Duniaekspress, 19 agustus 2017. –

Ujian terhadap pembela kebenaran.

“Perjuanganmu dalam membela kebenaran, tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakaria, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot, dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya’, Muhammad. Barulah kemudian kebenaran menang”.

Allah beri pertolngan karena perjuangan mereka.

“Allah tidak akan memberikan pertolongan bagi suatu umat, kecuali dengan darah (perjuangan) mereka. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 16)”.

Sabar adalah kuncinya.

“Tidak akan terealisasi suatu pemerintahan atau organisasi yang berjalan di atas al haq, kecuali dengan jalan bersabar di atas jalannya. “Dan Kami jadikan di antara mereka itu Imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar” (QS. As Sajdah : 24)”

Hal yang mendekatkan diri kepada Allah.

“Tiga hal yang jika berkumpul dalam diri manusia, akan menjadikannya manusia yang paling dekat kepada Allah, bahkan senantiasa dalam perhatian-Nya:

1. Berpegang teguh dengan kebenaran
2. Berpegang teguh ketika mendapat ujian dalam memperjuangkannya
3. Bersabar di atasnya. “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS. Ath-Thuur: 48)”.
Jagalah Agama dan dunia secara beriringan.
“Jagalah agama dan duniamu secara beriringan. Apabila engkau jumpai keduanya bertentangan, maka beribadahlah di jalan agamamu, dengan menggunakan duniamu, dan tempuhlah jalan menuju Allah”.
Mengapa Allah mengangkat kedudukan orang yang dzalim.
“Allah mengangkat kedudukan orang-orang yang zhalim agar manusia dapat melihat kejatuhannya dari atas ketinggian. Bukan supaya orang-orang menghormati dan memuliakan mereka”.
Syaikh Dr. Abdul Aziz Tharifi.
(AB)