Duniaekspress, 12 oktober 2-17. – Ibnu umar at-turkistani – Dia dikenal sebagai sosok yang pendiam. Dibalik sikapnya  yang tidak banyak bersuara ternyata tersimpan bashirah  yang mengagumkan. Seluruh pikirannya selalu berkutat akan  keadaan umat Islam. Terlebih ia lahir dan hidup di  tengah-tengah masyarakat Islam yang selalu terzalimi  oleh kaum tak bertuhan.

Satu firman Allah yang menancap kuat di hatinya adalah

 إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, hingga kaum tersebut merubah diri mereka.” (Ar-Ra’ad : 11)

Mujahid Uighur ini melihat masyarakat sekitarnya selalu tertindas dan mendapat perlakuan diskriminatif. Tak jarang juga darah kaum muslimin tertumpah dengan mudahnya. Maka, ia menekankan pada dirinya bahwa umat Islam harus bergerak melawan dan berubah agar dapat hidup bebas berdasarkan syariat Islam.

Maka, kebulatan tekadnya mendorong untuk bergabung bersama mujahidin dan berjuang bersama para tentara Allah. Pada akhirnya mujahid Uighur ini mendapatkan impian setiap mujahid, yaitu mati syahid. Mujahid ini bernama Turghun atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Umar At-Turkistani.

Kehidupan Awal Ibnu Umar

Ibnu Umar adalah mujahid asli Turkistan. Ia lahir di daerah Hotan, Turkistan. Tidak banyak informasi yang menyebutkan kehidupan masa kecilnya. Turghun kecil mendapat pendidikan masa kecil di lingkungan yang agamis. Kemudian melanjutkan ke tingkatan ibtidaiyah (setara SD) hingga lulus, setelah itu melanjutkan ke jenjang berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, Turghun lebih condong untuk mendalami ilmu agama.

Turghun meyakini di hatinya bahwa tanpa ilmu agama kehidupan menjadi hampa. Akhirnya ia memulai petualangannya di dunia ilmu agama dengan berguru pada para ulama-ulama setempat. Suasana menuntut ilmu agama semakin mendukung tatkala Turghun ikut saudaranya yang membuka sebuah toko buku di depan universitas di tempatnya. Maka sudah dipastikan kehidupannya selalu bergumul dengan kitab-kitab para ulama.

Selama masa berguru pada para ulama, calon mujahid Turkistan ini sering bertukar pikiran atau berdiskusi dengan para ulama setempat. Mereka membicarakan permasalahan yang menimpa kaum muslimin Uighur di tanah air mereka sendiri. Karena diskusi ini membuat wawasan Turghun terbuka luas, ia pun berpikir bagaimana cara memperjuangkan hak kaummnya yang tertindas.

Maka, dengan tekad yang bulat ia melangkahkan kaki untuk berhijrah guna mencari perbekalan yang cukup memperjuangkan Islam dan keadilan. Sebagian besar dari para tholabatul ilmi di Xinjiang memang lebih sering hijrah ke luar negeri. Hal itu disebabkan pemerintah komunis China yang membatasi pergerakan masyarakat muslim di sana. Banyak kebijakan yang diberlakukan pemerintah membuat mereka terjepit dan cenderung diskriminatif.

Bersama dengan tiga puluh orang lainnya yang terdiri dari para thullab dan asatidzah mengurus pembuatan paspor. Pada tahun itu pula mereka berangkat ke Pakistan. Kesedihan menggelayut di hati mereka karena meninggalkan keluarga dan sanak saudara. Namun, tekad bulat di hati membuat mereka tegar untuk menempa diri dan berjuang di jalan Allah.

Kehidupan di Bumi Hijrah

Sesampainya di bumi Pakistan, para muhajir Turkistan segera bergabung dengan halaqah-halaqah keilmuan. Mereka memperdalam ulumuddien untuk membekali diri sebelum melangkah lebih jauh dalam perjuangan.

Turghun mengikuti latihan di Khost dan Jalalabad. Di kamp ini ia banyak belajar tentang ilmu militer. Ia pun menyampaikan pengalamannya bertemu syaikh Abu Yahya Al-Libiy rahimahullah di sebuah kamp tertua dan terkenal di Afghanistan, kamp Khalden.

Di suatu kesempatan ia menuturkan pengalamannya kepada para mujahidin Turkistan tentang pertemuannya dengan Ibnu Syaikh Al-Libi rahimahullah. Pada saat itu syaikh Al-Libi mengatakan bahwa beliau sangat mencintai para mujahid Turkistan. Kecintaan itu berangkat karena keuletan mujahidin Turkistan dalam perjuangan dan jihad.

