Assalamu’alaikum warohmatullahi warokatuh.

Pertanyaan : “Kafirkah, ketika ada seorang muslim yang sedang dalam kondisi ditawan(dipenjara), ia ingin membebaskan diri dengan cara melalui mengikuti pembebasan bersyarat (PB) ?”

Duniaekspress, 15 agustus 2017 .-

Jawaban : “Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Segala pujian milik Allah, semoga damai sejahtera menyertai utusan Allah, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Mengenai posisi seorang muslim dalam keadaan tertawan(dipenjara), adalah dia dalam kedaan ikrah(keterpaksaan), namun apakah dalam kondisi demikian bolehkah ia mengambil udzur dalam takfir, untuk sebagai upaya membebaskan dirinya dari belenggu penjara, melalui pembebasan bersyarat (PB), dan dalam hal ini para ulama ada perbedaan pendapat, ada yang membolehkan ada juga yang melarang dengan syarat harus ikhrah mulji.

Adanya perbedaan pendapat antara yang membolehkan  dan yang melarang tentang boleh atau tidaknya dalam pengambilan PB (Pembebasan Bersyarat), bagi kaum muslimin yang ditawan/penjara, hal ini sangat berdampak terjadinya perselisihan diantara kalangan aktifis jihadi, pihak yang membolehkan mengambil Pembebasan Bersyarat (PB) berhujjah bahwa muslim yang ditawan(dipenjara), membolehkan mengambil PB untuk membebaskan dirinya dari belenggu jeruji penjara, karena muslimyang ditawan/dipenjara dalam kondisi rukhshoh, dengan adanya ikrah sebagai mawani’ takfir(kaidah penghalang dalam takfir), sedangkan pihak yang melarang mengambil upaya Pembebasan Bersyarat (PB), mereka berhujjah bahwasannya muslim yang ditawan(dipenjara) tidak boleh mengambil Pembebasan Bersyarat karena mereka dalam kondisi tertawan tidak dalam keadaan ikrah mulji’ (paksaan yang sempurna). Dengan demikian ada dari pihak yang melarang hal itu dilakukan, yang bersikap ekstrim atau ghuluw(berlebih-lebihan) dengan membuat vonis pengkafiran(memvonis murtad) kepada kaum muslimin yang mengambil pendapat ulama yang membolehkannya  untuk mengambil Pembebasan Bersyarat (PB) sebagai upaya untuk membebaskan diri. Dengan perbedaan pandangan ini, perlu kiranya ada sikap bijak untuk meredam polemik, dan sebagai renungan agar kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan baik sesuai dengan kaidah syar’iNya. Bagi seorang muslim yang memilih bertahan dalam kondisi tertawan/dipenjara dengannya ia mampu bersabar menghadapi ujian dalam penjara itu lebih baik, dan begitu pula bagi seorang muslim yang memilih rukhshoh untuk bebas dengannya ia bisa istiqomah, maka dengan jalan Pembebasan Bersyarat (PB) itu juga baik, karena semua ada dalil/hujjahnya.

*Definisi ikrah menurut Ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata ; “ikrah yaitu mengharuskan seorang lain untuk sesuatu yang tidak dia inginkan”. (Fathul Bahri XIV/311).

*Hujjah pihak yang melarang pengambilan PB uapaya untuk membebaskan diri dari belenggu penjara, sebagai berikut :

Syarat diterimanya ikrah ;

~ Menurut Ibnu Hajar Rahimahullah ada 4 yaitu :

  1. Orang yang memaksa mampu untuk melakukan apa yang diancamkannya, dan orang yang dipaksa tidak mampu melawan walaupun dengan melarikan diri.
  2. Ia yakin seandainya Ia tidak mau melaksanakan perintahnya itu, orang yang mengancam tersebut besar kemungkinan akan melakukan ancamannya.
  3. Apa yang diancamkannya langsung saat itu juga, maka seandainya ia berkata; “kalau kamu tidak melakukan itu, maka saya akan memukulmu besok”, tentu yang seperti itu tidak dianggap memaksa, dikecualikan apabila ia menyebutkan waktu yang dekat sekali atau kebiasaan ia tidak melanggar(apa yang diancamkan)”.
  4. Tidak adanya pilihan lain bagi orang yang dipaksa. (Fathul bahri XII/311).

*Bentuk ancaman/batasan Ikrah ;

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata ; “Dan para ulama berselisih pendapat tentang bentuk ancaman yang dianggap sebagai Ikrah, mereka sepakat ; Pembunuhan, Pemotongan anggota badan, Pukulan yang keras dan kurungan(penjara) yang lama. Dan mereka berselisih pendapat pada pukulan ringan dan kurungan(penjara) sebentar sehari atau dua hari”.

~ Ibnu Hajar Rahimahullah berkata juga : Para ulama berselisih pendapat tentang batasan ikrah. Abad bin Humaid meriwayatkan dalam Hadist shohih, bahwa Umar berkata ; “Seseorang itu dirinya tidak aman apabila dikurung(penjara) atau diikat atau disiksa”. Dan juga riwayat yang serupa dari jalur syuroih dengan tambahan lapadz-lapadz, empat macam semuanya adalah ikrah ; kurungan, pukulan, ancaman dan ikatan”.

