Duniaekspress, 14 September 2017- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa kekerasan yang terus berlanjut oleh pasukan keamanan terhadap minoritas Muslim sama sekali tidak dapat diterima, Guterres meminta Myanmar untuk menghentikan tindakan militer dan kekejaman terhadap orang-orang Rohingya di negara bagian Rakhine.

“Situasi kemanusiaan sangat memprihatinkan,” kata Guterres kepada wartawan pada sebuah konferensi pers di markas besar PBB di New York City. Rabu (13/9/2017)

Dia mengatakan telah ada laporan serangan yang mengganggu oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil yang sama sekali tidak dapat diterima.

“Saya meminta pihak berwenang Myanmar untuk menangguhkan tindakan militer, mengakhiri kekerasan, menegakkan supremasi hukum, dan mengakui hak untuk mengembalikan semua orang yang telah meninggalkan negara tersebut,” kata Guterres.

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi telah membatalkan sebuah rencana untuk menghadiri Majelis Umum PBB yang akan datang karena pemerintahnya menghadapi tekanan internasional karena tindakan keras terhadap Rohingya.

Menurut PBB sejak 25 Agustus, lebih dari 370.000 orang Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi keamanan baru di mana pasukan keamanan dan gerombolan Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut Bangladesh, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

(IF)

baca juga, SEKJEN PBB MEMINTA PEMERINTAH MYANMAR LINDUNGI MUSLIM ROHINGYA