Duniaekspress, 25 september 2017. Setelah operasi militer yang berhasil merebut kota Mosul dari kekuasaan ISIS di wilayah Irak,  pasukan gabungan Irak dan AS menargetkan Hawijah sebagai sasaran berikutnya. Pemerintah Irak, yang didukung oleh AS dan sekutu lainnya, melancarkan serangan baru terhadap ISIS di distrik Hawijah di provinsi Kirkuk awal hari ini. Kawasan ini dianggap sebagai salah satu dari dua benteng  yang tersisa di dalam Irak. Hawija terletak di sebelah selatan Mosul antara kota Kirkuk dan Sungai Tigris. Negara ISIS telah menggunakannya sebagai landasan untuk operasi di Baiji, Tikrit, dan Kirkuk. Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi mengumumkan operasi tersebut dalam sebuah pernyataan secara online, dengan mengatakan bahwa ini adalah “tahap pertama pembebasan Hawijah.”

ISIS menguasai kota Hawijah pada awal 2014. Tapi wilayah tersebut terisolasi dari wilayah ISIS lainnya pada bulan Juli 2016 selama perang Mosul, terutama setelah Shirqat, yang terletak tidak jauh di bagian Barat, terlepas dari pegangan mereka. Pasukan Irak dengan cepat mengklaim sukses di Hawijah, dengan mengatakan bahwa 20 atau lebih desa telah direbut pada jam-jam awal kampanye tersebut.

Seperti dalam pertempuran masa lalu, pasukan Irak adalah gabungan tentara dan milisi. Angkatan Darat Irak, the Counterterrorism Service (CTS), Polisi Federal, dan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) semuanya ikut ambil bagian. PMF dipimpin oleh Abu Mahdi al Muhandis, seorang teroris yang diincar AS yang bekerja pada Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC). PMF mencakup milisi yang didukung Iran yang pernah menyerang pasukan Amerika di masa lalu.
Ada laporan yang saling bertentangan mengenai peran yang dimainkan oleh Peshmerga Kurdi, yang telah lama menguasai wilayah ISIS di sebelah timur Hawijah. Pemerintah Daerah Kurdistan menjadwalkan adanya sebuah referendum kemerdekaan Kurdi pada 25 September. Referendum tersebut mencakup kota Kirkuk dan daerah-daerah lain yang tidak jauh dari tempat pertempuran yang saat ini sedang berkecamuk. Pemerintah Irak menolak referendum tersebut. Departemen Luar Negeri AS juga sangat menentangnya, dengan alasan bahwa mengklaim di wilayah yang disengketakan menyebabkan  instabilitas, meningkatkan ketegangan sesama saat ISIS dan kelompok ekstremis lainnya sekarang sedang digarap.”

Media ISIS terus melakukan propaganda dari provinsi Kirkuk, bahkan saat pasukannya sedang terkepung. Media kelompok ini telah bergeser dari pesan kemenangan pada tahun 2014 menjadi pesan bertahan di tahun 2016-2017. Awal bulan ini, khalifah sepihak ini merilis sebuah video dari Kirkuk sebagai bagian dari seri “People of Stability”, yang berusaha untuk memuliakan jihad.  Menampilkan seorang jihadis berbahasa Inggris yang diidentifikasi sebagai Abu Abdullah al-Muhajir.

operasi hawijah dan kekalahan ISIS

Abu Abdullah Al-Muhajir salah seorang pejuang ISIS sedang menyampaikan pesan-pesannya

“Bagi seorang Muslim, cobaan dan kesengsaraan membawa anugerah besar dari Allah di dalam diri mereka. Kami telah tinggal dikepung di Wilayah Kirkuk, “kata Al-Muhajir. “Meskipun terasa seperti kesulitan untuk sesaat … ini adalah kehormatan dari Allah untuk merasakan seperti keadaan para shohabat yang merupakan pelopor pertama dari agama ini. Kami berada di bawah embargo yang mirip dengan embargo yang diderita  Nabi (SAW)… bersama dengan para pengikutnya saat di Mekah, “al-Muhajir mengklaim. “Kami dikepung seperti Nabi Muhammad SAW dan para shohabat selama Perang khandaq”

Kata-kata Al-Muhajir adalah pengakuan diam-diam bahwa hari-hari Negara Islam “baqiyyah wa tatamaddad” (mottonya selama bulan-bulan awal kekhalifahannya) telah berakhir. Kelompok ini sebelumnya telah kebobolan sebanyak beberapa kali. Namun, pejabat AS telah memperingatkan bahwa organisasi tersebut kemungkinan mempertahankan cukup kekuatan untuk melakukan serangan teror di Irak dan Suriah di masa mendatang.

Pada 19 September, hanya dua hari sebelum serangan di Hawijah, pasukan Irak menyerbu beberapa tempat perlindungan aman Negara Islam di provinsi Anbar, di perbatasan barat Irak dengan Suriah. Kota Anah, dekat perbatasan Suriah di Sungai Efrat, dengan cepat jatuh ke tangan pasukan Irak dan pejuang kesukuan.

 (AZ)