Duniaekspress, 2 agustus 2017. Abu Jabir (juga dikenal dengan Hasyim Asy-Syaikh) mulai terkenal di Suriah pada September 2014. Beliau dikenal saat dinobatkan sebagai amir (pemimpin) baru Ahrar Syam. Ia mengemban jabatan tersebut selama setahun sebelum mengundurkan diri secara sukarela pada 2015. Ia diminta untuk mengisi posisi tersebut setelah orang nomor satu di kelompok tersebut, Hassan Abbud, terbunuh bersama rekan-rekannya dalam sebuah ledakan misterius.

Abbud merupakan murid dari seorang petinggi Al-Qaidah terkenal yaitu Abu Khalid As-Suri. Abu Khalid As-Suri adalah seorang tokoh populer di kalangan jihadi dan islamis di Suriah. Ketika Abbud dan banyak penasihat terdekatnya di Ahrar Syam terbunuh, Abu Jabir tiba-tiba menerima warisan tongkat kepemimpinan dari sebuah organisasi yang sangat lemah, paling tidak pada level pimpinan.

Ahrar Syam merilis biografi singkat Abu Jabir pada 10 September 2014. Ia merupakan warga asli Suriah yang lahir di Maskana, Aleppo, dan akhirnya meraih gelar bachelor di bidang teknik mesin di Universitas Aleppo. Selama beberapa waktu, Abu Jabir bekerja sebagai ahli di Pabrik Pertahanan. Namun ia ditangkap beberapa kali lantaran pemikiran keagamaannya, yang kemungkinan lebih dekat dengan ideologi Salafi-Jihadi.

Rezim Basyar Assad menangkap Abu Jabir pada 2005 dan menempatkannya di penjara Sadnaya, yang terkenal dengan penyiksaanyna tersebut. Ia ditahan bersama beberapa jihadi lain yang akhirnya dibebaskan, lalu kemudian membantu memimpin perlawanan terhadap rezim Suriah. Abu Jabir dibebaskan dari penjara Sednaya pada 25 September 2011, dan kemudian bergabung dan para jihadi melawan rezim Assad di pedesaan Aleppa bagian utara dan barat.

Abu Jabir awalnya berperang melawan rezim bersama Harakah Fajrul Islam, dan kemudian memimpin kelompok lain yang berasal dari wilayahnya dalam batalion Mushab bin Umair. Kelompok Abu Jabir pernah berjuang bersama grup yang dikenal dengan Jabhah Nushrah, cabang resmi Al-Qaidah di Suriah.

Kelompok Abu Jabir kemudian melebur ke Ahrar Syam dan aliansi yang berkoalisi bersamanya, yaitu Jabhah Islamiyyah. Ia akhirnya di tunjuk sebagai anggota elit dewan Syura Ahrar Syam, sekaligus sebagai pimpinan di wilayah timur Aleppo.

aksi mujahidin HTS di medan perarang

Mungkin ada beberapa rincian menarik yang terlewatkan oleh Ahrar Syam dalam rilis biografi Abu Jabir pada September 2014 lalu. Tidak lama setelah ia diangkat sebagai pemimpin Haiah Tahrir Syam (HTS) pada akhir Januari, jihadi mengedarkan beberapa berkas singkat lain tentang dirinya, yaitu sebuah dokumen yang mirip dengan yang sebelumnya dipublikasikan Ad-Durar Asy-Syamiyyah secara online. Publikasi itu menerangkan versi riwayat hidup Abu Jabir yang pada dasarnya sama dengan dirilis Ahrar Syam, namun dengan dua tambahan penting.

Pertamamenurut biografi alternatif tersebut, Abu Jabir pernah bergabung dalam jihad Irak pada masa memanasnya peperangan. Ia dilaporkan membantu memfasilitasi para pejuang melewati Suriah untuk menuju Irak. Jika informasi itu akurat, ini berarti bahwa Abu Jabir merupakan fasilitator untuk Al-Qaidah Irak (AQI).

Sebagaimana diketahui bahwa rezim Basyar Assad telah menjadi ‘tuan rumah’ bagi saluran utama AQI yang mengirimkan para jihadi untuk memasuki Irak guna memerangi Amerika. Abu Jabir dipenjarakan rezim Assad sejak 2005 hingga 2011, namun hal ini tidak menghalangi adanya kemungkinan bahwa ia tetap bekerja untuk jaringan AQI. Karena badan keamanan Assad secara berkala memang memenjarakan jihadi untuk mempertahankan kontrol atas operasi. Meski rezim Basyar Assad memenjarakan beberapa jihadi Sunni, namun rezim itu—demi kepentingannya—membiarkan jihadi lainnya untuk melakukan operasi dengan relatif tanpa mendapat hukuman apa pun.

Kedua, dijelaskan bahwa Abu Jabir diangkat sebagai kepala operasi Ahrar Syam di timur Aleppo setelah terbunuhnya Abu Khalid As-Suri pada Februari 2014. Jika ini benar, berarti ini merupakan rincian lain yang sangat penting. Abu Khalid As-Suri merupakan salah satu tokoh senior terkenal di Ahrar Syam. Selain ia juga merupakan penasihat yang sangat dipercayai Aiman Zawahiri di Suriah. Jika Abu Jabir menjadi pengganti Abu Khalid As-Suri sebagai kepala operasi di timur Aleppo, maka itu mengindikasikan bahwa beberapa petingga lain di Ahrar Syam telah mempersiapkannya menempati level yang tinggi.

