Duniaekspress, 15 Agustus 2017,

Beberapa hari ke depan di negeri ini akan ada perayaan rutin, permainan perlombaan dengan penuh kegembiraan dan berbagai hiasan nuansa merah-putih pada karnaval jalanan.

Indonesia lebih dari 72 tahun yang lalu berjuang, menggeliat melawan angkara murka kolonialisme. Jangan kita lupakan perjuangan mujahidin dan mujahidah di berbagai belahan nusantara, dengan teriakan TAKBIR! mereka melupakan badannya dari bahaya desingan peluru. Ghiroh jihad berkumandang di berbagai masjid dan tidak asing para santri bahu membahu mengusir penjajah. Perjuangan jihad Tengku-Tengku Aceh, Para Tuanku di ranah minang, Pangeran Diponegoro, dan berbagai Sultan di berbegai kerajaan Islam baik timur maupun barat nusantara. Bahkan Bung Tomo di Surabaya harus berkhuthbah mentahridh pejuang dengan takbirnya yang terkenal, dan juga keluarnya resolusi jihad dalam melawan sekutu dan belanda.

Ini cukup membuktikan bahwa kemerdekaan negeri ini hanya didapat melalui tertumpahnya darah mujahidin dan mujahidah. Namun banyak upaya dari para pengkhianat negeri ini yang mengurangi jasa-jasa pejuang kita. Dari mulai “mengurangi” hal-hal yang menjadi cita-cita umat Islam dalam menegakkan syariat Islam (seperti menghilangkan tujuh kalimat esensial ajuan para ulama pendiri kemerdekaan), pemelintiran sejarah dengan membesar-besarkan andil dari umat non Islam dan memfitnah pejuang Islam seolah-olah bukan Islam (contoh Pattimura), sampai menuduh organisasi Islam sebagai pemecah belah persatuan dan penghambat kemajuan. Sampai-sampai manusia seperti Ahok dan Vicktor dengan leluasa menyinggung ummat Islam. Entah bagaimana nasibnya orang-orang seperti ini jika Jendral Sudirman atau Bung Tomo masih hidup, atau bahkan Sultan Hasanuddin dan Fatahillah masih bersama kita.

Umat ini harus mendefenisikan ulang cita-cita perjuangannya. Banyak dari kita yang tidak ingin Indonesia menjadi “suriah” kedua, namun kita juga tidak ingin Indonesia menjadi “amerika” atau “cina” yang kedua. Betapa banyak dari bangsa ini yang telah lepas dari Belanda namun otak dan mentalnya sama dengan Belanda?

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur:55)

Dari ayat di atas jelas, makna merdeka atau ukuran kita telah berkuasa adalah: Agama ini akan teguh, hilangnya ketakutan dan aman sentausa, dominasi tauhid yang tidak tercampur dengan fitnah kesyirikan. Berarti yang disebut merdeka bukan hanya fisik, tapi mental kita juga demikian. Apakah kita umat islam sudah merdeka untuk melaksanakan syari’atnya? Sungguh benar upaya para ulama pendiri negeri ini yang memperjuangkan tegaknya syariat (baca: hukum) Islam. Mungkin mereka telah merasakan akan hadits di bawah ini:

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantunganpada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad 21139).

(team redaksi)

BERANDA