Fahmi Salim, Lc, MA, Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengatakan, MUI sebetulnya sudah mengeluarkan fatwa terkait ajaran Syiah.

“Buku Panduan MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah sudah menjelaskan rincian sikap dan respon terhadap ajaran Syiah yang berkembang di Indonesia,” ungkap Fahmi.

Misalnya, kata Fahmi, pada bab VI buku tersebut memaparkan fatwa nomor 84 tentang perbedaan ajaran Ahlus Sunnah dan Syiah yang patut diwaspadai umat.

Selanjutnya, pemaparan fatwa nomor 97 tentang haramnya kawin mut’ah.

“Ini menegaskan bahwa mayoritas Muslim Indonesia berpaham Aswaja yang menolak dan tidak mengakui paham Syiah secara umum dan ajarannya tentang kawin mut’ah secara khusus,” terang Fahmi.

Kata Fahmi, MUI juga mengeluarkan beberapa fatwa lainnya. Seperti fatwa tahun 2006 tentang penegasan paham Sunni yang benar dan diakui di Indonesia, fatwa tahun 2007 tentang pedoman penetapan kriteria aliran sesat, serta fatwa MUI Jawa Timur tahun 2012 bahwa Syiah imamiyah 12 atau samarannya mazhab ahlul bait sesat menyesatkan.

Menurut Fahmi, itu semua satu kesatuan produk fatwa MUI terkait kesesatan paham Syiah atau paham akidah.

“Fatwa MUI pusat dan daerah tidak saling membatalkan, sepanjang dibenarkan melalui prosedur yang berlaku dalam fatwa,” kata Fahmi.*

Adapun teks fatwa itu, maka sekarang kami akan bawakan berikut ini:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :

1)     Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.

2)    Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3)    Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4)    Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.

5)    Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib)

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah
[Sumber Fatwa : Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (hal. 95), diterbitkan oleh Bagian Proyek Sarana dan Prasarana Produk Halal Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Departemen Agama RI, 2003 M].

(AB)

baca juga, Syiah ajaran sesat, musuhi Ahli Sunnah, apa perlu kerjasama?