Duniaekspress, 22 September 2017. Setelah banyak kekalahan ISIS  menarik fatwa yang dianggap ekstrim. Keputusan ini dikeluarkan setelah berbulan-bulan kontroversi seputar pendekatan kelompok tersebut dalam memvonis takfir kepada umat Islam lainnya, sebuah kunci isu ideologis.

Pada tanggal 17 Mei, Lajnah Mufawwadhah Daulah IS/ISIS, mengeluarkan sebuah fatwa berjudul, “Agar Orang-orang Yang Binasa itu Binasa dengan Bukti yang Nyata dan Agar Mereka yang Hidup Akan Hidup Dengan Bukti yang Nyata Pula”. Fatwa tersebut dengan cepat menimbulkan perdebatan karena dari pendekatannya yang luas terhadap masalah takfir,  Tapi fatwa tanggal 17 Mei ini membawa masalah yang lebih jauh, tampaknya fatwa tersebut menyingkirkan sedikit fleksibilitas yang dimiliki oleh orang-orang jama’ah al – Baghdadi yang sebelumnya masih memberi udzur kepada sebagian besar umat Islam.

Pada bulan-bulan sejak pertama kali dikeluarkan, fatwa tersebut memperburuk krisis yang sedang berlangsung di dalam kepemimpinan Negara Islam(ISIS/IS), sampai menyebabkan pencabutannya.

Dalam memo satu halaman yang disebarkan secara online, dan ditujukan ke semua “provinsi” Negara Islam dan entitas internal lainnya, kelompok tersebut menjelaskan bahwa fatwa 17 Mei penuh dengan kesalahan-kesalahan dan “menyebabkan konflik dan perpecahan di antara jajaran mujahidin dan umumnya di kalangan umat Islam. ”

Khalifah sepihak ini mengatakan bahwa pengikutnya harus berdiskusi dan meneliti fatwa atau dokumen yang akan dikeluarkan sebelum fatwa atau buku-buku tersebut menjadi kontroversial, agar semua hal tersebut diubah dan diedit, “supaya tidak mengandung apapun yang bertentangan dengan aqidah ahlus sunnah.”

“Kami menyarankan” mengembalikan buku-buku ini untuk mengklarifikasi masalah hubungan dengan kaum musyrik [musyrik], hukum terhadap orang-orang yang menentang syariat, dan hukum tentang rumah atau masalah lainnya, “Khalifah ISIS/IS memerintahkan hal ini dalam memo tertanggal 15 September.

Dokumen singkat ini mendapat sambutan yang luar biasa. Jamaah daulah ISIS/IS secara implisit mengakui bahwa Lajnah Mufawwadhah, salah satu dewan paling kuat dalam daulah ini, telah membuat kesalahan aqidah yang serius.

Struktur Lajnah Mufawwadhah dalam Daulah ISIS/IS

Daulah ISIS/IS mempromosikan peran Lajnah Mufawwadhah (LM) dalam video pada bulan Juli 2016 berjudul, “Struktur Khilafah.” Produksi tersebut menekankan tugas utama yang dilakukan oleh LM atas nama al-Baghdadi.

“Tugas tersebut adalah mensosialisasikan fatwa/ perintah setelah hal-hal tersebut dikeluarkan dan memastikan pelaksanaannya diimplementasikan kepada sekelompok individu berpengetahuan dan lurus yang memiliki persepsi dan keterampilan kepemimpinan, karena Khilafah tidak dapat secara pribadi melaksanakan pekerjaan negara, karena hal tersebut adalah suatu pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan sendiri, “narator video menjelaskan. “Jadi perlu adanya organisasi yang mendukungnya [Baghdadi] dan badan itu adalah Lajnah Mufawwadhah (LM).”

LM memiliki kewenangan administratif yang luas. Narator menjelaskan bahwa “mengawasi” wilayat (provinsi), diwan-diwan, dan “kantor dan komite.” Masing-masing “provinsi” dipimpin oleh seorang wali (gubernur) yang “merujuk hal-hal penting kepada LM” dan ” mengatur wilayat. ”

Diwan-diwan adalah “tempat untuk melindungi hak-hak dan berada di bawah pengawasan LM.” Ada 14 diwan, yang  memiliki kantor di setiap wilayat. Kantor-kantor ini “mengurusi pemeliharaan kepentingan publik” dan “melindungi agama dan keamanan rakyat.” Diwan ditugaskan untuk berbagai tanggung jawab, mulai dari seni peperangan hingga dawa (dakwah) dan bimbingan keagamaan.

