Duniaekspress, 14 Oktober 2017- Beberapa sumber mengabarkan telah terjadi serangan dengan meledakan diri di Abu Fas yang berdekatan dengan Provinsi Deir Az Zor dan Hasaka. Puluhan orang dinyatakan tewas termasuk para pengungsi dan personil keamanan Kurdi.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan bahwa serangan hari Kamis (12/10) terjadi di Abu Fas, dekat perbatasan provinsi Deir Az Zor dan Hasakah, dan korban tewas termasuk pengungsi, dan juga anggota pasukan keamanan Kurdi Asayish.

Talal Sello, seorang juru bicara SDF, membenarkan bahwa terjadi serangan bom mobil yang menargetkan para pengungsi dari Deir Az Zor terjadi di Abu Fas di wilayah selatan Hasisa. “Puluhan orang tewas dan terluka,” katanya kepada kantor berita AFP.

Setelah ledakan tersebut, “warga sipil melarikan diri ke daerah gurun dimana ranjau meledak dan jumlah korban bertambah,” tambahnya

Sebagian besar Provinsi Hasakah dan kota Hasakah berada di bawah kendali pemerintahan otonom Kurdi, dengan bagian-bagian yang lebih kecil dari keduanya dikendalikan oleh pemerintah pusat
.
Abu Fas adalah tempat orang-orang Kurdi mengumpulkan orang-orang yang terlantar akibat konflik sebelum mengizinkan mereka memasuki kamp tempat mereka dapat berteduh, kata SOHR.

Sebelumnya pada hari Kamis, SOHR yang mengandalkan jaringan sumber di Suria mengabarkan pasukan pemerintah telah merebut kembali empat wilayah di kota Mayadeen di Deir Az Zor.

Kantor berita negara SANA mengkonfirmasi bahwa pasukan telah kembali memasuki Mayadeen.

Pekan lalu, ISIL, yang juga dikenal sebagai ISIS, berhasil mengusir pasukan Suriah dari Mayadeen, dua hari setelah mereka memasuki kota tersebut.
Sebuah sumber tentara Suriah baru-baru ini menggambarkan Mayadeen sebagai “ibukota militer” ISIS di Deir Az Zor.

Dalam perkembangan terpisah pada hari Kamis, kelompok bersenjata Suriah mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk wilayah selatan Damaskus dalam sebuah pertemuan di Kairo, menurut media pemerintah Mesir.

“Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan penyeberangan utama dan menghentikan pemindahan paksa orang-orang yang tinggal di distrik Ghouta yang dikuasai oposisi,” menurut surat kabar Al Ahram yang dikelola negara.

Ini mengutip Mohamed Alloush, kepala politik Jaish al-Islam, yang mengatakan bahwa Mesir telah berjanji untuk membantu menghentikan pengepungan Ghouta Timur dengan menggunakan sarana diplomatik dan mengizinkan bantuan “dalam jumlah yang cukup untuk meringankan penderitaan di wilayah ini”.

Ghouta Timur, dekat Damaskus, adalah salah satu benteng terakhir pejuang yang memerangi pasukan Presiden Bashar al-Assad dan merupakan lokasi serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan orang pada Agustus 2013.

Sumber: Al Jazeera

Baca juga,  SERANGAN BOM TARGETKAN MARKAS KEPOLISIAN SURIAH

 

HOME