*Menurut Mahzab Hanafi batasan ikrah dibagi menjadi 2 bagian :

  1. Ikrah Mulji’ (Paksaan yang sempurna) yaitu ; Mengancam untuk membunuh/memotong/memukul, yang dikhawatirkan akan menghilangkan nyawa atau anggota tubuh.
  2. Ikrah Ghoiru Mulji’ (Paksaan yang kurang) yaitu ; Selain kurungan dan ikatan, dan pukulan yang tidak dikhawatirkan akan membuat cacat. (Badai’u ash-shonai, al-Kosaniy, IX/4479).

*Menurut pendapat jumhur Ulama, bahwa yang diberi rukhshoh untuk melakukan kekafiran hanya diperbolehkan dengan ikrah Mulji’, ini adalah pendapat Hanafy, Hambali dan Maliki.

~ Pendapat Mahzab Hanafy dalam Badai’u ash-shonai IX/4493.

~ Pendapat Mahzab hambali dalam al-Mughny ma’asy syarhil kabir X/107-109.

~ Pendapat Maliki dalam asy-Syarhush shogir II/548-549.

*Hujjah pihak yang membolehkan membebaskan diri dari belenggu penjara dengan melalui Pembebasan Bersyarat (PB), sebagai berikut :

Sedangkan menurut Mahzab Imam Asy-Syafi’i,  berpendapat ; “sesungguhnya kurungan(penjara) dan ikatan itu ikrah untuk berbuat murtad”. (Majmu’ XVIII/6-7).

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata ; “Dan para ulama berselisih pendapat tentang bentuk ancaman yang dianggap sebagai Ikrah, mereka sepakat ; Pembunuhan, Pemotongan anggota badan, Pukulan yang keras dan kurungan(penjara) yang lama. Dan mereka berselisih pendapat pada pukulan ringan dan kurungan(penjara) sebentar sehari atau dua hari”.

~ Ibnu Hajar Rahimahullah berkata juga : Para ulama berselisih pendapat tentang batasan ikrah. Abad bin Humaid meriwayatkan dalam Hadist shohih, bahwa Umar berkata ; “Seseorang itu dirinya tidak aman apabila dikurung(penjara) atau diikat atau disiksa”. Dan juga riwayat yang serupa dari jalur syuroih dengan tambahan lapadz-lapadz, empat macam semuanya adalah ikrah ; kurungan, pukulan, ancaman dan ikatan”.

 

*Dan semuanya sepakat Bahwa orang yang dipaksa lalu dia memilih dibunuh maka pahalanya disisi Allah lebih besar daripada orang yang mengambil atau memilih rukhshoh, ini adalah perkataan Ibnu Bathol(Fathul Bahri XII/317). Dan Al-Qurthuby menyatakan Ijma pada masalah ini dalam tafsirnya X/188.(dinukil dari kitab melacak jejak thogut, karya syaikh Abdul qadir bin abdul aziz, hal 141-146, penerbit kafayeh cipta media).

~ Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata ; “Tidaklah satu ucapan pun yang dapat menghindarkan dari dua kali cambukan kecuali aku akan mengucapkannya”. Dan ini pendapat jumhur(mayoritas ulama). (Fathul Bahri XII/312).

 

Perbedaan pendapat antara yang membolehkan dan yang melarang, terletak pada masalah ikrah dalam penerapannya, ternyata sudah ada sejak zamannya 4 imam mahzab, yang perlu kita ambil tauladan dari cara menyikapi perbedaan tersebut dari 4 Imam Mahzab dengan secara bijak adalah walaupun berbeda, tidak ada diantara mereka(imam Mahzab tersebut), yang bersikap ekstrim atau ghuluw dengan saling mencap kafir(murtad) atas pendapat atau sikap yang diambilnya, tidak ada imam Hanafy, Hambali dan Maliki mencap Murtad kepada Imam Syafi’i karena berbeda pendapat dalam masalah ikrah ini, karena jika dikaji secara jujur mereka (4 Imam Mahzab), memposisikan perbedaan pendapat tersebut sebagai perbedaan ijtihadi(furu’) bukan pada perbedaan masalah ushul(aqidah), sehingga dengannya mereka tidak saling mencap kafir(murtad) dalam perbedaan tersebut. Jika ada orang yang bersikap ghuluw dalam hal ini,  dengan memvonis murtad atau kafir kepada kaum muslimim yang ditawan/dipenjara sebagai upaya untuk membebaskan diri dari belenggu geruji penjara, itu sama halnya mereka mencap kafir atau murtadz kepada  Imam Syafi’i, yang mana Imam Syafe’i membolehkan mengambil ruskhshoh dalam Masalah ikrah, untuk membebaskan diri dari pengatnya belenggu geruji penjara. dan bilamana kaum yang ghuluw itu bersikeras atas pendapatnya yang dia ambil, yang memasukan masalah ini pada persoalan ushul(aqidah) maka darimana dasarnya memasukan perbedaan seperti ini keranah ushul(aqidah) sedangkan ulama ahli sunnah waljama’ah memasukan masalah tersebut  pada persoalan ijtihadi(furu’). Wallahu’alam bishowab.

Oleh : Abu jundi al-batani