Duniaekspress, 25 Agustus 2017- Kepolisan Kasmir menyatakan tentara India membunuh seorang siswa berusia 19 tahun yang mereka anggap sebagai pejuang kemerdekaan Kasmir.

Penembakan secara berutal militer India yang menewaskan Shahid Bashir Mir, menyebabkan demonstrasi pada hari Kamis (23/8) di Handwara bagian Kasmir utara yang dibawah kuasa India.

Bentrokan terjadi antara warga desa Daril Tarthpora dengan polisi karena mereka menuntut dilakukan proses hukum terhadap tentara yang terlibat dalam pembunuhan Mir.

Pengunjuk rasa mengusung jenazah Mir di peti mati, para demonstran menolak untuk mengubur jenazah Mr sampai proses penyidikan atas kematiannya dilakukan.

Hasil gambar untuk demo di kashmir

Kepala polisi Kashmir Muneer Khan mengatakan kepada wartawan bahwa Mir adalah seorang sipil dan tidak ada senjata yang ditemukan.

“Bagaimana dia terbunuh adalah masalah penyelidikan,” kata Khan.

Tentara India pada hari Selasa telah mengklaim bahwa mereka membunuh seorang “militan” saat baku tembak di sebuah hutan desa.

Penduduk setempat mengidentifikasi pemuda tersebut sebagai mahasiswa dari Degree College Handwara yang mereka katakan telah hilang selama dua hari.

Anggota keluarga Mir mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia dijemput pada hari Senin oleh sebuah konvoi tentara dan sejak itu hilang.

“Kami tidak melihat dia setelah hari itu, saya telah mencari ke semua tempat, ke hutan, ke setiap desa, tapi saya tidak dapat menemukannya,” kata ayah Shahid, Bashir Ahmad Mir.

“Suatu hari saya mendapat telepon dari kantor polisi untuk mengidentifikasi mayat. Ketika kami melihatnya, tubuh anak laki-laki saya terkoyak dan wajahnya rusak. Kami terkejut,” kata Mir.

Karena takut protes keras, pemerintah menutup perguruan tinggi dan sekolah di Kashmir utara.

“Kita tidak bisa membiarkan pemuda terbunuh seperti ini,” kata pemrotes Nazir Ahmad kepada Al Jazeera. “Lebih baik bergabung dengan pejuang dan bertempur hingga mati dari pada dibunuh seperti ini tanpa jelas apa kejahatan yang dilakukannya, berapa lama pertumpahan darah ini akan berlanjut?”

Aktivis hak asasi manusia Khurram Parvez mengklaim bahwa ada hadiah finansial untuk membunuh pejuang.

“Tentara melakukan tindakan semacam itu untuk keuntungan finansial, mereka ingin membunuh warga sipil dan menyebarkannya sebagai militan karena mereka mendapat imbalan uang besar untuk membunuh seorang militan di Kashmir,” katanya kepada Al Jazeera.

“Bahkan jika militansi berakhir di Kashmir, tentara India tidak akan berhenti membunuh orang karena mereka ingin memperoleh keuntungan darinya,” katanya.

(IF)

baca juga, SERANGAN UDARA AS TEWASKAN 12 PENGUNGSI