalah yaitu fikih yang disandarkan pada operasi matematika berdasarkan data-data lapangan yang rinci melalui metode statistik yang hasilnya biasa dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan atas persoalan yang terjadi.

Metode ini berdasarkan pada pertimbangan sebab-akibat dan pemahaman terhadap realita yang berdasarkan statistik yang detail. Atau, fikih muqaranah hanya sekedar membandingkan, tanpa mau melihat manakah di antara pilihan-pilihan tersebut yang bisa mendatangkan maslahat yang lebih besar, atau mafsadat yang lebih ringan.

Mujahidin suriyah

Baginya, jika digunakan secara benar—yang didampingi fikih muwazanah—fikih muqaranah seperti itu memang bernilai positif dan bisa melahirkan keputusan yang tepat atas persoalan-persoalan yang terjadi. Namun metode ini akan bermasalah jika dijadikan metode satu-satunya dalam memcahkan atau memutuskan suatu persoalan.

Sumber: https://azelin.files.wordpress.com

(AB).