Ideolog Jihad: Jihad Butuh Keterlibatan Ummat!

Duniaekspress, 29 agustus 2017. –

Dr. Sami Al-Uraidi, salah satu tokoh dan pemikir jihad, kembali membuat artikel mengenai manhaj harakah jihad. Salah satu tokoh yang dulu pernah menjabat dewan Syar’i Jabhah Nushrah tersebut menjelaskan detail bagaimana sebuah organisasi jihad membenahi diri mereka berdasarkan dasar-dasar syar’i.

Berikut terjemahan lengkap artikel Dr. Sami Al-Uraidi yang kami kutip dari situs jihadologi.net

***

Beberapa kesempatan yang lalu—dan juga pada kesempatan yang lainnya, kami sempat membaca artikel dari beberapa penulis, terkhusus para penulis muda yang masih baru dalam jalan ini (jihad). Mereka membedakan antara jihad ummat dan keikutsertaan mereka dalam jihad fardhu ‘ain yang terjadi hari ini dengan manhaj harakah jihad (metodologi pergerakan jihad). Anda akan mendapati salah seorang di antara mereka menukilkan setiap statemen salah seorang tokoh (jihad) yang ia anggap mendukung pendapatnya.

Saya tidak bermaksud mengomentari opini dan pandangan seperti itu lantaran kekeliruan dan ketidakbenarannya yang begitu jelas bagi mereka yang mengetahui manhaj harakah jihad dan pernyataan para komandan dan ulamanya.

Tetapi, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian saudara kami tercinta, terdapat beberapa kalangan jihadi yang belum sempat menelaah pernyataan para komandan dan ulama harakah jihad ini. Untuk itu, saya sangat ingin menulis artikel tentang ini dalam bentuk yang ringkas, dengan harapan semoga Allah memberi taufik dan pertolongan, serta menerima (amal usaha) ini.

Dengan memohon pertolongan Allah, saya katakan bahwa pembedaan (antara jihad ummat dan jihad harakah jihad) seperti itu merupakan pembedaan yang keliru, bahkan salah sejak dari dasarnya. Mereka yang menelaah warisan (intelektual) harakah jihad, baik yang dahulu maupun sekarang, akan menemukan bahwa manhaj mereka sangat jelas rambu-rambu, pokok-pokok, dan kaidah-kaidahnya. Ia akan mendapatkan bahwa di antara rambu-rambu, pokok-pokok, dan kaidah-kaidah terpenting warisan intelektual dan manhaj jihadi ini yaitu bekerja, berusaha, dan menyerukan keterlibatan umat dalam berjihad melawan musuh-musuh mereka, atau jihad ummat.

Pokok dan rambu-rambu ini begitu masyhur, tersebar dan populer dalam karya-karya, buku-buku, dan statemen-statemen para ulama dan komandan harakah jihad. Namun mereka (para ulama dan komandan jihad tersebut) menyebutkan beberapa ketentuan terkait pokok dan rambu-rambu ini. Hal ini guna menjaga agar tidak terjadi penyelewengan dari pokok, rambu-rambu, misi, visi yang sebenarnya.

Di antara ketentuan dan acuan terpentingnya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Abu Mush’ab as-Suri—semoga Allah segera membebaskannya—yaitu dengan tetap menjaga tsawabit dan ushul manhaj & dakwah (pokok-pokok manhaj dan dakwah yang baku). Dalam ad-Da’wah al-Muqawamah, ia menulis, “Keempat: berpegang pada metode menghasung ummat untuk melakukan perlawanan tanpa mengabaikan pokok-pokok manhaj yang bersifat baku.”

Pada tempat yang lain dalam ad-Da’wah al-Muqawamah ia juga menulis, “Tidak ada perang (perang belum bisa dilakukan) tanpa aqidah jihadiyyah shahihah (ideologi jihad yang benar) yang dibangun di atas dasar-dasar akidah Islam yang komprehensif lagi kuat. Yang dengannya keyakinan bisa menjadi kokoh, hukum-hukum bisa dipatuhi, akhlak-akhlak yaitu akhlak qital (perang), hukum-hukum, adab-adab, serta ketentuan-ketentuan terhadap musuh dan teman dapat terjaga. Ini karena ia (Islam) adalah agama yang sempurna. …. ”

“(Pilihannya yaitu) berjihad berdasarkan dasar-dasar agama; atau berperang asal membunuh, menyebabkan korban yang besar, dan menyebabkan terjadinya fitnah, semoga Allah melindungi kita darinya.”

“Dan di sinilah letak tanggung jawab para ulama dan komandan pergerakan Islam untuk terjun langsung ke lapangan guna mengarahkan jihad dan perlawanan. Setiap orang memiliki perannya masing-masing … Ya Allah! Sungguh kami telah meyampaikannya, maka saksikanlah. Ya Allah bantulah kami untuk menyampaikan dan mendakwahkannya di atas bashirah (berdasarkan ilmu), berjihad di atas bashirah, dan meraih syahid dalam jalan-Mu berdasarkan bashirah.”

