Duniaekspress, 29 agustus 2017. –  Syaikh Abu Qotadah Al-Filasthini berkata, “Imam Bukhôrî meriwayatkan dalam Shohih-nya: Bahwasanya ada seorang wanita dari Himsh datang kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq, ia berkata: “Apakah yang bisa menjadikan kita tetap bertahan di atas perkara yang baik –Islam—di mana Alloh telah mendatangkannya setelah kejahiliyahan?” beliau menjawab, “Bertahannya kalian adalah selama para pemimpin kalian istiqomah.” Wanita itu bertanya, “Siapa para pemimpin yang engkau maksud?” beliau berkata, “Bukankah dalam kaummu ada ketua-ketua dan para pemuka yang ketika memerintah ditaati?” “Benar,” jawabnya. Beliau berkata, “Mereka itulah para pemimpin.”

Kebaikan para pemimpin sendiri adalah ketika mereka melaksanakan ajaran Islam, memberlakukan syariat Dzat Yang Maha pengasih dan menyebarkan keadilan dalam hukum. Sedangkan rusaknya mereka adalah ketika meninggalkan agama Alloh Ta‘ala dan tidak mau menegakkannya di tengah manusia. Dalam hadits tadi, Abu Bakar Radhiyallohu ‘anhu mengkaitkan rusaknya manusia dengan rusaknya para pemimpin: “…selama para pemimpin kalian istiqomah…”
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bârî ketika menerangkan hadits ini: “Karena manusia tergantung agama penguasanya, maka kalau ada penguasa yang menyimpang, ia akan sesat dan menyesatkan.”
Mengingat pentingnya peran dan nilai penguasa dalam kehidupan, Alloh sebagai Dzat yang membuat syariat memerintahkan dan mendorong kaum muslimin untuk mengawasi mereka, sehingga kita mereka melakukan penyimpangan bisa diluruskan, walaupun ini akan membahayakan orang yang menasehati dan meluruskan mereka. Rosululloh SAW bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah kalimat haq di hadapan penguasa jahat.” HR. Ahmad dengan sanad shohih.
Ini adalah untuk penguasa yang masih muslim. Adapun penguasa yang kafir, kaum muslimin wajib mencopot dan menurunkannya. Al-Qodhi Iyadh berkata, “Kalau pemimpin tiba-tiba melakukan kekufuran, merubah syariat dan melakukan kebidahan, hukum kekuasaan tidak berlaku lagi dan ketaatan kepadanya gugur sudah. Kaum muslimin wajib melawan dan mencopotnya.”

(Dari makalah berjudul: Maqoolaat baina Manhajain: hal. 10)

(AB)

baca juga, KHILAFAH ALA ISIS/IS BAGAIKAN FAJAR KADZIB