Duniaekspress, 8 september 2017. – Deir Zour – Organisasi Khilafah Islamiyah ala al-baghdady (ISIS) di provinsi Deir Zour, Suriah, baru-baru ini dilaporkan mengalami kebingungan dalam barisannya. Kondisi itu disebabkan terjadi “konflik fatwa” di kalangan ulama ISIS/IS, bahkan terkadang terjadi penarikan fatwa.

Jaringan berita Furat Post, yang intens memantau kabar Deir Zour, seperti dilansir Al-Quds Al-Arabi pada Kamis (07/09), mengatakan bahwa kondisi itu diperparah karena hilangnya para pemimpin senior mereka di lapangan. Banyak komandan ISIS/IS dibunuh, gugur dalam bertempur, melarikan diri atau terbunuh akibat operasi pasukan khusus koalisi AS, yang baru-baru ini meningkat.

Seorang sumber dekat dengan ISIS/IS, jelas Furat Pers, kebingungan itu terus meningkat bersamaan dengan kabar simpang siurnya kematian pemimpin mereka Abu Bakar Al-Baghdadi. Praktis, komando dipegang oleh Dewan Syura atau yang dikenal Al-Qaradish (nama ini disandarkan pada markas rahasia Dewan Syura di Deir Zour.

Kesenjangan antara sesama komandan yang masih hidup semakin melebar beberapa pekan terakhir. Tak hanya di tingkat komandan lapangan, kesenjangan itu juga mulai terjadi di tingkat komandan inti dan juga ulama.

Bukti kuat yang menunjukkan perpecahan di dalam tubuh ISIS/IS di Deir Zour terlihat dari fatwa dan keputusan yang keluar. Seperti contoh, keputusan Nafiir Aam atau wajib militer. Pemimpin ISIS/IS “Wilayat Al-Khair”, Abu Aisyah Al-Jazairi, termasuk korban terbesarnya. Ia ditangkap karena dituduh “lalai atas kaburnya para komandan lapangan dari wilayah ISIS/IS”. Keputusan tersebut juga menyebabkan kasus banyak perpindahan menuju daerah lain.

Perpecahan paling menonjol terjadi setelah terbunuhnya Mufti ISIS/IS warga negara Bahrain, Turky Benali akibat serangan udara di kota Al-‘Asyarah. Musibah tersebut disusul perselisihan tajam antara senior Dewan Syarian di kota Al-Mayaden. Klimaksnya, Menteri Pendidikan Wilayat Al-Khair Said Al-Ghannas (sebelum gabung, dia dejebloskan ke penjara oleh ISIS/IS karena mengkafirkan ISIS/IS), Abu Abdullah Al-Kuwaiti dan Abu Turab Al-Liby mengeluarkan fatwa yang mengungkapkan bahwa para pendahulu mereka, seperti Abu Mush’ab Al-Zarqawi, Abu Umar Al-Baghdadi dan Turki Benali berpaham khawarij. Mereka beralasan, para pendiri IS (saat ini ISIS) itu tidak menganggap murtad orang yang bodoh dalam urusan agama, maksudnya mereka (para pendiri IS) menganggap kafir karena kebodohan tidak kafir.

Perselisihan ini pun memaksa Dinas Keamanan ISIS turun tangan dan menangkapi kelompok pendukung pemikiran Ghannas. Perintah ini keluar dari Amir Pelatihan Syariah, Abu Shuhaib Al-Iraqi, Abu Abdurrahman Al-Idliby dan Abu Hisam At-Tunisi. Orang-orang yang ditangkap tersebut sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Seperti diketahui, koalisi AS menerapkan strategi menghabisi para komandan ISIS/IS. Operasi dilakukan melalui serangan udara atau penerjunan pasukan khusus. Langkah itu dianggap efektif untuk melemakan gerakan yang lahir di Irak tersebut.

Sumber: Al-Quds Al-Araby

(AB)

baca juga, Inilah Calon Terkuat Pengganti Al Baghdadi