Duniaekspress, 6 September 2017. – Jihad adalah amalan yang tertinggi dalam islam, dan sebagai puncaknya ibadah. Dan jihad merupakan suatu kewajiban bagi orang-orang muslim yang telah baligh sebagaimana syari’at islam mengaturnya.

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?, padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” – (QS.9:38)

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.(QS 4 :75).

Rasulallah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Jihad itu wajib baik bersama amir yang sholeh maupun yang fajir(fasiq)” HR.Abu Daud.

dan dalam hadist :

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali jiwa muslim dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan laki-laki fajir.

Bahkan Imam Bukhari menjadikannya sebagai judul bab: Bab Sesungguhnya Allah menguatkan (menolong) dien ini dengan laki-laki fajir.

Hadits tersebut menceritakan tentang seseorang yang sangat pemberani dalam berperang. Para sahabat mengaguminya. Tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersaksikan bahwa ia sebagai penghuni neraka.

Dan ternyata benar sabda beliau ini. Saat perang berkecamuk, ia bertarung dengan sangat semangat dan ksatria. Lalu ia terluka parah. Sampai di suatu malam ia tak tahan dengan sakitnya. Ia tak sabar atas lukanya. Lalu ia bunuh diri.

Kemudian disampaikanlah berita itu kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lantas beliau bertakbir “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”

Kemudian beliau memerintahkan kepada Bilal agar mengumpulkan orang untuk menyampaikan, “Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali jiwa muslim dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan laki-laki fajir.”

Bahwa terkadang seseorang itu terlihat hebat di mata manusia, tapi sebenarnya ia menyimpan sesuatu yang berlainan dengan itu, sehingga Allah memperlihatkannya pada akhir hayatnya.

Sehingga seorang muslim tidak boleh tertipu dengan amalnya sehingga sangat membanggakannya dan membuatnya sombong. Tidak boleh pula ia bersandar kepada amalnya tersebut dan melupakan Allah Ta’ala. Ia harus senantiasa takut dari tertolaknya amal, meminta rahmat Allah atas amalnya sehingga diterima dan diampuni dosanya.

Dan hendaknya ia terus meminta keteguhan dan hidayah kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala-Nya, berbuat apa yang diinginkan-Nya, dan memutuskan apa yang Dia kehendaki.

Dan sesungguhnya seseorang adakalanya sangat hebat di medan jihad, dan itu baik untuk pasukan. Sementara kefajirannya untuk dirinya sendiri. Ia merugi karenanya.

Oleh sebab itu, seorang mujahid wajiblah memperhatikan niat dan kondisi dirinya agar ia tidak merugi dalam amal jihadnya. Wallahu Ta’ala A’lam.

(AB)

baca juga, JIHAD BUTUH KETERLIBATAN UMMAT