Di bagian lain dalam ad-Da’wah al-Muqawamah, Abu Mush’ab as-Suri juga menyebutkan, “Berdasarkan hal ini, maka kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang menjadi landasan berpikir dan beramal dapat dibagi menjadi dua: (pertama) pokok-pokok agama dan keyakinan serta kaidah-kaidah manhaj yang kokoh dan bersifat baku. Dalam berinteraksi dengan hal ini adalah berdasarkan kaidah, ‘Ketetapan yang telah Allah ta’ala tentukan. Kita tidak berhak untuk mendahuluinya atau menangguhkannya.’ Dan (kedua), persoalan yang bisa berubah berdasarkan situasi dan kondisi. Ranah ini merupakan medan perlombaan untuk mengadu nalar (ide), pemahaman, keahlian, dan pengalaman (yang terbaik). Inovasi dalam ranah ini yaitu berdasarkan kaidah, ‘Suatu yang merupakan persoalan ijtihad, perang, dan tipu daya’.”

Hikmah kedua yang penting dalam memahami warisan yang agung ini yaitu mengajarkan bagaimana berinterkasi dengan persoalan-persoalan yang bersifat baku dan persoalan yang bisa berubah (sesuai situasi dan kondisi) dalam ranah akidah, dan juga dalam bekerja di lapangan serta dalam tahap implementasinya, kepada para komandan, para prajurit, dan setiap orang yang hidup setelah Rasulullah saw dan para sahabatnya yang mulia.

Setiap orang harus menggunakan secara aktif akal yang telah Allah anugerahkan kepadanya, yang dengan akal itu manusia dibebankan taklif dalam setiap persoalan yang sedang dihadapinya. Selain itu, seseorang juga seyogianya bertanya dan meminta penjelasan terhadap persoalan yang belum ia ketahui.

Ia dapat bertanya kepada ulama terkait persoalan yang sedang dihadapinya, apakah itu termasuk persoalan akidah dan hukum (fikih) yang bersifat baku? Sehingga dalam kondisi itu ia harus taat dan tunduk (tidak mendahului dan tidak menangguhkannya). Atau persoalan tersebut merupakan bagian dari ijtihad, ide, perang, tipu daya, dan sejenisnya yang merupakan bagian dari sisi-sisi aktivitas manusia?

Jika ia mendapatkan penjelasan bahwa hal itu merupakan bagian dari ini, maka hendaknya ia mengedepankan akal, keahlian, dan ijtihadnya dengan penuh keberanian, beradab dan tanggung jawab. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat yang mulia.

Sementara untuk setiap komandan yang diuji Allah untuk membuat suatu keputusan, seyogianya ia berlapang dada dan mendengarkan dengan seksama (usulan bawahannya). Ia juga hendaknya memotivasi prajuritnya untuk bersama-sama merasa bertanggungjawab memikirkan, memberi usul serta terobosan-terobosan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Padahal beliau adalah orang yang tidak membutuhkan semua hal itu apabila turun wahyu terkait dengannya. Tetapi beliau rela menginggalkan pendapatnya manakala terdapat pendapat seorang mujtahid yang berpengalaman, jika pendapat itu memang lebih tepat. Dan hendaknya para komandan berkata setelah mengutarakan pendapatnya sebagaimana pernyataan Rasulullah saw, “Ini hanya sekedar pendapatku.” Bahkan beliau lebih menerima pendapat yang diusulkan sahabatnya.

Membedakan antara manhaj harakah jihad dengan jihad ummat merupakan pembedaan yang tidak pada tempatnya. Pembedaan itu menyelisihi seruan harakah yang diberkati ini. Ini karena jihad ummat dan menghasung mereka untuk melakukan perlawanan merupakan kaidah dan pokok penting dari pokok-pokok manhaj dan pemikiran jihad. Keduanya (jihad ummat dan manhaj harakah jihad) tidak bisa terpisahkan, dan tidak ada perbedaan antara keduanya. Dengan melihat sekilas pada warisan para pionir harakah jihad yang diberkati seperti Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Usamah bin Laden, Syaikh Abu Mush’ab as-Suri, Syaikh ‘Athiyatullah al-Libi, Dr. Aiman azh-Zhawahiri dan lainnya, akan mengetahui kebenaran hal itu.

Tidak hanya itu, harakah jihad—yang Al Qaeda salah satu di antaranya—bahkan telah mengimplementasikan
dan berkomitmen terhadap pokok dan rambu-rambu ini dalam kerja lapangan dan jihad mereka, melebihi apa yang telah dilakukan oleh selain mereka.

