Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Duniaekspress, 6 agustus 2017.

pertanyaan : Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qodamah juga mengudzur jahl pelaku syirik akbar ?

JAwaban : Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Syukur alhamdulillah, kita panjatkan kehadirat Allah subhanawata’ala, dan sholawat serta salam kepada jungjungan kita Muhammad shalallahu’alaihi wasalam.

mengenai udzur jahl(bodoh/belum tahu) dalam persoalan mawani’ takfir, ada berbagai ikhtilaf diantara ulama-ulama ahli sunnah, namun sebagaimana apa yang ditanyakan, tentang bagaimana syaikh islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qodamah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, menguzur jahl dalam masalah takfir.

Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, lihat al-Qaul al-Mufid [1/126]

Syaikh muhammad bin abdul wahhab rahimahullah berkata saat mengomentari hadits Dzaatu Anwaath:
ولكن هذه القصة تفيد أن المسلم بل العالم قد يقع في أنواع من الشرك لا يدري عنها، فتفيد التعلم والتحرز، ومعرفة أن قول الجاهل (التوحيد فهمناه) أن هذا من أكبر الجهل ومكائد الشيطان.
وتفيد أيضا أن المسلم المجتهد إذا تكلم بكلام كفر وهو لا يدري. فنبه على ذلك فتاب من ساعته، أنه لا يكفر كما فعل بنو إسرائيل والذين سألوا النبي صلى الله عليه وسلم.
وتفيد أيضا أنه لو لم يكفر فإنه يغلظ عليه الكلام تغليظا شديدا، كما فعل رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Akan tetapi kisah ini juga menunjukkan bahwa seorang muslim, bahkan seorang yang ‘aalim, kadang-kadang terjatuh dalam perbuatan syirik tanpa disadarinya. Jadi kisah ini memberikan pelajaran dan sikap waspada, juga memberikan pengertian, bahwasannya perkataan orang yang jaahil : ‘Kami telah memahami tauhid’ – merupakan kejahilan yang besar dan tipuan dari setan. Kisah ini juga memberikan faedah bahwasannya seorang muslim mujtahid apabila mengucapkan perkataan kufur tanda disadarinya, lalu ia diperingatkan dan kemudian ia bertaubat darinya pada waktu itu, tidak dikafirkan sebagaimana yang dilakukan Bani Israaiil dan sebagian shahabat yang meminta Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Faedah lain, meskipun tidak dikafirkan, ia mestu diperingatkan dengan perkataan yang keras sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Kasyfusy-Syubuhaat, hal. 175].
Perkataan beliau rahimahullah di atas memberikan faedah bahwa orang yang terjatuh dalam kesyirikan tanpa diketahuinya (karena jahil) tidak langsung dikafirkan tanpa adanya peringatan dan penjelasan.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Itsbat Shifat Al-‘Uluw [إثبات صفة العلو] pernah menukil perkataan Imam Syafi’i Rahimahullah dalam masalahTakfir ini. Beliau mengatakan:“kalau dia menyelisihi akidah setelah mengetahui bahwa itu adalah perkara yang bathil yang membuatnya murtad dari Islam, maka ia telah kafir.Akan tetapi jika ia tidak mengetahui, ia dimaafkan karena ketidaktahuannya”(Itsbat Shifat Al-‘Uluw 1240)
Begitu juga seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah, bahwa seseorang yang belum mendapatkan ilmu/pengetahuan bahwa sesuatu itu adalah perkara yang syirik, maka ia tidak bisa disebut sebagai Kafir, kecuali telah mnegetahuinya.(Al-Istiqomah 1/164).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَداً مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ، وَمَنْ ثَبَتَ إِسْلَامُهُ بِيَقِيْنٍ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ، بَلْ لَا يَزُوْلُ إِلَّا بَعْدَ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَاِزَالَةِ الشُّبْهَةِ”

Tidak ada seorangpun berhak mengkafirkan seorang Muslim lainnya, walaupun dia telah melakukan kekeliruan atau kesalahan, sampai ditegakkan hujjah (argumuen) terhadapnya dan dijelaskan jalan yang benar kepadanya. Orang yang telah berstatus Muslim dengan pasti, maka statusnya itu tidak akan lepas hanya dengan sebab sesuatu yang masih diragukan, bahkan status keislamannya itu tetap melekat padanya sampai hujjah berhasil ditegakkan dan syubhat (kesamaran) telah berhasil dihilangkan”. [Majmû’ Fatâwa, 12/465-466].

Wallahu’alam bishawab.

oleh : Abdullah al-bantany

(AB).

baca juga, APAKAH PEMIKIRAN JIHADI IDENTIK DENGAN FAHAM TAKFIRI ?