Ayaturrahman Fi Jihadil Afghan

Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah.

Duniaekspress, 20 agustus 2017. – Ayaturahman Fi Jihadil Afghan ( Tabiat orang-orang Afghan yang sangat unik dan pantang menyerah, merasa terhormat dan cintanya untuk jihad. Umar Hanif pernah berkata kepada saya: Kami adalah satu bangsa, jihad bagi kami adalah sebuah kebutuhan primer seperti kebutuhan air bagi seekor ikan).
Tersebutlah seorang komandan mujahid Afghanistan Najmuddin yang menguasai daerah Anjaman, daerah ini terletak di kawasan Wakhan, jika dilihat dalam peta Afghanistan, luas wilayah ini tak lebih dari sebesar satu jari yang berbatasan denagn negara Cina, Rusia dan pakistan dan pernah di jajah Uni Soviet. Di Daerah ini Komandan Najmuddin hanya disertai oleh 150 mujahid, pasukan Uni Soviet memblokade jalan-jalan umum namun mereka tidak berani menyerbu bahkan dengan tank-tank mereka sekalipun. Mereka hanya berani menyerang mujahidin dari jauh dan itupun dengan arah yang serampangan. Dan Allah SWT telah memenangkan kaum mujahidin dan mengalahkan pasukan Uni Soviet dan 5 perwira mereka tertangkap dan menjadi tawanan mujahidin. Mendengar hal itu maka pihak militer Uni Soviet segera mengirim surat kepada Komandan Najmuddin sehingga terjadilah diaog antar surat diantara mereka :

Uni Soviet : “Kami akan memenuhi semua permintaan kalian, namun dengan syarat kalian harus membebaskan kelima perwira kami”
Komandan Najmuddin : “Kami bukan pedagang”
Uni Soviet : “Jika kalian tidak mau membebaskan kelima perwira kami, maka kami akan membumi hanguskan seluruh isi kota dan kami akan membunuh anak-anak dan orang tua ”
Komandan Najmuddin : “Wahai anjing-anjing komunis, sungguh kalian adalah kaum yang suka menghianati perjanjian dengan kami”
kemudian Uni Soviet mengirim surat ketiga dan sengaja ditulis dengan tinta darah
Uni Soviet : “Kami pasti akan membalas sekecil apapun perlakuan buruk kalian terhadap kelima perwira kami ”
Komandan Najmuddin : “Kami tunggu kedatangan kalian….!! Ketahuilah bahwa kami telah membunuh kelima perwira kalian”
Setelah itu Uni Soviet berkabung atas kematian kelima perwiranya sampai sampai mereka membuat patung salah seorang perwira tersebut sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

Begitulah sekilas cuplikan dari peperangan antara kaum mujahidin dengan komunis Uni Soviet yang terjadi di tahun 1980 an, dan dalam komunikasi militer diatas terlihat jelas betapa Komandan Mujahidin sangat berani menentang pasukan Uni Soviet walaupun hanya dengan pasukan yang sedikit. Kisah ini di ambil dari buku “Ayaturahman Fi Jihadil Afghan” yang disusun oleh Abdullah Azzam yang terlibat lansung di dalam medan jihad Afghanistan.
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah menyatakan,

“Dan Allah menetapkan adanya karamah bagi para wali-wali –Nya, dan barangsiapa menafikannya, maka campakkan saja perkataannya.”

Tanyakan kepada para ulama salaf…tanyakanlah pada Ibnu Taimiyah…tanyakanlah pada Ahmad bin Hanbal.

Ibnu Taimiyah –rahimahullaahu ta’ala- mengatakan, “Aku berada dalam penjara. Sebelum masuk penjara, aku biasa mencari-cari keluarga yang miskin untuk aku berikan bantuan kepada mereka. Setelah aku masuk penjara, maka mereka datang menengokku dan memberitahukan, ‘Engkau masih terus mendatangi kami dan memberikan santunan sama seperti yang sudah-sudah.’” Berkata Ibnu Taimiyah –rahimahullaahu ta’ala-, “Boleh jadi mereka itu adalah saudara-saudara kita dari bangsa jin yang menampakkan diri seperti diriku dan mengerjakan hal-hal yang dulu aku lakukan.”

Buku Aayaat al-Rahmaan fie Jihaad al-Afghan membicarakan tentang karamah terbesar yang terjadi pada masa sekarang ini. Karamah apakah itu? Karamah-karamah besar!, yakni kemenangan-kemenangan yang berhasil direbut dan dicapai bangsa Afghan (kisah ini bukan kisah khayalan), yang terisolir atas kekuatan adidaya (super power), Uni Sovyet. Kemenangan-kemenangan yang menjadikan orang-orang yang mempunyai mata hati tersadar dan mengerti akan adanya karamah-karamah yang telah lama menghilang dari realita kehidupan kaum muslimin dalam masa yang cukup panjang, bahkan sebagian orang-orang Islam kembali menggunakan lidah-lidah mereka untuk mencabik-cabik daging (baca: mencerca dan menggunjing) orang-orang yang mempercayai karamah-karamah tersebut. Padahal, karamah-karamah tersebut mampu menjadikan seorang wartawan Nasrani dari Perancis menulis dalam surat kabar, dengan huruf-huruf besar, “AKU MELIHAT TUHAN DI AFGHANISTAN“. Juga mampu mendorong seorang wartawan komunis dari Italia menyatakan keislamannya secara terbuka di televisi. Dia memberikan pernyataan secara terus terang, “Aku melihat kawanan burung membela pihak mujahidin, mereka terbang di bawah roket-roket yang dijatuhkan pesawat-pesawat tempur di Aghanistan.”

Sesungguhnya karamah-karamah yang terjadi pada kaum muslimin Afghan lebih banyak daripada karamah-karamah yang terjadi pada para shahabat -radhiyallaahu `anhum-. Kenapa bisa demikian? Apakah orang-orang Afghan lebih baik daripada shahabat?. Tentunya tidak. Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah dan Ahmad bin Hanbal –rahimahumallaahu ta’ala-, menyebutkan bahwa karamah-karamah yang terjadi pada masa tabi’in lebih banyak daripada yang terjadi pada para sahabat, padahal para sahabat adalah seutama-utama generasi manusia sesudah Rasulullah -shallallaahu `alaihi wa sallam-. Hal ini dikarenakan karamah-karamah tersebut diturunkan oleh Allah untuk menentramkan hati dan meneguhkan keyakinan orang-orang yang beriman agar tetap berada di jalan Allah apabila keimanan mereka melemah.

sumber : kitab Ayaturahman Fi Jihadil Afghan karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah.

(AB)

baca juga, JIHAD BUKAN HANYA KEKUATAN FISIK TAPI JUGA BUTUH KEAHLIAN DALAM SEGALA BIDANG