Komite dan kantor “fokus dengan berbagai hal” dan “terdiri dari personil dengan keahlian khusus,” semuanya “diawasi oleh LM.” Komite dan kantor mengawasi: kedatangan “imigran /muhajirin” ke tanah kekhalifahan, penempatan berbagai diwan, urusan tahanan Muslim, penelitian isu-isu syariah, wilayat di luar Irak dan Suriah, dan hubungan kesukuan, dan tugas-tugas lainnya.

Oleh karena itu, menurut penjelasan Negara ISIS/IS sendiri, LM memiliki kekuasaan yang besar dalam organisasi.

Awal bulan ini, sebuah pernyataan LM mendorong jihadis Negara ISIS berperang di provinsi Hama untuk berdiri teguh melawan rezim Bashar al Assad dan sekutu-sekutunya. Penulis memo ini, yang juga disebarluaskan di akun media sosial, mengatakan bahwa Baghdadi  “senang” dengan “kesabaran” para pejuangnya yang ada di Hama. Artinya, dengan asumsi memo itu asli, LM masih berbicara untuk Baghdadi.

Memo lain yang dikaitkan dengan LM awal tahun ini melarang pejuang Negara ISIS menggunakan situs media sosial. Memo tersebut menjelaskan bahwa musuh kelompok tersebut dilaporkan memanfaatkan saluran ini untuk tujuan intelijen.

 

Turki al-Bin’ali, yang terbunuh dalam serangan udara di Mayadin, Suriah hanya dua minggu setelah dokumen tersebut diterbitkan. Al-Bin’ali adalah salah satu ideolog jihadis paling awal dan paling penting untuk mendukung proyek pembangunan khalifah Baghdadi. Dia membantu menarik para jihadis dari al Qaeda dan cabang-cabangnya di seluruh dunia, sering menarik kemarahan beberapa rekannya ideolog dan satu kali rekan-rekannya. Tapi memo 17 Mei masih kelewatan bagi Al-Bin’ali, yang menjabat sebagai “Mufti Agung” Negara ISIS.

banyak kekalahan ISIS

Turki bin Ali, Mufti Agung ISIS

Al-Bin’ali menulis sepucuk surat di mana dia menawarkan 20 keberatan atas keputusan tersebut. Dia mengeluh bahwa itu dikeluarkan dengan “meterai terpenting kedua” di Negara Islam, yang berarti adalah Lajnah Mufawwadhah (LM), yang secara langsung “bawahan” dari Baghdadi. Al-Bin’ali mengatakan bahwa “ekstrimis” sedang merayakan deklarasi tersebut. Keberatan Al-Bin’ali berasal dari keprihatinannya bahwa deklarasi tersebut akan mengarah pada “rantai takfir tak berujung”.

Anggota-anggota paling ekstrem dari Negara itu tidak hanya ingin mengumumkan takfir pada musyrikin, atau orang musyrik, yang merupakan praktik umum bagi organisasi tersebut, namun juga umat Muslim manapun yang juga sama sekali tidak mengutuk musyrikin tersebut. Ini berarti bahwa bahkan jika seorang Muslim tidak melakukan dosa sendiri, dia dapat dikecam oleh para jihadis sebagai orang kafir karena tidak berani untuk memvonis orang-orang berdosa lainnya yang dituduh.

LM tampaknya tidak meninggalkan ruang kosong untuk masalah ini. “Mereka yang jauh dan dekat tahu bahwa Negara ini … tidak berhenti satu hari pun dari membuat takfir kepada musyrikin, dan bahwa  takfir kepada musyrikin sebagai salah satu prinsip paling utama dari agama ini, yang harus diketahui sebelum sholat dan kewajiban lain yang diwajibkan agama, “tulis anggota LM yang dilimpahkan sebagai perwakilan dalam memo 17 Mei.

Bagi Al-Bin’ali, bahasa ini dan bahasa lainnya dalam memo tersebut baginya terdengar seperti tidak ada ijtihad dalam masalah takfir, terlepas dari kenyataan bahwa bahkan kesarjanaan garis keras Daulah ISIS sebelumnya telah membiarkan setidaknya ada beberapa ketidakpastian. Al-Bin’ali berpendapat bahwa logika LM tersebut akan menyebabkan Negara Islam memvonis kafir orang-orang bahkan tokoh jihad legendaris seperti Abu Musab al Zarqawi (pendiri Al Qaeda di Irak, yang berevolusi menjadi Negara ISIS saat ini ) dan Abu Muhammad al Adnani (juru bicara Negara ISIS), keduanya membenarkan pembantaian Muslim Syiah dan “orang musyrik lainnya”, namun menahan diri untuk tidak mengumumkan takfir pada semua Muslim yang tidak mengikuti jalan mereka.

