Duniaekspress, 13 September 2017.

Zafar Mahmud, presiden ZFI (Zakat Foundation India), sebuah lembaga donasi yang menolong pengungsi rohingya di New Delhi mengatakan bahwa pengungsi rohingya di India terancam dideportasi oleh India di bawah Perdana Menteri Narendra Modi. Ini dikarenakan mereka muslim. Padahal India didatangi sekitar 300.000 pengungsi dari negara sekitar, namun pengungsi rohingya yang terancam diutamakan dideportasi ke negara asalnya karena mereka beragama Islam.

“Ini sesuai dengan kebijakan yang utama bahwa setiap orang Hindu yang datang dari mana saja dipersilahkan dan bisa mendapatkan visa jangka panjang, tapi jika muslim yang datang maka akan ada kesulitan,” kata Mahmud.

Aktivis hak asasi manusia mengkritik pemerintah india mengenai undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial yang mencakup ketentuan untuk menyambut pengungsi yang menghadapi penganiayaan di negaranya, dengan mengkhususkan “orang Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsi dan Kristen dari Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan”, namun secara khusus mengecualikan umat Islam.

anggota hindu sena, sebuah organisasi sayap kanan hindu berteriak untuk mengusir pengungsi rohingya pada demo 11 September kemarin

“Orang-orang yang tidak bersalah dibunuh dan menghadapi genosida di negara asal kami. Dalam situasi ini, bagaimana Anda bisa mengharapkan kami untuk kembali?” tanya Johar (17), yang melarikan diri dari kota Buthidaung di Negara Bagian Rakhine, sekarang hidupnya di sudut jalan sebagai penjual rokok eceran di New Delhi.

Husein Johar, remaja pengungsi rohingya di India

Rencana pemerintah ini ditentang di Mahkamah Agung, namun seorang pengungsi Rohingya lainnya,  Mohammad Shakil yang berusia 24 tahun, yang juga mengelola sebuah warung pojok merasa khawatir.

“Kami sangat takut dengan rencana pemerintah baru-baru ini untuk mengirim kami kembali ke Myanmar. Bagaimana kita bisa pergi ke negara asal kita jika … genosida dan kekerasan terus berlanjut?” tanyanya.

“Kami lebih memilih mati di sini [di India] daripada kembali.”

(AZ)

BERANDA