Duniaekspress, 2 September 2017,

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 22:37)

Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang saat insan yang berkurban menuju tempat penyembelihan hewan kurban.  Walau kondisi ekonomi saat ini banyak yang dikeluhkan, termasuk naiknya lisrik dan gencarnya berbagai pajak, di tengah berita miris korupsi E-KTP yang jumlahnya menggila.

Namun kondisi umat Islam nun jauh di sana jauh lebih buruk, kita lihat Rohingya karena aqidahnya mereka ditembaki tentara, kita lihat Suriyah bom-bom barel berjatuhan bahkan bom kimia yang dampaknya meracuni  dengan meluas harus mereka rasakan. Anehnya pengikut ISIS/IS yang ditangkap di Antapani Bandung beberapa waktu yang lalu hendak meledakkan bom yang efeknya hampir sama seperti di Suriyah, yaitu bom yang menyebabkan efek radiasi meluas. Bom yang dikenal sebagai “dirty bomb” ini diajarkan Bahrun Naim dengan tujuan teror kepada ummat Islam Indonesia yang mana pemahamannya tentang Islam tidak jauh beda dengan ummat Islam Suriyah atau Palestina, karena bom seperti ini bukan hanya mencelakakan target tapi memiliki efek merusak secara luas. Entah apa yang difikirkan orang-orang takfiri macam begini yang sebenarnya tidak jauh dengan pengikut bashar assad.

Kita tidak akan sampai pada pengurbanan yang sebenarnya jika kita tidak merasakan atau empati terhadap penderitaan umat Islam nun di sana. Padahal tujuan qurban itu sendiri adalah pembuktian bahwa kita lebih mencintai Alloh subhaana wata’aala dengan menyisihkan dana kita untuk  membeli hewan qurban dan dagingnya disebar kepada ummat untuk dinikmati bersama. Sebenarnya hakikat berqurban mengajarkan kita untuk empati terhadap ummat yang kurang mampu dalam memenuhi gizi mereka. Bagaimana kita disebut mencintai Alloh jika kita tidak mencintai nasib umat Islam padahal Alloh menyampaikan melalui RasulNya bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh, yang mana jika salah satu bagian tubuh sakit maka tubuh lain akan merasakannya.

Alhamdulillah dengan canggihnya teknologi komunikasi dan transportasi kita dapat berqurban untuk didistribusikan di tempat-tempat yang lebih membutuhkan. Terutama di daerah-daerah yang merasakan ganasnya kejahatan orang-orang kafir nun jauh di sana. Kita bahkan dapat melihat secara langsung proses penyembelihan tersebut dengan video chat. Lepas dari pro kontra masalah ini namun ketidakmampuan kita untuk hadir di medan jihad setidaknya terobati dengan senyum anak-anak yang bahagia mendapatkan jatah daging qurban. Karena semestinya qurban yang lebih besar dan afdhol itu adalah kita meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk berjihad membela kaum muslimin yang ditindas dan menegakkan kemuliaan Islam dari diinjak-injak kekuatan kekafiran.

 

(Team editorial)

BERANDA