Hukum Mengambil Harta Orang Kafir Di Darul Harbi

oleh : Syeikh Anwar Al-Awlaki

di Terjemahkan Oleh : Abdullah Al Muhajir

Alhamdulillah wa sholatu wa salam ala rasulillah,

Duniaekspress, 18 September 2017. – Islam mensyaratkan beberapa syarat yang jelas dalam hal pengambilan harta
orang kafir. Merujuk kepada ulama-ulama klasik kita, adalah sebuah hal yang diperbolehkan
untuk mengambil harta orang kafir untuk tujuan yang berkaitan dengan jihad, sekalipun si pelakunya itu tidak memiliki kekuatan berupa pasukan bersenjata, tidak memiliki imam bahkan bila di dalamnya terdapat halangan-halangan.Karena tidak familiarnya pembahasan ini saya merasa perlu untuk menjelaskannya.

Rasululloh saw bersabda: “aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang,
dijadikan rejeki  ku di bawah naungan tombak ku. Dan kehinaan terhadap siapa
saja yang menyelisihi urusan ku.” (1)

Hadits yang mulia ini, menunjukan beberapa aspek penting tentang agama kita.
Yang pertama:

1.       Nabi muhammad saw itu diutus dengan pedang: rasulullloh saw dan para mujahidin setalah beliau membawa cahaya islam ini  kepada seluruh manusia dengan berjihad fisabilillah.

2.       Sumber rejeki yang paling besar adalah berasal dari rampasan perang dan pekerjaan yang paling utama adalah sebagai tentara di jalan Alloh.

Pemasukan yang dihasilkan dari harta rampasan yang diambil dari orang kafir menggunakan kekuatan  adalah harta yang paling thayyib dari pada harta penghasilan dari perdagangan, kerja sebagai insinyur, dokter atau petani,dll. Itu lah sebabnya dia Alloh tetapkan sebagai sumber penghasilan bagi rasul-Nya muhammad saw. Menjadi seorang mujahid adalah sunnah.

3.       Akibat akhirnya, seluruh musuh nabi muhammad saw dan ummatnya akan
dihinakan dan dipermalukan.

Diriwayatkan bahwa para sahabat yang pindah ke negeri  Syam mereka mulai bercocok tanam karena Syam adalah negeri yang tanahnya subur dengan air yang melimpah, tidak seperti  tanah di negeri  asal mereka di kawasan Hijaz.

Ketika khalifah Umar ra mendengar hal  tersebutbeliau menunggu sampai tibanya masa panen. Tepat sebelum para sahabat menuai panen ladang mereka, khalifah Umar ra langsung memerintahkan semuanya.

Khalifah umar lalu mengumpulkan para sahabat, mengatakan kepada mereka bahwa bertani itu pekerjaan ahlu kitab, adapun kalian harusnya berperang di jalan Alloh. (2)

Umar ra tidak mau para sahabat terikat dengan urusan yang bisa menahan mereka dari berjihad fisabilillah. Menginginkan mereka terbebas dari belunggu yang bisa memperbudak mereka, sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan manusia.

Pernyataan Umar ra ini, mengimplikasikan , orang-orang yang terikat dengan dunia , para ahlu kitab lah yang semustinya melakukan pekerjaan rendahan itu. Adapun kalian orang-orang muslim, seharusnya kalian ini mencari bekal penghidupan dengan kekuatan pedang kalian. Rasululloh saw pernah bekerja sebagai gembala ternak, pernah juga berdagang, tapi itu sebelum islam,sebelum beliau saw diutus sebagai rasul. Setelah beliau saw menerima wahyu, beliau saw meninggalkan semua itu dengan mencurahkan seluruh waktunya untuk menyebarkan islam. Sangat bertentangan dengan yang orang-orang banyak pahami
hari ini.

Rasululloh saw itu tidak bekerja setelah menjadi nabi. Setelah beliau hijrah ke madinah , nafkah hidup beliau berasal dari harta rampasan. Hari ini mungkin beberapa orang muslim merasa tidak nyaman dengan  mempergunakan harta yang diambil secara paksa dari orang kafir, tapi mereka  merasa lebih nyaman kalau itu hasil gajian atau keuntungan dagang. Hal ini tidakbenar.  Pendapatan yang paling bersih, paling baik itu adalah harta rampasan dari orang yang tidak beriman.

Rasululloh saw bersabda: “dan dijadikan halal bagi ku harta rampasanperang..” (3)

Ghanimah Dan Fai

ini adalah dua jenis harta yang diambil dari orang kafir. Berikut adalah
definisinya:

a.       ghanimah adalah harta yang diambil dari orang kafir secara paksa
dengan kekuatan mujahidin dalam rangka li i’la’i kalimatillah. (4)

b.      fai adalah harta yang diambil dari orang kafir tanpa peperangan. (5)

Aturan-Aturan Soal Ghanimah Dan Fai.

Setelah harta ghanimah terkumpul,   darinya (20%) diambil, inilah yang disebut dengan *takhmis. Sisanya yang 80% * dibagikan kepada seluruh pejuang. Tetapi terdapat perbedaan pendapat tentang pembagian yang seperlima (20%) tadi. Ada yang berpendapat dipergunakan seluruhnya untuk urusan jihad. Yang lain berpendapat, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum musliminyang lain mengatakan untuk tunjangan para ulama dan para hakim di negara islam.

Adapun harta fai, maka ini milik kas kaum muslimin di baytul maal. Maka perbedaan antara ghanimah dan fai terletak  pada bagian  atau 80% dari harta ghanimah untuk para mujahidin, sedangkan harta fai, tidak ada satu bagian pun bagi mereka semuanya masuk ke baytul maal. Untuk  dipergunakan kemaslahatan kaum muslimin sesuai kebijakan imam.

(AB)

Bersambung…

baca juga, PERBEDAAN GHONIMAH DENGAN FA’I, JIZYAH, NAFL DAN SALAB