?Allah Mencintai Mujahidin Karena Kesabaran Mereka?

(Kemenangan Seorang Ribbiyun Bag. Kedua)

oleh : Syaikh Mujahid Abu Yahya al Liby rahimahullah

Duniaekspress, 24 agustus 2017.  — Maka barangsiapa berjihad di jalan Allah dan mencari keridhaan-Nya tanpa menoleh ke dunia dan pandangannya tidak bergantung kepada perhiasannya, maka dunia yang hina ini akan datang kepadanya.

Barangsiapa berjihad dengan tujuan untuk mencari ketinggian, mencari bagiannya dari kehidupan dunia yang fana, menahan kesusahan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia atau ketenaran maka ia rugi di dunia dan di akherat dan hilanglah segala apa yang diinginkannya dan apa yang tidak diinginkannya, dan jihadnya menjadi sia-sia.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Artinya, “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura : 20)

Kemudian Allah memberikan kecintaan-Nya kepada mereka –dan ini adalah hal yang dicari- karena kebaikan mereka, sebagaimana Dia mencintai mereka karena kesabaran mereka. Allah berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-‘Imran : 148)

Adapun akhir ayat di sini menunjukkan bahwa mereka sangat patut untuk masuk dalam sifat/keterangan yang mulia ini.

Al-‘Allamah Ibnu ‘Asyur menyatakan, “Bahwa keterangan tambahan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang menjadi objek pembicaraan di sini termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbuat baik.” Ini juga mengisyaratkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dan termasuk orang yang beribadah kepada Allah seolah olah dia melihatNya.

Namun apabila dia tidak melihat-Nya, maka Allah melihatnya. Kisah perjalanan mereka dan apa yang Allah kisahkan tentang mereka dan pujian-pujian yang berulang atas mereka menunjukkan itu semua.

Ustadz Sayyid Qutub menegaskan, “Mereka yang tidak meminta sesuatu pun untuk diri mereka sendiri, Allah beri mereka segala sesuatu dari sisi-Nya. Allah memberikan kepada mereka segala yang diinginkan oleh pencari dunia dan tambahannya, dari sisi-Nya, dan Allah memberikan kepada mereka apa saja yang di inginkan oleh pencari Akherat.

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.” (QS. Ali-‘Imran: 148)

Allah menjadi saksi kebaikan bagi mereka. Sungguh mereka baik dalam etika dan berbuat kebaikan dalam jihad. Allah mengumumkan kecintaannya kepada mereka. Ini adalah nikmat dan pahala yang paling besar.” (Fi Zhilalil Qur’an : 1/463)

Jadi peristiwa ini merupakan kejadian yang hidup, yang Allah kisahkan kepada kita. Potret ini selalu berulang sepanjang sejarah, baik perjalannya panjang ataupun pendek. Sungguh jalan menuju pertolongan, kekuasaan dan kemenangan telah dipaparkan secara gamblang dan jelas (pahala di dunia), dan juga telah dijelaskan apa yang wajib dilakukan oleh Mujahidin dalam menapaki perjalanan jihad mereka. Sungguh bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat kepada mereka, jika mereka menjalani sunnah pencapaiannya baik secara syar’i atau kauni.

(AB/duniaekspress/lasdipo)

baca juga, AYATURRAHMAN FI JIHADIL AFGHAN