Duniaekspress, 30 September 2017- Kelompok pemantau perang mengatakan sedikitnya 28 warga sipil tewas dalam serangan udara di markas oposisi provinsi di Idlib, barat laut Suriah, Sabtu (30/9/2017)

“Empat anak termasuk di antara korban tewas dalam serangan udara semalam di kota Amanaz, beberapa kilometer dari perbatasan Turki,” kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.

Seorang koresponden kantor berita AFP yang mengunjungi Armanaz pada hari Sabtu mengatakan seluruh blok apartemen telah ratakan akibat serangan udara tersebut.

Belum jelas apakah serangan tersebut dilakukan oleh pesawat tempur pemerintah Suriah atau pihak sekutunya Rusia.

Menurut Observatorium Suriah yang mengumpulkan informasinya dari jaringan sumber di Suriah puluhan orang masih hilang setelah pemboman tersebut.

“Serangan udara sekunder dilakukan saat operasi pencarian dan penyelamatan sedang dilakukan untuk korban,” kata kelompok tersebut.

Kantor berita Anadolu memberitakan setidaknya 40 warga sipil terbunuh dan 70 lainnya luka-luka di Amanaz.

Militer Rusia dan Suriah mengatakan bahwa mereka hanya menargetkan gerilyawan dan menolak atas tuduhan membunuh warga sipil.

Ketua badan amal medis Doctors Without Borders mengatakan akibat meningkatnya serangan bom telah memaksa rumah sakit di provinsi tersebut ditutup, katanya pada, Jum’at (29/9).

Baca juga, Serangan Rezim Basyar Kembali Sasar Warga Sipil

Jet Suriah dan Rusia telah mengintensifkan serangan di Idlib. Serangan udara meningkat dimulai setelah pemberontak melancarkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai pemerintah di barat laut negara tersebut pada 19 September.

Bulan lalu, Rusia, Turki, dan Iran sepakat untuk menciptakan apa yang disebut “zona de-eskalasi” di provinsi tersebut, sebagai bagian dari usaha mereka untuk membangun gencatan senjata yang luas di Suriah yang dilanda perang.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan rekanan Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Kamis sepakat untuk meningkatkan upaya untuk membangun zona aman di Idlib.

Suriah mengatakan kesepakatan Idlib tidak mencakup kelompok oposisi garis keras seperti Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) dan Hay’et Tahrir al-Sham.

Suriah telah dikepung dalam sebuah perang sipil yang kejam sejak awal tahun 2011 ketika pemerintah Presiden Bashar al-Assad menindak demonstrasi pro-demokrasi.

Sejak saat itu, ratusan ribu orang terbunuh dan lebih dari 10 juta orang mengungsi, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

(IF)