JIHAD BUKAN HANYA KEKUATAN FISIK TAPI JUGA BUTUH KEAHLIAN DALAM SEGALA BIDANG

Oleh: Syaikh Abdullah azzam rahimahullah

Duniaekspress, 8 agustus 2017 Musibah yang menimpa orang Afghan lebih hebat dan gawat, khususnya orang Afghan yang pergi ke Saudi Arabia, Amerika, Swedia dan ke negeri-negeri yang lain. Yang seperti itu musibahnya lebih hebat dan adzab yang akan ditimpakan padanya lebih menghancurkan dan mengenaskan.

Saya ingat, tahun lalu, ketika saya menunaikan ibadah haji. Mereka membawa seorang dokter Afghan menemui saya. Kata mereka : “Saudara kita ini seorang dokter spesialis bedah di Amerika”. Saya senang sekali mendengarnya. Lalu saya katakan padanya : “Wahai saudaraku, engkau adalah nikmat dari Allah. Di mana saudara bekerja? Di mana orang mengenal saudara berada?”

Dia menjawab : “Di Afghanistan Utara”.

“Apa pendapatmu jika kami mengirimmu ke Afghanistan?” usul saya.

“Ke Khunduz dan Takhar?” tanyanya.

Saya bilang : “Benar, dan kami akan memberi gaji yang cukup buat saudara”.

“It’s difficult to go inside” (Sulit sekali masuk ke dalam). Anda faham bahasa Inggris?”, ujarnya.

Saya bilang faham. Lalu saya tanyakan pada dia : “Mengapa?”.

“Tak ada rumah sakit”, jawabnya.

“Bagaimana kalau saya buatkan rumah sakit buat saudara”, kata saya.

“Susahlah”, katanya pelan.

Saya katakan padanya : “Baiklah jika demikian, bagaimana kalau saudara berkhidmat di Pakistan, di sepanjang perbatasan wilayah Afghanistan. Di Queta atau di Peshawar?”.

Dia bertanya : “Berapa gaji saya?”

“Kami memberikan gaji kepada orang Arab yang paling tinggi untuk seorang dokter spesialis 1500 $. Dan kami akan memberi saudara 2000 $, karena kamu adalah orang Afghan”, kata saya.

“It is few (itu sedikit)”, katanya.

“Mengapa sedikit?”, tanya saya.

Dia menjawab : “Anak-anak saya belajar di Amerika”.

“Anak perempuan saudara duduk di kelas berapa?”, tanya saya.

“Kelas dua SMP”, jawabnya.

“Yang putra?”

“Kelas satu SMA”, jawabnya

Saya katakan padanya dengan jengkel : “Kami beri saudara 2500 $ jika anda adalah orang Amerika! Seandainya dia tidak berada di rumah saya, maka paling tidak saya akan mengatainya sepuas hati. Sayang dia berada di rumah.

Dua ribu lima ratus dolar!!! Orang Afghanistan sendiri menolak datang untuk mengobati saudara-saudara mereka yang mati karena luka, karena tertembus peluru dan pecahan bom. Bagaimana siksa yang akan ditimpakan Allah kepada mereka kelak? Bagaimana mungkin Allah menerima udzur mereka?

Sekarang saya bertanya : “Di mana para lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kabul berada? Di mana gerangan mereka? Sebagian besar diantara mereka pergi ke barat. Sebagian besar diantara mereka adalah orang komunis. Tak ada dokter Afghan, sedikit sekali. Tak ada di dalam negerinya ataupun di Peshawar. Semuanya pergi ke Eropa dan Amerika. Mereka hidup sebagaimana hidupnya binatang ternak. Neraka adalah tempat kembali mereka. Bersenang-senang dan makan minum seperti binatang ternak. Mereka tidak mempunyai udzur di sisi Allah. Orang-orang Arab juga tidak ada udzur bagi mereka di hadapan Allah.

Sejak satu setengah tahun yang lalu kami mencari spesialis bedah tulang (orthopedi), yang betul-betul ahli dan berpengalaman untuk kami serahi rumah sakit di Pakistan dengan gaji lebih besar dari gaji di negerinya. Saya pergi ke Inggris dan menawarkan pekerjaan itu kepada Ikatan Dokter Muslim di Inggris. Namun kami tidak mendapat jawaban. Mereka berkata : “Kami mempunyai orang-orang yang datang dari Bangladesh”. Saya katakan : “Insya Allah, kami akan mengambil orang-orang yang datang dari Bangladesh itu”.

Tapi kami tak mendapati diantara mereka yang ahli dan berpengalaman. Lalu ke Amerika. Di sana kami berkumpul dengan dokter-dokter muslim. Wahai saudara-saudara, kami perlu dokter yang ahli dan berpengalaman. Seorang ahli bedah umum dan satunya bedah tulang. Kalian punya? Mereka menjawab, “Demi Allah, sukar. Sekarang ini kosong tidak ada”.

Di mana gerangan umat Islam? Di mana? Orang Islam adalah saudara bagi orang yang lain? Di mana hukum fiqih yang kami sebutkan ? Mereka berserikat dalam membayar diyat atas darah orang-orang yang mati di sini karena kehabisan darah. Hukum syar’i sekarang ini adalah : di setiap front wajib ada seorang dokter atau dua orang dokter tetap. Dia harus menetap di dalam front sebagaimana mereka yang ada di luar.

Dia harus mempunyai unit kesehatan yang bisa berpindah-pindah dan punya jadwal kunjungan kepada para pasien (visite).   Hidup bersama mereka siang dan malam. Dokter dari Mekkah, dari Qahirah, dari Damaskus, dari Oman, dan dari negara lainnya, mereka wajib tinggal di medan peperangan di front.

Adapun jika kaum muslimin meninggalkan dunia secara demikian, yakni jika salah seorang dari mereka menderita luka, maka korban tersebut dinaikkan ke punggung bighal dan cuma dibalut saja. Tidak sampai ke Peshawar kecuali sesudah memakan waktu selama sepuluh hari, sehingga terjadi infeksi yang menjalar dari telapak kaki sampai ke lututnya. Kita ikut bertanggung jawab atas kematiannya.

Kita harus membayar diyat orang yang mati sebanyak lima puluh ekor unta. Sepuluh diantaranya harus sudah bunting, karena kematian orang tadi adalah sama dengan pembunuhan Syibhul amdi (pembunuhan yang tidak disengaja atau keliru), Kita dapat menyelamatkan orang tersebut dengan izin Allah dengan segala sarana dan pengalaman yang kita miliki karena itu tidak diterima udzur dari pemilik harta yang datang ke Peshawar lalu meletakkan uang dan kemudian kembali.

(AB/duniakespress/lasdipo).

baca juga, APAKAH PEMIKIRAN JIHADI IDENTIK DENGAN FAHAM TAKFIRI ?