Duniaekspress, 16 agustus 2017. – Tidak semestinya terburu-burunya menetapkan hukum atau vonis kepada orang yang berbeda pendapat dan keyakinan dengan kita dalam masalah yang terjadi ikhtilaf di dalamnya, hanya dengan mengacu pada pemahaman kita saja tanpa mempertimbangkan alasan, pertimbangan dan pemahaman orang tersebut, lalu kita vonis ia dengan apa yang kita yakini saja.

 

Namun demikian jika kita yang kemudian melakukan tindakan yang kita yakini tersebut maka kita jatuh pada vonis sesuai dengan apa yang kita yakini tersebut.

 

Berikut adalah contoh dari para salaf dan ulama yang terpercaya :

 

Dari Abdurrozaq, dari Ma’mar dari orang yang mendengar shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkomentar ketika kelompok Haruriyyah memerangi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib -ayahandanya-.

 

Orang-orang bertnya kepada Ali Bin Abi Thalib :

 

“Wahai Amirul Mukminin, siapakah mereka ? Apakah mereka telah kafir (karena mereka mengkafirkan Ali) ?”

 

Beliau menjawab :

 

“MEREKA (MELAKUKAN ITU) JUSTRU KARENA LARI DARI KEKAFIRAN”

 

(lari dari kekafiran maksudnya adalah mereka mengkafirkan dan memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib karena mereka takut terjatuh kepada kekufuran -menurut anggapan mereka- disebabkan tidak mengkafirkan Ali yang menurut mereka telah berhukum kepada selain hukum Allah, pent)

 

 “Apakah mereka itu munafik ?”

 

Ali bin Abi Thalib menjawab :

 

“Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

 

“Lalu siapa mereka itu ?”

 

Ali bin Abi Thalib menjawab :

 

 

 

 

“Mereka adalah sekelompok orang yang terkena fitnah (kekacauan, ujian dan cobaan) lalu mereka menjadi buta dikarenakan fitnah itu dan menjadi tuli”

 

(Mushonnaf Abdurrozaq 4/150, Jami’ul Ahadits 32/5)

 

 

Khalifah Ali Bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita agar kita tidak terjebak ikut-ikutan mengkafirkan secara serampangan tanpa hujjah syar’i yang kuat.

 

Beliau bukan hanya menolak menjatuhkan vonis terhadap mereka tetapi justru menyebutkan permakluman atas kekeliruan mereka dengan kalimat : “Mereka (melakukan itu) justru karena lari dari kekafiran”, serta menyebutkan kebaikan mereka dengan kalimat :

 

“Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

 

Sebuah kehati-hatian yang dibalut dengan sifat tawadhu’ dan husnuzhon yang sangat tinggi telah beliau ajarkan kepada kita. Semoga Allah Memberikan kita kecintaan kepada mereka yang mencintai dan meneladani kekasih tercinta kita, Rasulullah Muhammadshollallohu ‘alaihi wasallan.

 

 

Kita juga bisa mengambil pelajaran dari jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap kelompok Jahmiyyah berikut ini :

 

و لهذا كنت أقول للجهمية من الحلولية و النفاة الذين نفوا أن الله تعالى فوق العرش لما وقعت محنتهم أنا لو وافقتكم كنت كافرا لأني أعلم أن قولكم كفر و أنتم عندي لا تكفرون لأنكم جهال وكان هذا خطابا لعلمائهم و قضاتهم و شيوخهم وأمرائهم و أصل جهلهم شبهات عقلية حصلت لرؤوسهم في قصور من معرفة المنقول الصحيح و المعقول الصريح الموافق له وكان هذا خطابنا

 

“Oleh karena itu aku katakan kepada para penganut Jahmiyyah yaitu orang-orang yang memiliki keyakinan hulul serta menolak keyakina bahwa Allah di atas Arsy, saat terjadi fitnah dan kerancuan :

 

“JIKA AKU MENYETUJUI PENDAPAT DAN KEYAKINAN KALIAN, MAKA AKU TELAH KAFIR KARENA AKU TELAH MENGETAHUI BAHWA UCAPAN KALIAN ITU ADALAH PERBUATAN KUFUR. NAMUN BAGIKU KALIAN TIDAK AKAN AKU KAFIRKAN KARENA KALIAN JAHIL (TIDAK MEMILIKI ILMU)”

 

“Ucapan ini saya tujukan kepada ulama’, qadhi, syaikh dan umara’ mereka (bukan kepada orang awamnya, pent). Dan pokok kebodohan mereka adalah syubhat (kerancuan) akal (pemikiran) yang terjadi di kepala mereka karena keterbatasan mereka dalam memahami dalil Naqli yang shahih dan dalil Aqly yang shorih (jelas dan terang) yang sesuai dengan pendapat. Inilah ucapan kami kepada mereka”

 

(Ar Roddu ‘alal Bakri 2/494)

 

 

Syaikhul Islam tetap menganggap para pemuka dan syaikh penganut paham Jahmiyyah sebagai juhhal (orang-orang bodoh) bukan karena mereka bodoh tetapi karena mereka tidak mampu membedakan dalil Naqli yang shohih dan dalil aqli yang shorih. Lalu bagaimana dengan keadaan umat Islam saat ini yang amat sangat jauh dari ilmu dan ulama ?

sumber : Abuizzudinalhazimi.wordpress.com

(AB).

baca juga, BERHATI-HATILAH DALAM TAKFIR