Hingga pada 1997, datanglah syaikh Abu Muhammad At-Turkistani –rahimahullah– ke Pakistan. Abu Muhammad atau juga dikenal dengan nama Hasan Mahsum adalah pimpinan Mujahidin Turkistan di Afghanistan. Ia mengajak para mujahid Turkistan yang ada di Pakistan untuk bergabung dengan rekan-rekannya telah hijrah ke Afghanistan. Tanpa pikir panjang, Turghun ikut serta dalam seruan itu.

Pada tahun itu pula syaikh Abu Muhammad mengangkat 20 mujahid Turkistan untuk masuk ke dalam struktur jamaah mujahid Turkistan. Masa itu adalah masa awal Taliban mendeklarasikan pemerintahan Islam di Afghanistan. Kedatangan sejumlah mujahid Turkistan ini disambut baik oleh Amirul Mukminin Muhammad Mullah Umar rahimahullah. Hasan Mahsum dan dan para mujahid Turkistan pun segera berbaiat pada Mullah Umar.

Kelompok mujahid Turkistan ini mendapatkan dukungan penuh dan penghormatan dari Amirul Mukminin. Mereka pun tumbuh dengan cepat karena banyak imigran Turkistan Timur yang menyebar di negara-negara Asia Tengah lainnya seperti Turki, Saudi Arabia dan Pakistan.

Bekerja sama dengan para instruktur Arab Afghan, Hasan dengan sigap menyiapkan sejumlah kader dan instruktur mandiri. Tak lama kemudian, terbentuklah kamp mujahidin Turkistan dan bahkan mereka bisa ikut andil dalam aksi pertempuran bersama Taliban.

Ibnu Umar pun diangkat sebagai staf pengajar di dalam kamp. Ia diangkat sebagai mudarrib (pelatih) bagian bom dan elektronik hingga tahun 2000. Ia banyak bercerita pengalaman bertempurnya selama di Afghanistan. Bagaimana pengalaman melewati gunung Hindukus hingga gunung Bamir. Kemudian bagaimana pengalaman melawan tentara China dengan segala pengetahuan militer yang ia pelajari di Afghanistan. Tak hanya dari mujahidin Turkistan, mujahidin Arab terkadang meminta pengajaran dari Ibnu Umar berkenaan dengan pengalamannya dan spesialisasinya dalam hal bom.

Nama Ibnu Umar semakin dikenal dan dekat dengan syaikh Abu Muhammad At-Turkistani . Karena kedekatannya inilah syaikh mengangkat Ibnu Umar sebagai anggota majelis Syura  jamaah. Pengangkatan ini membuat Ibnu Umar justru semakin tawadhu’dan bertambah tawakalnya pada Allah.

Pada bulan Agustus tahun 1999 para mujahidin mengadakan sebuah penyerangan Aliansi Utara. Ibnu Umar ikut serta dalam operasi ini dengan 20 mujahidin Turkistan lainnya. Ketika mujahidin menginspeksi sebuah dataran tinggi yang ditinggal kabur musuh, tetiba ada serangan RPG yang mengarah pada mereka. Sontak para mujahidin tiarap dan berlindung.

Tembakan RPG itu tepat didepan Ibnu Umar dan seorang mujahid yang bernama Shadruddin. Alhamdulilah nyawa dua mujahid ini tertolong karena segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Walaupun mendapat luka yang cukup serius,  dua mujahid ini kuat dan berhasil melewati masa kritisnya dan pada akhirnya bisa kembali bergabung untuk berjuang kembali setelah 15 hari mendapatkan perawatan. Dari kejadian ini para mujahidin melihat bagaimana kecintaan Ibnu Umar akan jalan jihad fisabilillah. Seperti tidak ada halangan apapun yang mampu membuat langkahnya terhenti untuk berjuang selain berpisahnya jiwa dan raga. Subhanallah…

Pada Maret tahun 2000, Ibnu Umar beserta enam mujahid lainnya meminta izin untuk berhaji. Syaikh Abu Muhammad At-Turkistani pun mengizinkan ketujuh mujahid Turkistan ini untuk menunaikan rukun Islam kelima. Ada beberapa kejadian menarik menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Saat itu ada seorang ikhwah yang mengusulkan untuk mengganti pakaian ala Afghan yang mereka kenakan demi keamanan. Namun, Ibnu Umar secara tegas berkata,”Sesungguhnya kita sekalian bepergian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak sekali-kali untuk bermaksiat di perjalanan ibadah ini. Allah yang akan menjaga dan melindungi kita semua.” Akhirnya ketujuh mujahid ini tetap mengenakan pakaian Afghan hingga ke Haramain dan Allah pun menjaga mereka.

