1. 18.   Tanggapan Awal Dr. Iyadh Qunaibi, pemerhati jihad dari Yordania

Bagian XVIII

Baca sebelumnya, TANGGAPAN PETINGGI MUJAHIDIN AQAP

Duniaekspress, 16 oktober 2017 . – Bagaimana prospek khilafah di akhir zaman bisa terwujud? Dr. Iyadh Qunaibi mengajak kita untuk mendiskusikan persoalan ini. Beliau akan menjawab beberapa persoalan penting:

  • Bagaimana tegaknya khilafah Islam dalam kondisi umat saat ini yang sulit bersatu.
  • Kemungkinan penegakan khilafah dengan cara deklarasi sepihak, seperti dilakukan oleh ISIS saat ini, lalu menundukkan elemen umat Islam lain, sehingga terwujudlah imamah mutaghallibah.

Dr. Iyadh Qunaibi mengatakan:

Saudara-saudara yang terhormat, tulisan ini akan membahas beberapa persoalan yang dipertanyakan sebagian orang:

  1. Khilafah harus ditegakkan.
  2. Namun kaum muslimin tidak akan sepakat pada satu orang pemimpin.
  3. Mereka dalam kondisi lemah dan tidak memiliki kekuasaan.

Solusinya adalah:

  1. Salah satu jamaah Islam mengangkat khalifah.
  2. Lalu memperluas kekuasaannya secara paksa dan peperangan.
  3. Dengan demikian, kaum muslimin akan bersatu di bawah satu kalimat.

Pertama, kita katakan: tentang khilafah harus ditegakkan, perlu dipahami bahwa khilafah tidak wujud hanya dengan deklarasi tanpa kehadiran komponen-komponennya. Di antara komponennya adalah kaum muslimin menjadi pemegang otoritas di negeri mereka, dan satu kata dalam otoritas tersebut.

Ketika ini tidak ada, maka kewajibannya adalah mengembalikan kekuasaan kaum muslimin dan menyatukan mereka dengan dakwah dan jihad. Bukan dengan cara bersekutu untuk mencuri hak kaum muslimin di dalam otoritas wilayah mereka. Dan juga bukan dengan klaim khilafah pada seseorang, sehingga mengakibatkan sengketa yang justru menambah jauh kemungkinan kembalinya kekuasaan dan kesatuan umat Islam!

Kewajiban menegakkan khilafah tidak berarti selesai hanya dengan menyematkan nama khilafah kepada pihak atau entitas tertentu. Lalu dengan label saja entitas ini menjadi khilafah sesungguhnya. Seperti shalat, tidak semua orang yang mengaku telah shalat berarti telah menunaikan shalat sesuai tuntutan syariat. Nabi saw kepada orang yang shalatnya buruk mengatakan, “Shalatlah kembali karena engkau belum shalat.” Maka siapa yang tidak melakukan sesuatu sesuai syarat dan rukun-rukunnya, ia tidak berhak mengklaim telah melakukan kewajiban syariat sesuai tuntutannya.

Jika orang-orang yang bekerja untuk menolong agama belum mampu menegakkan khilafah pada waktu tertentu, maka ini bukanlah perkara yang membuat mereka berdosa. Mereka tidak dibebani untuk teresa-gesa mengumumkan sesuatu yang belum ada komponen-komponennya.

Dalam kondisi apa pun, mereka diperintahkan untuk menegakkan Islam. Upaya mereka untuk menegakkan Islam dan memperjuangkan kebenaran dalam kerja mereka akan menjadi penyebab terwujudnya realitas yang sesuai untuk khilafah. Sebab, ada janji ilahi bagi mereka. Akhir yang baik itu untuk mereka. Dan bahwa tamkin atau kekuasaan akan didapat bila mereka istiqamah dalam perintah Allah. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Ada janji kenabian bahwa akan ada khilafah berplatform manhaj nubuwwah. Ini adalah kabar gembira dan janji, bukan beban yang kemudian membuat kita terburu-buru dengan sesuatu yang tidak ada. Dan kita tidak mampu mewujudkannya pada saat ini.

