Duniaekspress, 25 agustus 2017. – Dengan Menggunakan senjata api dan parang, gerilyawan Mujahidin Rohingya menyerang pasukan keamanan rezim Myanmar di pos-pos keamanan dan perbatasan, Kamis (24/8/2017) malam.

poto : mujahidin rohingya

Setidaknya 12 tentara rezim Myanmar tewas dalam penyerangan Mujahidin Rohingnya.

Demikian kepolisian rezim Myanmar mengatakan, Jumat (25/8/2017) waktu setempat.

Serangan yang dimulai setelah tengah malam itu, terjadi beberapa jam setelah penasehat Komisi Rakhine dipimpin oleh mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyampaikan laporan akhir.

Mereka merekomendasikan pemerintah rezim Myanmar bertindak cepat untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial di negara bagian Rakhine untuk menyelesaikan kekerasan antara umat Buddha dan Muslim minoritas Rohingya.

Kantor Presiden Aung San Suu Kyi mengatakan pada halaman Facebook menyebut serangan itu terjadi bertepatan dengan rilis laporan Annan.

Polisi setempat mengatakan serangan simultan menargetkan setidaknya 26 pos polisi, polisi penjaga perbatasan dan pasukan keamanan di Rakhine Utara.

“Lebih dari 150 penyerang Muslim yang mengelilingi pos kami dengan parang dan senjata,” kata Htun Naing, seorang perwira polisi penjaga perbatasan Taung Pasa atau Utara Buthidaung.

Peneliti hak asasi manusia PBB dan organisasi independen menyebutkan bahwa tentara dan polisi membunuh dan memperkosa warga sipil dan membakar lebih dari 1.000 rumah selama operasi.

Sejak itu, terus terjadi peningkatan gerakan pemberontak kaum muslim Rohingya yang tertindas, mengancam untuk melawan penindasan dan perlawanan.

Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa, lebih dari 80.000 warga Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak bulan Oktober lalu.

Komisi Rakhine, yang didirikan pada Agustus 2016 oleh perintah Suu Kyi, melaporkan situasi di negara bagian Rakhine menjadi lebih berbahaya dan memerlukan upaya berkelanjutan dan terkoordinasi oleh otoritas sipil dan militer.

Komisi mempunyai enam anggota dari rezim Myanmar dan tiga orang asing, termasuk Annan.

“Kecuali tindakan terpadu dipimpin oleh pemerintah dan dibantu oleh semua sektor pemerintah dan masyarakat perlu diambil segera.”

“Karena ini berisiko pada kekerasan dan radikalisasi, yang akan lebih memperdalam kemiskinan kronis yang menimpa negara bagian Rakhine,” Annan mengatakan pada konferensi pers di Yangon untuk menyajikan laporannya.

(AB)

baca juga, IDIEOLOG JIHAD TEKANKAN PARA KOMANDAN KUASAI FIKIH MUWAZANAH