Kemudian ketika mereka mabit di Mina, ketujuh mujahid ini bertemu dengan sekelompok mahasiswa Al-Azhar asal Turkistan. Kemudian ada salah seorang mahasiswa berdiri dan menyanjung undang-undang positif Mesir serta berbicara soal toleransi palsu di Mesir. Mendengar hal ini Ibnu Umar seketika bangkit bagaikan singa yang terbangun ghirahnya untuk membela agama Allah. Ia langsung mendatangi sang mahasiswa dan menjelaskan kekufuran dalam masalah hukum yang terjadi di Mesir. Ibnu Umar juga menjelaskan kekejaman Husni Mubarak yang zalim kepada umat Islam dengan membunuh dan memenjarakan orang-orang beriman. Mendengar penjelasan ini semua yang ada di tempat itu diam dan tertegun mendengarkan penjelasan sang Singa Turkistan.

Pada September tahun 2000, komandan umum jamaah syaikh Abdul Jabbar rahimahullah syahid dalam pelatihan senjata bersama para mujahidin. Syaikh Abu Muhammad At-Turkistani  dengan kewenangannya mengangkat Ibnu Umar yang belum genap berumur 22 tahun menjadi penggantinya. Keputusan ini telah dirapatkan dengan segenap dewan syura mujahidin dan semua sepakat dengan keputusan itu.

Mendapatkan amanah yang berat, pemuda belia ini merasa harus memantaskan diri agar dapat melaksanakan amanah dengan sebaiknya. Ibnu Umar menjadi semakin sedikit berbicara, semakin semangat dalam bermunajat kepada-Nya dan lebih mementingkan kepentingan para mujahidin dari kepentingan dirinya sendiri.

Ibnu Umar juga dikenal sebagai seseorang yang fasih dalam bahasa arab. Ia menerjemahkan risalah Al-Qahthani yang berjudul ” Al Jihad Fi Sabilillah Fadhluhu wa Asbabu An-Nashr ‘Ala A’daai” (Jihad fi sabilillah, keutamaannya dan sebab-sebab kemenangan atas musuh) ke dalam bahasa Uighur. Ke depannya hasil terjemahan Ibnu Umar ini menjadi salah satu rujukan bagu mujahidin Turkistan.

Syahidnya Ibnu Umar

Setelah terjadinya peristiwa 9/11, para muhajirin yang tergabung dalam liwa’ 22 memusatkan kekuatan untuk berkonfrontasi dengan Aliansi Utara. Operasi itu dimulai dengan penyebaran para mujahidin di wilayah Takhar dan Kunduz. Sekitar 30 mujahidin Turkistan bergabung dalam operasi ini di bawah pimpinan syaikh Jum’ah Bay Rahimahullah.

Pada bulan November pasukan di bawah pimpinan syaikh Jum’ah Bay ini menghadang kedatangan tentara Amerika yang mulai menjejakkan kaki di Afghanistan. Qadarullah, Kabul jatuh pada bulan itu dan para mujahidin mulai terjepit. Maka, para mujahidin bersepakat membagi dua pasukan. Pasukan pertama menuju daerah Mazar Syarif dan pasukan kedua menuju wilayah Takhar dan Kunduz.

Terjadilah pertempuran hebat di wilayah Mazar Syarif dan para mujahidin dikepung oleh tentara Amerika dan Aliansi Utara di sebuah tempat yang bernama Qalai Jangi. Mujahidin terkepung karena adanya penkhianatan dari jenderal komunis Abdul Rashid Dostum. Ibnu Umar adalah salah satu mujahid yang ikut terkepung didalamnya. Allah pun menganugerahi kesyahidan pada singa muda Turkistan ini.

Sebuah teladan dari seorang pemuda yang pemberani Turkistan. Semoga menginspirasi para pemuda Islam agar selalu memantaskan diri karena kalianlah yang akan menjadi tumpuan Islam di masa depan. Wallahu A’lam bi Shawab. (AB/kiblat)

sumber :  ETIM MAGAZINE : ISLAMIC TURKISTAN page 10-13

baca juga, MUJAHIDIN THALIBAN MENGANCAM PENJAJAH AMERIKA DALAM VIDIO TERBARUNYA