Yang wajib dilakukan adalah bekerja sungguh-sungguh untuk menegakkan Islam sesuai beban yang diwajibkan Allah kepada mereka. Mereka harus mengevaluasi setiap tindakan yang menyelisihi dan bertentangan dengan kebenaran. Selain itu adalah istiqamah dalam perintah Allah dengan segala kemampuan. Di antaranya adalah mengupayakan sebab-sebab terwujudnya tamkin yang sesungguhnya dan berupaya menegakkan khilafah sesuai tuntutan syariat. Ketika mereka melakukan ini semua, janji Allah akan terwujud pada mereka. Allah akan memberikan kekhilafanan dan kekuasaan sejati, bukan klaim.

Tetapi kemudian timbul pertanyaan:

Umat Islam hari ini tidak akan bersatu dalam satu khalifah dengan cara seperti itu. Bagaimana mungkin umat Islam yang baik dan yang jahat bisa sepakat pada seseorang, sedangkan hampir-hampir mereka tidak bisa bersatu dalam satu hal saja?

Jawabannya:

Itu adalah bentuk ketidakpercayaan kepada Allah. Ada janji Nabi saw akan kembalinya khilafah berplatform manhaj nubuwwah. Manhaj nubuwwah dalam khilafah adalah terjadinya baiat melalui keridhaan kaum muslimin kepada satu orang. Kaum muslimin melalui ahlul halli wal aqdi di antara mereka bermusyawarah dalam masalah ini. Ini tentu saja tidak mencakup orang-orang yang memerangi dan membenci penegakan syariat Islam (khilafah).

Sebelum deklarasi khilafah ini, sudah ada realisasi janji yang menggembirakan dengan berdirinya beberapa entitas dan pemerintahan (imarah) Islam yang tempatnya berjauhan. Demikian pula banyak kelompok jihad yang akan memberikan kontribusi pada pencapaian kabar gembira itu meski tidak bisa dipastikan kapan waktunya. Namun, tidak ada hak bagi kelompok mana pun untuk mengklaim khilafah dan membatalkan pemerintahan yang lain, atau membatalkan panji jamaah-jamaah yang ada!

Pertanyaan selanjutnya adalah, siapa yang mengatakan kepada kalian bahwa khilafah kami tidak ditegakkan melalui baiat ahlul halli wal aqdi? Atau ungkapan lain, persoalan ini bisa diatasi dengan penundukan melalui pedang di bawah satu kelompok muslim.

Ironis bila ada jamaah yang mencampurkan antara taghallub (penundukan dengan pedang) dan baiat ahlul halli wal aqdi. Kemudian mereka menggoreng definisi ahlul halli wal aqdi dan mengeluarkan pembenaran untuk menyematkan label khilafah pada orang yang dipilih sebagai khilafah!

Bahkan agar baiat tersebut tampak seperti baiat ahlul halli wal aqdi, kelompok ini memilih beberapa nama dari jamaahnya dan diklaim sebagai ahlul halli wal aqdi yang mewakili umat!

Tidak sampai di situ, kelompok ini juga merasa tidak perlu musyawarah kepada seorang pun untuk mewakili umat. Bahkan mujahidin dan ulama umat pun tidak dimintai pertimbangan. Sebaliknya, mereka malah mengklasifikasikan umat ini sebagai kelompok yang tidak peduli, pengkhianat, memerangi, penyembah demokrasi, sururi, ikhwani (IM), dan penganut murjiah.
Maka jamaah inilah umat itu sendiri, sedangkan selain mereka tidak layak untuk dimintai pertimbangan atau menjadi bagian dari ahlul halli wal aqdi. Tidak ada kata lain bagi mereka kecuali harus tunduk dengan kekerasan dan penindasan!

Bila di tengah-tengah umat Islam ini; dengan sederetan ulama, jamaah Islam, dan kelompok jihadnya dari Afghanistan di timur sampai Mali di barat tidak ada lagi yang pantas dimintai pertimbangan, maka bertakbirlah empat kali di tengah-tengah umat. Dan tidak perlu lagi menegakkan khilafah, tetapi tunggu saja kiamat terjadi!

Ada Mullah Umar yang dibaiat oleh Syaikh Usamah dan Taliban dengan imarah Islamnya telah menunjukkan pengorbanan yang nyata untuk tidak menyerahkan mujahidin kepada musuh. Ada sosok yang telah menghabiskan usianya untuk jihad dan semua keluarganya dibunuh.