Dengan kata lain, bahkan orang keras seperti Zarqawi tidak akan melakukan sejauh yang dilakukan LM, yang sangat memperluas jumlah umat Islam yang bisa diberi label sebagai orang kafir. Jika logika LM diikuti sampai akhir yang diperlukan, maka semakin sedikit Muslim yang tinggal dalam lingkaran negara ISIS.

Negara ISIS sudah dikenal merupakan organisasi yang sangat eksklusif dan terkenal ekstrem. Ini terjadi bahkan sebelum LM mengeluarkan fatwa pada tanggal 17 Mei. Luar biasanya LM menemukan cara untuk mengungguli bahkan ideolog terkenal seperti Al-Bin’ali.

Al Qaeda  telah berusaha untuk mengkritik masalah yang disebabkan oleh memo tersebut pada tanggal 17 Mei. Pada bulan Juli, sebuah isu buletin Masra * memuat sebuah artikel yang menggambarkan keberatan dari seorang pejabat syariah Daulah ISIS yang diduga dikenal sebagai Khabbab al-Jazrawi. Dia menyesalkan bahwa “ekstremis” telah mengambil alih Lajnah Mufawwadhah dan mengeluh bahwa anggotanya tidak memiliki kapasitas ilmu yang layak untuk mengeluarkan fatwa semacam itu, yang secara efektif mengumumkan takfir pada seluruh negeri-negeri kaum muslimin.

Dalam memo 17 Mei, LM menghukum orang-orang Muslim yang “menahan diri untuk tidak mengkafirkan mereka yang mencoblos dengan klaim bahwa mereka tidak mengetahui realitas pemilu.” Yang mana, LM menolak ketidaktahuan sebagai alasan untuk menahan diri dari memvonis muslim yang berpartisipasi dalam pemilihan.

Al-Jazrawi membantah argumen ini dan argumen lainnya dalam dokumen 17 Mei dengan mencatat bahwa para pemimpin sebelumnya, seperti Zarqawi dan Abu Umar al Baghdadi, menganggap ketidaktahuan / kejahilan menjadi alasan yang sah bagi mereka yang melanggar hukum syariah kelompok tersebut dengan berpartisipasi dalam pemilu. Demikian pula, al-Jazrawi berpendapat bahwa LM telah bertindak terlalu jauh dalam menyatakan ulama Muslim lainnya kafir. Al-Jazrawi mengklaim bahwa ada juga yang membahas apakah Ibnu Taymiyyah, seorang ulama abad pertengahan yang secara luas dihormati di kalangan jihad, benar-benar telah kafir.

Al-Jazrawi langsung berbicara kepada Baghdadi, memperingatkan “Khalifah” yang seharusnya dia bertanggung jawab kepada Allah karena membiarkan LM menjadi sangat ekstrem. Al-Jazrawi juga mengisyaratkan bahwa mantan anggota partai Baath dari Irak era Saddam Hussein telah menjadi terlalu kuat di dalam Negara ISIS, menyiratkan bahwa mereka menggunakan LM untuk meningkatkan pengaruh mereka.

Sementara Al Qaeda memiliki alasan sendiri untuk menyoroti kritik yang diajukan oleh al-Jazrawi, ada beberapa indikasi bahwa dokumen 17 Mei tersebut menyebabkan konflik kepemimpinan dalam khilafah ISIS.

Meskipun Masra memplubikasikan secara “independen”, namun seringkali ia membawa pesan dari pemimpin senior al Qaeda dan menyampaikan pemikiran mereka mengenai berbagai isu politik dan ideologis. Masra juga bertindak sebagai clearinghouse untuk “berita” dan opini dari berbagai aktor al Qaeda di seluruh dunia.

Yang jelas permasalahan ini mengemuka dikarenakan banyak kekalahan yang diderita ISIS akhir-akhir ini, dan diinformasikan bahwa sebagian tokoh-tokoh ISIS terutama yang berada pada kelompok Jaisy Khalifah, yang merupakan kelompok yang dikoordinasikan langsung dari amir ISIS menyalahkan kekalahan ini sebagai hukuman karena banyaknya keghuluwan takfir yang dikeluarkan oleh LM. Sehingga LM direshuffle oleh Jaisy Khilafah atas perintah amir. Dan tokoh-tokoh ekstrim ditangkap atau disingkirkan oleh Jaisy Khilafah.

(AZ)

BERANDA

baca juga: “berpecah-kondisi-isis/is-di-deir-zour-setelah-banyak-komandannya-yang-terbunuh/