Duniaekspress, 8 Agustus 2017,

Joya alias Muhammad AlZahra dibakar masa hidup-hidup setelah dirinya dituding sebagai maling karena membawa amplifier mushola Al-Hidayah Desa Huripjaya Babelan, Kabupaten Bekasi pada 1 Agustus 2017 yang lalu. Pria 30 tahun tukang servis speaker dan memiliki istri yang sedang hamil serta anak 4 tahun tersebut membawa motor dan berpapasan dengan Rojali, keponakan Zainul, marbot mushola. Karena kabur, Joya yang diteriaki maling langsung dikejar masa dan tertangkap di Pasar Muara Bekasi, ia lalu dihakimi masa yang jumlahnya sangat banyak.

Tubuh Joya setelah dihakimi masa

Berita yang beredar secara viral dari kejadian tersebut adalah bahwa seorang tukang servis elektronik yang mereparasi amplifier musholla dihakimi masa dan dibakar hidup-hidup karena dikira maling amplifier mushola. Benda berupa amplifier musholla ditemukan bersama pelaku.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito menjelaskan bahwa Joya memang pelaku pencurian, sayangnya berita yang viral beredar digiring opini bahwa korban bukan pencuri bahkan pengurus mushola jadi bulanan para netizen.  Penggiringan opini tersebut bermula dari postingan di sebuah media sosial facebook pria berinisial B. Remaja tersebut mengunggah status berisikan identitas MA yang merupakan tetangganya.

Tetapi postingan tersebut sangat subjektif, tidak berdasarkan fakta di lapangan. Akibatnya, postingan itu menyebar luas di dunia maya. Warga internet kemudian mempercayai bahwa MA bukan maling, tapi korban salah sasaran.

“Orang yang pertama kali mengunggah sudah kami periksa, dia sudah meminta maaf, dia membuat status tersebut berdasarkan cerita tetangga,” kata Rizal. “Kami masih fokus pada kasus pengeroyokannya, nanti diselidiki secara bertahap. Untuk sementara belum ada unsur pidana,” katanya. Warga yang menghakimi Joya bahkan mengira bahwa pelaku adalah maling motor yang kerap hilang di wilayah tersebut.

Tidak berapa lama waktu yang lalu, yaitu tanggal 22 Juli 2017 seorang bobotoh (suporter klub bola Persib Bandung) tewas dihakimi masa di Stadion GBLA Bandung. Korban yang bernama Ricko Andrean Maulana (22) dikira suporter the Jak (Persija Jakarta), karena saat membeli makanan di tribun Utara Ricko melepas baju viking nya. Sedangkan saat itu ada kejadian seorang suporter the jak yang sedang dikejar masa  lalu berlindung di balik badan Ricko. Karena dikira suporter the Jak Ricko dipukuli sampai tewas padahal yang bersangkutan sempat teriak-teriak bahwa dirinya warga Bandung.

Dari semua peristiwa yang hangat di atas kita dapat tarik kesimpulan betapa mudahnya umat Islam terprovokasi dari berita-berita atau kabar yang didengar atau dilihat tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu. Setelah akhirnya mengetahui kebenarannya hanya bisa menyesal dan minta maaf, padahal nasi telah jadi bubur. Betapa banyak kabar-kabar hoax yang tersebar di dunia maya yang kita bahkan ikut menyebarluaskannya (sebagai buzzer) tidak peduli akan dampak yang diakibatkan dari memviralkan fitnah tersebut bahkan kita bisa menanggung dosa dari perbuatan orang lain yang terprovokasi oleh kita. Kebiasaan tabayyun seharusnya membudaya di kalangan umat Islam. Sebuah sikap yang diperintahkan syariat apalagi di zaman fitnah seperti sekarang ini.

(AZ)

HOME