Ada juga kelompok-kelompok jihad di Irak dan Syam yang tidak diragukan memiliki semangat yang sama dengan kalian dalam kepemimpinan syariat Islam, seperti Anshar Islam Irak, Jaisy Mujahidin Irak, Jabhah Nusrah (JN), Katibah Khadhra’, Suqur Al-Izz, Jaisy Muhajirin dan Anshar, Pasukan Syam Al-Islam dan masih banyak lagi.

Ada lagi cabang-cabang Al-Qaidah dan kelompok jihad lain yang bertujuan menegakkan syariat Islam di Yaman, Sinai, Libya, Maroko, dan Somalia.

Ada lagi para ulama yang menghabiskan usianya di dalam penjara karena mendukung jihad dan mujahidin, serta membela syariat Rabb semesta alam.

Bila mereka semua tidak layak diajak musyawarah, dan kalian menyingkirkan mereka semua dengan majelis beberapa orang yang tidak dikenal seorang pun, baik keadilan, keilmuan, dan tidak ada ulama maupun tokoh mujahid yang merekomendasikannya, maka kalian ini sedang membicarakan khilafah berdasarkan manhaj nubuwwah model apa?

Apa landasan agamanya bila kemudian ada pertanyaan, bagaimana kami bermusyawarah dengan orang yang berlepas diri dan memusuhi kami?

Apakah perlepasan diri dan permusuhan mereka kepada kalian itu sendiri merupakan poin yang bisa dianggap sebagai perlepasan diri dari agama Allah? Ataukah itu pertanda bahwa kalian perlu introspeksi diri dan mempertanyakan mengapa mereka menyelisihi kalian?

Ya, itu sebagian, dan kami tidak menyebutkan bagian lainnya dari umat ini yang tidak kurang layak untuk disebut sebagai muslim yang bekerja untuk menolong agama Allah, atau sebagai ulama yang layak dimintai pertimbangan.

Kami tidak menyebutkan mereka bukan berarti mengeliminasi. Kami menyebutkan itu saja karena merekalah yang secara global sepakat dengan kalian dalam asal-usul manhaj. Bila khilafah yang serukan tidak mencakup mereka untuk menjadi bagian dalam musyawarah, lantas bagaimana lagi status seluruh ahli kiblat (setiap orang yang masih disebut muslim) selain mereka?

Ini adalah bahasan khilafah dari sudut pandang yang sesuai dengan manhaj nubuwwah. Adapun bila yang diibicarakan adalah imarah Islam di suatu wilayah di negeri kaum muslimin, maka pihak yang mengklaim imarah harus memastikan: apakah pemerintahannya didapat dengan penundukan (ghalabah) atau dengan baiat ahlul halli wal aqdi di wilayah tersebut. Sebab dua hal ini tidak bisa bercampur.

Bila ahlul halli wal aqdi di wilayah tersebut membaiat seorang imam, maka tidak diperlukan pemaksaan dan penundukan dengan pedang. Sebab, ahlul halli wal aqdi itu telah menyelesaikan semua masalah dan mengukuhkan baiat itu, sedangkan penduduk setempat mengikuti mereka. Maka baiat mereka kepada seseorang menjadi imam sudahlah cukup, sehingga tidak perlu lagi penundukan masyarakat dengan kekuatan. Jadi, mencampurkan antara baiat ahlul halli wal aqdi dan penundukan dengan pedang adalah perkara yang aneh dan membingungkan.

Kemudian, ketika kita membicarakan deklarasi kekhilafahan Islam, maka akan muncul beberapa pertanyaan:

  1.  Apakah otoritas kaum muslimin benar-benar terwujud di wilayah tersebut?
  2. Apakah tingkat kemerdekaan di wilayah tersebut memiliki komponen-komponen kekuasaan secara nyata?
  3. Apakah penegakan dan manajemen pemerintahan yang ada justru lebih menyibukkan mereka daripada jihad mengusir musuh (daf’ush Shail) dan membebaskan kaum muslimin di seluruh negeri?
  4. Apakah pembentukan pemerintahan justru menyebabkan terpecahnya wilayah kaum muslimin, yang justru membuat musuh lebih mapan di seluruh negeri?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dimunculkan pada setiap proyek pemerintahan Islam, bukan hanya pada pihak yang mengklaim khilafah saja.