Abu Mush’ab as-Suri sendiri telah memberikan kesaksian kepada harakah jihad (Al Qaeda), atas kedudukannya, dan perannya. Hal itu merupakan kesaksian dari salah seorang pionir senior penyeru al-muqawamah al-‘alamiyyah (perlawanan global) dan jihad ummat. Ia berkata, “Dalam pandanganku, organisasi satu-satunya yang dimensi amal pergerakannya banyak dibangun berdasarkan pokok-pokok yang menyerupai ide-ide yang memuaskanku yaitu tanzhim (organisasi) Syaikh Usamah bin Laden (Al Qaeda). Mereka telah mengetahui—terutama Syaikh Usamah, dan wakilnya Abu Hafsh—bahwa era tanzhim qathariyyah al-mahalliyyah (organisasi lokal-regional) telah berlalu, dan tidak cocok lagi untuk fase ke depan. Yang wajib dilakukan adalah menghasung ummat untuk menghadapi musuh luar yang direpresentasikan oleh Amerika, dan fokus pada slogan ‘mengeluarkan mereka (Amerika) dari jazirah Arab’ dan menggabungkan hal ini dengan dimensi pertempuran terhadap Yahudi tentang persoalan Palestina dan Al Aqsha, serta dimensi membela permusuhan Amerika atas umat Islam. Inilah kesimpulan yang dapat kucapai pada tahun 1990. Sejak saat itu, saya juga telah banyak merekam beberapa ceramah dan tulisan terkait hal itu.”

Alhamdulillah, harakah jihad—di antaranya Al Qaeda—menjalankan (metode) jihad ummat, menyerukan dan menjaganya. Barang siapa yang membedakan antara keduanya (jihad ummat dan manhaj harakah jihad) maka ia telah menjauhi kebenaran. Dan barang siapa yang mengklaim bahwa seruan dan manhaj mereka berbeda dengan jihad ummat dan menghasung mereka untuk ikut serta dan melakukan perlawanan, maka ia juga telah menjauhi kebenaran.

Manhaj jihad merupakan bagian penting dan bagian paling pokok dari jihad ummat. Harakah jihadlah yang merupakan pionir yang berusaha mengembalikan kemuliaan umat pada zaman ini. Tetap berada di atas ushul manhaj (pokok-pokok metodologi jihad) dan menjelaskannya kepada ummat adalah tameng keamanan bagi jihad ummat dari penyelewengan, sehingga tidak memberi celah buat para pencuri buah jihad; baik mereka adalah para ghulat, tughat (para diktator), atau orang yang menyimpang.

Jika dahulu menjelaskan pokok-pokok manhaj (jihad) ini dan menyerukannya merupakan bagian dari tugas penting, maka kebutuhan untuk hal itu pada hari ini lebih penting lagi. Apalagi dengan bercampur-baurnya banyak manhaj dan pemikiran dalam jalan (jihad) ini. Kami memandang bahwa ada segelintir orang yang ingin memanipulasi seruan (jihad) yang diberkati ini dan berusaha menyelewengkan arahnya. Usaha menjelaskan ini seyogianya tetap bersinergi dengan kewajiban untuk terus menjelaskan bahwa mempertahankan negeri dari agresi musuh kepada umat, serta menyeru umat, kelompok-kelompok, dan juga person-person untuk terlibat dalam jihad yang fardhu ‘ain hari ini. Semua hal ini tidak saling kontradiksi sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Mush’ab as-Suri, ” berpegang pada metode menghasung ummat untuk melakukan perlawanan tanpa mengabaikan pokok-pokok manhaj yang bersifat baku.”

Pokok-pokok yang baku tetaplah baku; seperti hakimiyyah (hak menentukan hukum mutlak pada Allah), wala dan bara’, (kejelasan) bendera, kewajiban mempertahankan negeri dari agresi musuh (daf’u ash-sha`il), kewajiban waspada dan berhati-hati terhadap makar musuh dan tidak terperdaya oleh ajakan mereka, dan sebagainya. Ini seluruhnya—dan sejenisnya—tidak saling kontradiksi dan bertentangan dengan jihad ummat. Sebagaimana kebutuhan untuk menjelaskannya (manhaj jihad ummat) dan menyerukannya tetap terus berlanjut; bahkan lebih dibutuhkan. Sementara pendapat bahwa pada hari ini hal itu tidak lagi dibutuhkan merupakan pandapat yang perlu direnungi lagi. Wallahu a’lam.

Ya Allah, hanya kepada-Mu lah kami memohon petunjuk dan keteguhan.

Ditulis oleh Dr. Sami al-‘Uraidi–semoga Allah mengampuninya.

Dzulqa’dah 1438 H

Sumber:  jihadology.net

(AB/duniaekspress/seraamedia)

baca juga, JIHAD BUKAN HANYA KEKUATAN FISIK TAPI JUGA BUTUH KEAHLIAN DALAM SEGALA BIDANG