• SALAH TIDAK MENGKAFIRKAN LEBIH RINGAN DIBANDING SALAH MENGKAFIRKAN

Duniaekspress, 13 agustus 2017. –

Syaikh Abu Basheer Ath Tahrthusi, ulama mujahid ahluts Tsughur yang hari ini sedang berjihad di Suriah menjelaskan :

 

أن الخطأ في عدم تكفير الكافر يعتبر خطأ في حق الله دون العبد؛ من جهة كونه لم يُصب حكم الله فيه .. بينما الخطأ في تكفير المسلم خطآن: خطأ بحق الله تعالى، وخطأ بحق العبد، والأول خطؤه ـ إن كان عن اجتهاد وتأويل ـ قد يغفره الله له، بينما الآخر ولو غُفر له خطؤه المتعلق بحق الله تعالى، يبقى حق العبد عليه إلى أن يقتص الله من الظالم للمظلوم، هذا إن وجد الظالم مخرجاً مما قال في أخيه المسلم بغير حق.

 

“Bahwasanya melakukan kesalahan tidak mengkafirkan orang yang seharusnya sudah jatuh pada kekafiran (karena melakukan perbuatan kekufuran) dikategorikan dalam kesalahan dalam masalah yang menjadi hak Allah, bukan hak nya hamba (manusia), ditinjau dari sudut pandang bahwa orang yang melakukan kesalahan itu salah dalam menetapkan aturan hukum yang Allah tetapkan.

 

Sedangkan salah mengkafirkan orang muslim mengandung dua kesalahan

  1. Salah dalam hal yang berkaitan dengan hak Allah
  2. Salah dalam hal yang berkaitan dengan hak hamba (sesama manusia)

Kesalahan yang pertama jika terjadi karena ijtihad atau takwil, bisa jadi akan diampuni Allah sedangkan kesalahan yang kedua walaupun dosa yang berkaitan dengan hak Allah telah diampuni Nya, namun hak yang melekat pada sesama manusia (orang yang dikafirkannya) sampai Allah mengampuni dosa yang berkaitan antara orang yang mendzalimi terhadap yang didzalimi.

 

Ini pun jika orang yang menzalimi tersebut diberikan kelonggaran (oleh yang dizalimi) disebabkan (kezalimannya) mengatakan saudara nya sebagai seorang kafir tanpa alasan yang haq.

 

Sebagaimana disebutkan dalam hadits

 

الظلم ثلاثة، فظلم لا يغفره الله، وظلم يغفره، وظلم لا يتركه، فأما الظلم الذي لا يغفره الله فالشرك ،قال تعالى : إن الشرك لظلم عظيم . وأما الظلم الذي يغفره فظلم العباد أنفسهم فيما بينهم وبين ربهم، وأما الظلم الذي لا يتركه الله فظلم العباد بعضهم بعضاً حتى يدبر لبعضهم من بعض

 

“Kezaliman itu ada tiga macam :

 

  1. Kezaliman yang tidak diampuni Allah,
  2. Kezaliman yang diampuni
  3. Kezaliman yang tidak akan ditinggalkan-Nya.

Adapun kezaliman yang tidak diampuni Allah sebagaimana firman Allah Jalla fii ‘Ulaahu (artinya) :

“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar”.

 

Sedangkan kezaliman yang diampuni-Nya adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya dalam masalah antara dirinya- dan Rabb nya.

 

Dan kezaliman yang tidak akan ditinggalkan-Nya adalah kezaliman antara sesama hamba (manusia) sampai urusan itu diselesaikan antara mereka”

 

(Shahih Jamius Shaghir No 3961)

 

لأجل ذلك احتاط أهل العلم أشد الاحتياط في إصدار الحكم بالكفر على المسلم المعين، حيث إن كان كفره يُحتمل من تسع وتسعين وجهاً، ووجه واحد يصرف عنه حكم الكفر، تراهم كانوا يأخذون بالوجه الواحد ـ الغير مكفر ـ احتياطاً لدينهم، وصوناً لحرمات ذلك المعين.

 

Oleh karena itu, para ahli ilmu amat sangat berhati-hati dalam menetapkan hukum telah kafirnya seorang muslim dengan takfir mu’ayyan, di mana dilihat dari sudut pandang kekafirannya mereka menemukan sembilan puluh sembilan hal yg menguatkan kekafiran orang itu, tetapi masih ada satu sudut pandang (alasan) yang bisa menghindarkan orang tersebut dari kekufuran, maka akan kalain saksikan mereka lebih memilih alasan yang (hanya) satu saja yang tidak mengkafirkan orang itu, karena saking hati-hatinya mereka dalam dien mereka serta karena mereka sangat menjaga kehormatan pengkafiran mu’ayyan tersebut

 

(Al Udzru Bil Jahli, Syaikh Al Mujahid Abu Basheer At Tharthuusi Hal 168)

(AB)

baca juga, NASEHAT SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-MAQDISY : MURNIKAN AMAL JIHAD DARI KEINGINAN HAWA NAFSU