Duniaekspress, 16 Agustus 2017- Ribuan orang Irak telah meninggalkan kota yang dikuasai ISIS/IS di sebelah barat Mosul saat pesawat perang Irak dan koalisi meningkatkan serangan menjelang serangan darat untuk mengusir kelompok tersebut.

“Pesawat tempur Irak melakukan serangan udara pada hari Selasa (15/8) melawan negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang juga dikenal sebagai Daes di Tal Afar dalam persiapan untuk melakukan serangan darat untuk merebut kembali kota tersebut di dekat perbatasan Suriah,” Ungkap militer Irak seperti dilansir Al Jazeera (16/8/2017)

Rencana untuk merebut kembali Tal Afar diumumkan pada hari Senin oleh kepala polisi federal Letnan Jenderal Raed Shakir Jawdat, yang mengatakan “unit lapis baja dan elit” menuju kota tersebut.

Tal Afar dan daerah sekitarnya adalah salah satu wilayah kantong terakhir yang dimiliki oleh ISIS/IS di Irak, setelah kemenangan diumumkan pada bulan Juli di Mosul, kota terbesar kedua di negara itu.

Kota Tal Afar, sekitar 150 kilometer sebelah timur perbatasan Suriah, berada di sepanjang jalan utama yang dulunya merupakan rute utama pasokan ISIS/IS.

Pada hari Senin, ratusan warga sipil yang kelelahan dibawa oleh truk tentara Irak dari garis depan ke titik pengumpulan kemanusiaan di sebelah barat Mosul. Banyak yang menggambarkan perjalanan mengerikan sehari atau lebih dari Tal Afar, tanpa makanan atau air.

“Tidak ada apa-apa” kata Jassem Aziz Tabo, seorang pria tua yang tiba dengan 12 anggota keluarganya, mengatakan kepada Associated Press (AP). Jassem telah meninggalkan Tal Afar beberapa bulan yang lalu dan pergi ke sebuah desa di pinggiran untuk menghindari kelaparan, serangan udara dan kekerasan dari ISIS/IS.

“Mereka yang mencoba melarikan diri ditangkap dan ditembak di kepala, mereka membunuh anak saya,” katanya.

Alia Imad, ibu tiga anak yang keluarganya membayar $ 300 kepada seorang penyelundup untuk membawa mereka ke tempat yang aman, mengatakan bahwa tidak ada air minum yang tersisa di kota tersebut. “Kebanyakan orang meminum air yang tidak bersih. Mayoritas bertahan dengan itu dan sedikit roti,” katanya.

Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB, mengatakan kepada AP bahwa kondisi di Tal Afar sangat sulit.

“Ribuan orang pergi, mencari selamat dan mereka melakukan perjalanan 10 sampai 20 jam ke timur laut melarikan diri ke timur laut untuk mencapai titik penghitungan, mereka kelelahan dan banyak yang mengalami dehidrasi saat mereka tiba,” katanya.

(IF)

baca juga, SERANGAN MEMBABI BUTA PASUKAN IRAK, MEMBUNUH 40.000 JIWA WARGA SIPIL IRAK