HUKUM JIHAD BAGI PEREMPUAN

bagian II 

Duniaekspress, 9 September 2017. –

baca sebelumnya, NASH-NASH SYAR’IE YANG MENERANGKAN JIHAD WANITA

Syekh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz berkata : “ Wajibnya jihad kepada kaum wanita ketika jihad itu fardlu ‘ain sebagaimana yang disebutkan oleh para fuqoha’ – ahli fiqih –, adalah merupakan pendapat yang meski dikaji ulang. Sebagian orang menyangka bahwasanya masalah ini telah menjadi ijma’ – kesepakatan – para ulama, atau ini adalah pendapat jumhur – kebanyakan – ulama’, padahal tidaklah seperti itu.
Orang-orang yang mengatakan wajibnya jihad bagi perempuan di seluruh jihad yang hukumnya ‘ain, maka mereka mengambil hukum ini dari kaidah fikih yang menyatakan bahwa fardhu ‘ain itu wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mukallaf – baligh dan berakal – dengan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seperti yang telah aku nukilkan dari Al Kasani dari kalangan madzhab Hanafi, dan Ar Romli dari madzhab Syafi’i.
Namun nash-nash syar’i yang berbicara tentang jihad yang khusus bagi wanita menyelisihi kaidah ini, dan kita wajib mengikuti nas tersebut. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut :
Bukhori meriwayatkan dalam kitab Shohih beliau pada Kitabul Jihad –– Bab Jihadun Nisa’ —, ‘Aisyah mengatakan:
استأذنت النبي صلى الله عليه وسلم في الجهاد، فقال جهادكن الحج
“ Aku – ‘Aisyah – minta izin kepada nabi shollallahu ‘alaihi wasallam untuk berjihad, maka beliau bersabda : Jihad kalian adalah Haji “.
Ibnu Hajar berkata : Ibnu Batol berkata : “ Semua hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah menerangkan bahwa jihad itu hukumnya tidak wajib bagi wanita. Akan tetapi hadits rosul yang berbunyi“ Jihad kalian adalah Haji “ bukan berarti perempuan tidak boleh ikut berperang (perempuan tidak wajib berperang namun ia boleh ikut berperang-pent.).
Dan di dalam riwayat Ahmad bin Hambal dari ‘Aisyah, beliau berkata :
قلت: يا رسول الله هل على النساء جهاد؟ قال: جهاد لا قتال فيه: الحج والعمرة
“ Aku – ‘Aisyah – bertanya : Wahai rosulullah ! apakah wanita itu wajib berjihad? beliau menjawab : Jihad tanpa peperangan, yaitu Haji dan Umroh “.
Hadits ini menerangkan bahwa wanita itu tidak diperintah berjihad, dengan tanpa membedakan apakah jihad yang hukumnya fardhu kifayah ataukah yang fardhu ‘ain. Begitu juga para pensyarahh hadits tersebut —Ibnu Hajar dan Ibnu Batol — tidak membedakan antara dua hukum fardhu ini bagi perempuan.
Dan Jihad pada masa nabi shollallahu ‘alaihi wasallam banyak yang hukumnya adalah fardlu ‘ain, namun kita tidak dapatkan satu nash walaupun yang dho’if sekalipun yang menyebutkan bahwa nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan wanita, yang dapat kita jadikan pengkhusus dari hadiits ‘Aisyah yang lalu.
Di antara kondisi-kondisi yang menjadikan jihad far’dlu ‘ain adalah, jika imam mengadakan mobilisasi umum – untuk berperang – maka ketika itu semuanya orang harus berangkat berperang. Kondisi ini adalah sebagaimana perang Tabuk nabi shollallahu ‘alaihi wasallam tidak memobilisasi hanya kepada satu kaum saja dan membiarkan yang lain, akan tetapi beliau memobilisasi secara umum. Hal ini dijelaskan dalam firman Alloh Ta’ala yang menerangkan tentang perang Tabuk ini, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمْ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu :”Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu meresa berat dan ingin tinggal ditempatmu. (QS. 9:38)

Dan sudak menjadi maklum bahwa kalimat;“ Wahai orang-orang yang beriman “,seruan ini mencakup laki-laki dan wanita. Akan tetapi para wanita tidak ikut keluar dalam peperangan ini. Sebagaimana yang diakatakan oleh Ali bin abi Tholib, ketika beliau diminta oleh rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk menggantikan kedudukan nabi sebagai pemimpin di Madinah. Ketika itu Ali berkata : “ Apakah engkau akan meninggalkan aku beserta kaum wanita dan anakanak ? “. Ini menunjukkan bahwa mobilisasi umum yang diserukan oleh rosul tidak mencakup kepada wanita, dan selanjutnya tetaplah hadits ‘Aisyah di atas berlaku secara umum tanpa ada pengecualian.

Dan kondisi lain yang menjadikan jihad fardlu ‘ain adalah ketika orang-orang kafir datang menyerang sebuah negeri – kaum muslimin -, maka bagi penduduk negeri tersebut wajib memerangi dan dan mempertahankannya. Kasus ini terjadi pada masa nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yaitu pada perang Khondaq. Alllah Ta’ala berfirman :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu. (QS. 33:10)

Namun pada saat itu kaum wanita pun yang keluar untuk berperang dalam peperangan ini, akan tetapi mereka disuruh tinggal di dalam benteng.

Juga perkataan Ibnu qudamah Al Hambali juga mengesankan pendapat seperti ini: “Permasalahan: Jika ada musuh datang, maka tiap orang harus keluar untuk berperang baik yang sedikit bebannya maupun yang banyak, dan tidak ada yang boleh keluar menyerang musuh kecuali setelah mendapatkan izin dari Amir, kecuali jika musuh menyerang dengan tiba-tiba dan menyergap sehingga tidak memungkinkan lagi mereka meminta izin kepada Amir “.