Pada April 2015, Al-Jazeera menyiarkan sebuah wawancara panjang dengan Abu Jabir. Ia mengkomplain tentang peran Jabhan Nushrah (JN) sebagai cabang Al-Qaidah. Abu Jabir beralasan bahwa ikatan JN dengan Al-Qaidah telah melukai revolusi Suriah. Beberapa pimpinan Ahrar Syam lainnya juga mengutarakan alasam serupa, bahwa kehadiran Al-Qaidah secara terang-terangan di tengah-tengah kelompok oposisi akan menghambat upaya untuk menggulingkan Assad.

Hal itu karena bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan dari kemunitas internasional. Para pimpinan Ahrar Syam tersebut mungkin menyadari bahwa negara-negara yang menentang Assad tidak akan memberikan bantuan sebanyak yang mereka bisa lakukan selama Al-Qaidah masih diakui sebagai pemain kuat di medan perang.

Kritik Abu Jabir ini bukanlah bentuk pengingkarannya terhadap Al-Qaidah, namun sebuah observasi yang rasional.

Memang, beberapa pimpinan senior Al-Qaidah sendiri pada awalnya mencoba untuk menyembunyikan afiliasi mereka dengan Jabhan Nushrah (JN) justru karena alasan ini. Al-Qaidah ingin menghindari perhatian yang tidak diinginkan disebabkan nama cabang Al-Qaidah, seperti hambatan untuk membangun pasukan paramiliternya dan fokus untuk menumbangkan Assad.

Sebagai hasil dari persengketaan terbuka dengan Islamic State (IS) Abu Bakar Al-Baghdadi pada April 2013, dengan terpaksa, pemimpin JN Abu Muhammad Al-Julani harus menyatakan kesetiaannya kepada Aiman Zawahiri. Pemimpin Al-Qaidah mengkritik keputusan Al-Julani tersebut dengan menyebutkan bahwa Al-Qaidah tidak pernah memberi izin padanya untuk mengumumkan kesetiannya atau menampakkan koneksinya.

Al-Qaidah bahkan telah menanam operator veterannya dalam jajaran petinggi Ahrar Syam dengan tujuan untuk membimbing ‘arah’ kelompok tersebut. Tokoh seperti Abu Khalid As-Suri, Abu Hafs al-Mashri, dan Abu Hani al-Mashri tercatat dengan baik sebagai pewaris ideologi Al-Qaidah yang tidak diumumkan ke pablik, bahkan saat mereka membantu memimpin operasi-operasi Ahrar Syam.

Selama beberapa tahun, Ahrar Syam dan Jabhah Nushrah (kemudian mengubah nama menjadi Jabhah Fathu Syam (JFS) setelah menyatakan putusnya hubungan mereka dengan al-Qaidah) telah mendapat mitra dekat. Dua faksi tersebut bersama-sama ikut terlibat dalam beberapa kali koalisi selama 2015. Termasuk pada era kepemimpinan Abu Jabir sebagai amir Ahrar Syam.

Koalisi paling sukses mereka adalah Jaisyul Fath (Tentara Pembebasan) yang menggempur milisi Assad di Idlib pada awal 2015. Pada Mei tahun itu, yaitu saat Abu Jabir masih memimpin Ahrar Syam, mereka juga bersama-sama membentuk Anshar Syariah di Aleppo. Namun, aliansi militer ini–lantaran sebab-sebab tertentu–tidak lama kemudian menjadi tidak berfungsi. Aliansi tersebut merupakan upaya untuk menyatukan berbagai jihadi, islamis, dan faksi-faksi lainnya.

Abu Jabir juga menyatakan belasungkawa saat beberapa tokoh jihadi syahid dalam kicauan twitternya, termasuk syahidnya beberapa anggota Jabhah Nushrah (JN). Dalam tweet pada 26 Februari 2015 misalnya, ia berdoa kepada Allah agar ‘menerima amal saudara-saudara kami di Jabhah Nushrah’ terkait tiga anggotanya yang syahid, yang salah satunya termasuk amir JN di Gurun Suriah.

baca juga, NASEHAT PIMPINAN HTS ABU JABIR UNTUK MUJAHIDIN YANG BERPERANG

Pada awal Januari 2016, Abu Jabir juga menyampaikan penghormatannya terhadap seorang komandan Ahrar  Syam yang dikenal dengan Abu Ratib Al-Homsi, yang diidentifikasi oleh JN dalam belasungkawanya sebagai jihadi yang pernah berjihad di Afghanistan.

Selama Abu Jabir menjabat sebagai amir Ahrar Syam, kelompok tersebut juga secara terbuka memuji Taliban dan pemimpinnya Mullah Umar–rahimahullah–yang telah menunjukkan kepada jihadis ‘bagaimana membangun sebuah imarah (pemerintahan) Islam di dalam hati masyarakat sebelum mewujudkannya secara riil di lapangan.

baca juga, HAI’AH TAHRIR AS-SYAM MELARANG TAKFIR TANPA FATWA