Duniaekspress, 21 Agustus 2017.

Diantara landasan pihak yang tidak mengudzur pelaku syirik akbar di kalangan muslim yang jahil atau terpeleset adalah kisah zaman fathrah, yaitu zaman antara Nabi Isa Alaihissalaam dengan kenabian Muhammad SAW. Di mana walau tidak ada Nabi pada zaman ini pelaku kesyirikan tidak diampuni termasuk ayah-bunda Rasul SAW. Hadistnya:

Al-Imam Muslim rahimahullah berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit, dari Anas : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada? Beliau menjawab : ‘Di neraka’. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka’. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 203]. semuanya dari jalan ‘Affaan, dari Hammaad bin Salamah dan selanjutnya seperti riwayat di atas. artinya bahwa hadist di atas adalah hadist ahad, dan hammaad bin salamah diragukan hafalannya di akhir hidupnya oleh ibnu hajar dan albaihaqy.

Hadist ini menjadi dasar bagi sebagian orang untuk tidak mengudzur jahil pelaku syirik akbar. Bagaimana ulama memahami dalil hadist tersebut?

1) tidak semua pada zaman fathrah itu bodoh, karena sebagian orang yang lurus telah mendakwahkan tauhid seperti  Zaid bin Amru bin Nufair1)

2) bukan faktor syiriknya saja orang-orang musyrik tersebut di’azab, tetapi juga karena mengingkari rasul-rasul dan hari akhir. Padahal orang-orang musyrik tahu adanya hari akhir.

3) Syekh assinqity berkata: hadist-hadist tersebut itu adalah hadist-hadist yang ahad, sementara ada dalil-dalil lain yang mutawatir, yaitu al-qur’an yang sifatnya qoth’i yang tidak ada menselisihinya.

‘Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul’ [QS. Al-Israa’ : 15].

“Setiap kali dilemparkan ke dalam neraka itu sekumpulan (orang-orang kafir), maka malaikat-malaikat penjaga neraka  itu bertanya kepada mereka: ‘Apakah  belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?  Mereka menjawab: ‘Benar telah datang, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami katakan kepadanya: ‘Allah tidak menurunkan  sesuatu (wahyu) pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (QS. Al-Mulk [67]: 8-9)

Jika ditarjih (cara terakhir setelah kompromi) maka yang diambil adalah yang mutawatir.

4) semua hadist-hadist ahad tersebut berbicara tentang ahli fathrah dimana belum ada islam, ini semua beda perlakuannya setelah datangnya Rosul SAW (adanya islam), artinya tidak dapat dipakai untuk membahas muslim yang melakukan kekafiran.

5) hadist-hadist fathrah tadi tidak menunjukkan bahwa orang-orang tersebut tadinya muslim/bertauhid sehingga tidak bisa diterapkan untuk orang yang bertauhid lalu keliru. Adapun tentang muslim muta’awwil/mukhthi’ adalah:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum  kami jika kami terlupa atau kami tersalah…” (QS. 2:286)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 9:115).

6) masih ada kemungkinan kompromi; terdapat 10 hadist menunjukkan bahwa orang masuk neraka sebelum datangnya Rosul ini adalah bukan karena kesyirikan, tetapi tidak lulus ujian di akhirat setelah dihadapkannya Rosul kepada mereka di akhirat (dalam kata lain: diuji atau ditest!). Dasarnya:

“Di hari kiamat ada seorang yang tuli, tidak mendengar apa-apa, ada orang yang  idiot, ada orang yang pikun, dan ada orang yang mati  pada masa fatrah. Orang yang tuli berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang saat itu aku tuli, tidak mendengar Islam sama sekali’. Orang yang idiot berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang, saat itu anak-anak  nakal sedang memasung aku di dalam sumur’. Orang yang pikun berkata: ‘Ya Rabb, ketika Islam datang aku sedang  hilang akal’. Orang yang mati pada masa fatrah berkata: ‘Ya Rabb, tidak ada utusan yang datang untuk mengajakku kepada Islam’. Lalu diuji kecenderungan  hati mereka pada ketaatan. Diutus utusan  untuk memerintahkan mereka masuk ke neraka. Nabi bersabda: ‘Demi Allah, jika mereka masuk ke dalamnya, mereka akan  merasakan dingin dan mereka mendapat keselamatan’’ (HR. Ahmad no. 16344, Thabrani 2/79. Di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1434)

ada ulama-ulama yang memahami bahwa orang-orang fathrah ini diuji di pelataran akhirat dan tidak lulus, ini yang dipahami Abu Hasan al asy’ari, Ibnul qoyim dan Ibnu Taimiyyah. Imam al Baihaqi mengatakan: bahwa mereka tidak lulus bukan karena kesyirikan saja tapi karena tidak taat kepada Rosul. diantara 10 hadist yang senada tersebut ada yang hasan, ada yang dhloif, tapi diperkuat oleh yang shahih.

  • Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qarath bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr Al-‘Adawi; dia adalah orang tua Sa’id bin Zaid (salah satu di antara sepuluh orang yang mendapat berita gembira masuk surga). Dia juga merupakan anak dari paman ‘Umar bin Al-Khaththab: ‘Umar adalah anak Al-Khathhtab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza, sedangkan ‘Amr (yang merupakan ayah Zaid) adalah saudara Khaththab (ayah ‘Umar bin Al-Khathhtab). Dengan demikian, Zaid ini adalah anak dari paman ‘Umar bin Al-Khathhtab (ringkasnya: Zaid adalah sepupu ‘Umar, pen.).” (‘Umdatul Qari, 24:475).

Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Dalam kurun waktu jahiliah, adalah orang yang bertauhid sesuai agama Ibrahim alaihissalaam, dialah yang mengingkari berbagai amalan kaum jahiliah. Dia jelaskan pula kebatilan agama yang dianut kaum Quraisy. Bahkan ketika kaum Quraisy melakukan upacara penyembelihan untuk berhala di Ka’bah beliau terang-terangan mengkritik perbuatan mereka, akibatnya beliau diusir dari Mekah terutama oleh ayahnya ‘Umar bin Khathab r.a, tapi beliau bisa tetap masuk secara sembunyi-sembunyi. Beliau tidak sempat bertemu Rasul SAW karena dibunuh  di perjalanan pulang ke Mekah setelah seorang rahib memberitahunya bahwa ada seseorang dari kaumnya yang akan diangkat sebagai utusan Alloh.  Perihal Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يبعث يوم القيامة أمة وحده

Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.” (Hadits hasan; riwayat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu; lihat Shahih As-Sirah An-Nabawiyyah, 1:94)

(AZ)

BERANDA