Adapun maksud dari perkataan “ Yang sedikit bebannya atau yang benyak “, adalah “ Yang kaya atau yang miskin “.—wallohu a’lam— Maksudnya “ Yang sedikit dan yang banyak harta bendanya “. Dan maknanya adalah bahwa kewajiban berperang itu berlaku untuk semua orang yang mempunyai kelayakan berperang ketika mereka diperlukan karena datangnya serbuan musuh kepada mereka, maka pada saat itu tidak boleh seorang pun ketinggalan, kecuali orang yang dibutuhkan untuk menjaga tempat, keluarga dan harta-benda “.

Adapun maksud perkataan Ibnu Qudamah yang berbunyi “ Untuk menjaga tempat dan keluarga “ mengesankan bahwa jihad itu tidak diwajibkan bagi wanita pada waktu musuh datang menyerang sebuah negeri.

Begitu juga Ibnu Taimiyyah berkata : “ Dan keadaan lain yang mirip dengan itu (jihad fardlu ‘ain) adalah, ketika musuh menyerang negeri kaum muslimin, sedangkan jumlah pasukan kaum muslimin kurang dari separo pasukan musuh, namun jika mereka mundur musuh akan menguasai kaum wanita, maka kondisi yang seperti ini adalah merupakan qitalu daf’i (perang devensif) bukan qitalu tholab (perang ovensif), yang dalam kondisi seperti ini tidak boleh lari bagaimanapun keadaannya. Dan peristiwa yang terjadi pada perang Uhud adalah peristiwa yang semacam ini.”

Perkataan Ibnu Taimiyah yang berbunyi : “Namun jika pasukan kaum muslimin mundur musuh akan menguasai kaum wanita” menunjukkan bahwa beliau berpendapat wanita itu tidak wajib berperang dalam kondisi semacam ini yang merupakan salah satu kondisi yang jihad ketika itu hukumnya fardlu ‘ain.

Dan dengan dasar ini saya – Abdul Qodir Bin Abdul Aziz – berpendapat bahwa jihad itu tidak wajib bagi wanita dalam seluruh kondisi jihad yang ‘ain, akan tetapi kadang bisa wajib yaitu ketika musuh menyerbu suatu negeri dan masuk ke dalam rumah-rumah yang di dalamnya terdapat wanita, maka pada saat itu bagi wanita harus memeranginya sebagai pembelaan dirinya dan orang yang bersamanya. Telah diriwayatkan oleh Muslim dari anas beliau berkata : “ Bahwasanya Ummu Sulaim membawa golok pada waktu perang Hunain, Abu Tholhah pun melihatnya, maka Abu Tholhah berkata kepada rosulullah : Wahai rosulullah Ummu Sulaim membawa sebilah golok. Lalu rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Ummu Sulaim : Untuk apa golok ini – wahai Ummu Sulaim ?! – Ummu Sulaim menjawab : “ Golok ini aku gunakan membelah perut orang musyrik yang mendekat kepadaku “. – mendengar jawaban Ummu Sulaim – rosulullahpun tertawa “. ( Al Hadits ). Dalam masalah ini juga ada kisah yang dilakukan oleh Shofiyyah binti Abdul Muttolib pada perang Khondaq, seperti yag disebutkan dalam siroh jika kejadian itu shihih periwayatannya.

Namun meskipun jihad itu tidak wajib bagi wanita kecuali dalam kondisi tertentu, ia boleh keluar ikut berperang jika mendapat izin dari Amir. Muslim telah meriwayatkan dari Anas, beliau berkata : Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita anshor, maka para wanita tersebut menuangkan air minum dan mengobati orang-orang yang terluka “.

Dan Muslim meriwayatkan hadits yang sama dari Ibnu Abbas. Namun para fuqoha menghususkan bolehnya ikut berperang ini bagi wanita yang sudah tua dan mereka tidak memperbolehkan wanita yang masih gadis dan wanita yang cantik.

Ibnu Qudamah berkata : “ Al Khorqi berkata : ‘ Wanita tidak boleh masuk ke daerah musuh bersama pasukan kaum muslimin kecuali wanita yang sudah tua, mereka menuangkan air minum dan mengobati orang yang terluka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi shollallahu ‘alaihi wasallam “.

Ringkasan : “ Bahwasanya jika jihad itu diwajibkan bagi wanita dalam kondisi tertentu, maka wanita juga diwajibkan untuk mempersiapkan diri dengan tadrib – latihan – menggunakan senjata. Dan cukuplah bagi wanita dalam masalah ini – mempelajari – senjata yang dibutuhkan untuk penjagaan diri saja, dan yang melatihnya adalah suaminya atau mahrohmnya atau wanita yang sudah tadrib. Memang tidak kami dapatkan nash yang menerangkan dalam masalah tersebut, akan tetapi kami menyimpulkannya dari sikap nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang setuju pada Ummu Sulaim yang menggunakan golok untuk memerangi musuh. Maka kalau wanita menggunakan senjata, wajib baginya untuk latihan menggunakannya. Karena suatu kewajiban bilamana tidak sempurna dalam pelaksananaannya kecuali dengan suatu sarana maka sarana tersebut menjadi wajib. Wallahu Ta’ala a’lam bis showab. ( Lihat dalam kitab Al ‘Umdah Fie I’dadil ‘Uddah lil Jihad Fii Sabiilillaah: Syekh abdul Qodir bin Abdul Aziz : 27 – 30 ).

(AB)

baca juga, BERJIHAD BERSAMA ORANG-ORANG YANG FAJIR