Duniaekspress, 3 agustus 2017. Secara organisasi, Daulah Islamiyah (ISIS) dan Al Qaidah memiliki perbedaan mencolok. Hal itu terlihat dari strategi yang diterapkan dalam organisasi mereka.

Perbedaan mencolok dalam strategi ISIS dan Al Qaidah diungkapkan oleh peneliti Institute For Peace and Scurity Studies (IPSS), Sri Yunanto. “ISIS lebih ingin menguasai Irak, karenanya menggunakan seluruh SDM yang ada untuk didatangkan ke Irak,” ungkapnya seusai acara bedah buku Ancaman Dan Strategi Penanggulangan Terorisme Di Dunia Dan Indonesia, di Kampus Universitas Indonesia, Depok.

Menurut Yunanto, upaya ISIS itu terlihat dengan adanya sekira 30.000 relawan yang masuk ke wilayah Irak. Karenanya, dia berkesimpulan bahwa organisasi yang semula bernama Daulah Islam Irak dan Syam itu bermaksud menguasai negara itu.

Strategi berbeda diterapkan Al Qaidah. Organisasi yang kini dipimpin oleh Syaikh Aiman Adz Dzawahiri itu membuat cabang organisasi di mana terdapat sumber daya manusia mereka. Dengan demikian, Yunanto menilai, Al Qaeda memiliki banyak cabang di seluruh dunia.

“Al Qaidah menyebar, dan memperkuatkan fondasi-fondasi mereka di berbagai tempat.  Sedangkan ISIS hanyalah menguasai secara riil saja, dan ingin menghancurkan dan menguasai Irak sebagai negara,” terang Yunanto.

“Al Qaidah menyebarkannya secara divergen (menyebar, red.), tapi kalau ISIS menyedot seluruh SDM ke Irak,” pungkasnya.

(AB/duniaekspress/kiblat).

baca juga, Apakah manhaj Al Qaidah begitu sulit dan rumitnya, sehingga bahkan para ulama muslim tidak bisa memahaminya?