Namun saya tidak akan mengoreksi atau menyalahkan pendirian pemerintahan Islam di Irak dari sudut pandang penundukan terhadap kaum syiah Rafidhah yang memerangi. Koreksi saya ini tidak ditujukan kepada pemerintahan Islam yang berdiri atau akan didirikan di negeri kaum muslimin atas dasar kemenangan atas musuh yang kafir.

Maksud kami di sini adalah ingin menjelaskan sesatnya penggunaan kata taghallub (penundukan dengan pedang) seolah-olah merupakan dalil yang sah untuk legitimasi perbuatan yang sangat merusak!

Ahli fikih yang berbicara tentang Imam mutaghallib (menjadi penguasa karena menang dalam merebut kekuasaan), maka yang mereka diskusikan adalah konteks perebutan kekuasaan di negeri Islam (darul Islam). Yakni kaum muslimin dalam keadaan jaya dan kuat. Ulama yang menganggap sah imamah mutaghalibah ini memberlakukan syarat, di antaranya adalah diridhai oleh kaum muslimin dan berhukum dengan syariat Allah.

Para ahli fikih yang mengakui keabsahan pemerintahannya setelah mendapatkan ridha kaum muslimin, bukan sebelumnya. Dan perlu digarisbawahi bahwa pendapat mereka ini bukan berarti anjuran bagi siapa saja untuk merebut kekuasaan sama sekali, dengan cara apa pun. Bahkan tindakan ini haram menurut para ulama yang menganggap sah imamah mutaghallib itu sendiri. Ia bisa dianggap sah dengan syarat-syarat ketat sebagai solusi atas krisis yang terjadi (terutama untuk menghindari pertumpahan darah lebih luas).

Adapun bila kaum muslimin dalam kondisi perang melawan musuh yang kafir, dan telah membebaskan beberapa wilayah kafir, lalu ada kelompok tertentu menundukkan kaum muslimin di wilayah yang telah dibebaskan dan membuat konsentrasi mereka untuk memerangi musuh yang kafir menjadi terpecah, maka ini adalah kerusakan di muka bumi.

Ini bukan penundukan, melainkan tindakan yang tercela menurut syariat, dan tidak memenuhi syarat untuk dianggap sah! Bahkan ini merusak.Pihak yang melakukan itu tidak perlu berdalih luasnya wilayah kekuasaan mereka, kemudian membatasi ahlul halli wal aqdi secara eksklusif!

Mereka tidak perlu berbicara tentang pemerintahan Islam yang benar di wilayah, tempat mereka berbuat seperti itu. Apalagi mendeklarasikan khilafah yang fungsinya menghanguskan semua pemerintahan dan jamaah lain, serta mewajibkan kaum muslimin di seluruh dunia untuk loyal kepadanya!

Ini belum lagi pengakuan penerapan hukum dengan syariat Allah dari pihak yang berulang kali meminta tahkim atau pengadilan. Dan belum lagi kredibilitas sistem peradilan yang dipercayakan untuk memutuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah.
Sebagai penutup, kami heran dengan kedangkalan pikir sebagian orang ketika mereka mengira bahwa klaim khilafah bisa menyatukan kaum muslimin, lalu setiap orang yang punya semangat untuk menyatukan umat mendukung dan berbaiat.

Bila khalifah yang diserukan tidak mendapatkan dukungan seorang pun dari ulama dan pemimpin jihad, bila belum mendapatkan kelompok jihad yang mendahuluinya di jagad ini, namun hanya didukung oleh anak-anak usia belia dan kurang ilmu yang mudah dibakar oleh semboyan-semboyan, akal mereka mudah dikuasai oleh label dan retorika, apakah kira-kira hasilnya persatuan atau perpecahan?

Apa yang membuat Anda merasa jamaah, ulama umat, dan kelompok-kelompok jihad secara umum tidak bersama Anda, lalu orang yang menginginkan kaum muslimin bersatu, harus mengikuti Anda? Dan siapa tidak melakukannya maka ia adalah penghasut yang memecah belah jamaah?

Kami memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi umat Islam.

Wassalamualaikum.[12]

Bersambung…

 

Baca juga, ERSATUAN MUJAHIDIN ISLAM DIBAWAH KOMANDO HAI’AH TAHRIR AS-SYAM