AKANKAH ISIS BERAKHIR SETELAH RAQQAH DAN MOSUL JATUH?

Duniaekspress 17 Oktober 2017, Nasib raqqah, yang tadinya merupakan ibukota de facto bagi kekhalifahan sepihak ISIS, atau IS, akan berpindah tangan ke pasukan koalisi AS dan SDF hanya tinggal menunggu waktu jika Alloh SWT menghendaki.  Kabar terakhir para pejuang ISIS yang merupakan warga lokal (disebut sebagai ISIS anshar) telah menyerah kepada pasukan koalisi melalui para tetua suku.  Para ketua suku bersedia melakukan hal tersebut untuk menghindari korban yang tidak perlu dari kalangan warga sipil raqqah,  dan untuk menghindari pasukan ISIS melakukan pembunuhan terhadap warga sipil.  Baca,  ISIS TELAH MENYERAH DI RAQQAH, BENARKAH? Disamping warga sipil kerap menjadi tameng hidup bagi militan ISIS.  bahkan dalam kesepakatan menyerahnya militan ISIS anshar, mereka membawa warga sipil sebagai tameng dan akan membebaskan warga sipil tersebut setelah mereka sampai di tempat tujuan. Sebagai tambahan kesepakan dengan pasukan koalisi tersebut adalah ISIS muhajirun (pejuang ISIS warga pendatang) tidak boleh keluar dari raqqah.  Pilihan bagi mereka tampaknya adalah berjuang sampai titik darah penghabisan. Jumlah mereka diperkirakan 200 – 400 orang. Mengingat raqqah praktis telah terkepung oleh pasukan koalisi,  tampaknya kejatuhan raqqah hanya tinggal menunggu waktu saja.

Setelah kejatuhan Mosul, kota terpenting ISIS setelah raqqah, di Iraq,  tampaknya ISIS kehilangan basis dan banyak dari militannya tewas demi mempertahankan kedua kota besar tersebut. Untuk mempertahankan kota Mosul diperkirakan lebih dari 10ribu militan ISIS tewas (menurut data Irak),  walau jumlah bisa saja berbeda namun secara logis ISIS pastinya kehilangan banyak pejuangnya demi mempertahankan kota tersebut. Bahkan ISIS harus meledakkan mesjid bersejarah mereka dimana deklarasi kekhalifahan ISIS oleh amir mereka, Abu Bakar Al-baghdadi terjadi (mesjid an-Nouri).

Bahkan kota-kota seperti Hawija di Irak dan kota Al-mayadeen dekat der zour telah jatuh pula ke tangan musuh-musuh ISIS. Politik pasukan koalisi dalam merebut kota-kota ISIS adalah dengan pola mengisolasi dahulu, kemudian merebutnya secara perlahan. Namun metoda ini menimbulkan banyak korban warga sipil, bisa karena pemboman, kekurangan pangan,  air,  dan obat-obatan atau bahkan dieksekusi sendiri oleh militan ISIS karena tidak mau berperang atau mencoba kabur dari wilayah tersebut.

Basis terakhir yang mungkin bagi militan ISIS adalah Der Zour di Suriah Timur atau Al-qaim di provinsi anbar Irak. Kondisi terakhir ser zour pun sudah mulai terkepung oleh pasukan koalisi yang dibantu oleh supremasi kekuatan serangan udara pesawat-pesawat pembom amerika. Dalam keputus asaannya sejumlah militan ISIS seperti yang diberitakan oleh media ISIS, a’maaq mereka mencoba menyerang wilayah HTS di wilayah pinggiran Hama timur memanfaatkan “izin” menyeberang oleh pasukan rezim yang memang sedang mengalami kekalahan di Abu Dhali,  Hama, oleh mujahidin HTS. namun usaha ISIS ini tidak berjalan mulus manakala HTS mengirimkan kekuatannya ke wilayah ini untuk mengusir anasir ISIS yang sempat merebut selusin dusun di pinggiran Hamah timur meninggalkan korban tewas militan ISIS.

Namun lepas dari itu semua,  walau ISIS pada akhirnya kehilangan wilayah di Suriah dan Irak tidak berarti mereka kehilangan segalanya meski semboyan baqiyah wa tatamaddad kehilangan maknanya.  Beberapa wilayah belahan bumi lain seperti sinai,  libya maupun afghanistan mereka masih sedikit memiliki ruang,  bahkan di Kongo akhir-akhir ini sejumlah militan nerusaha mendirikan basis di sana.  Ideologi mereka yang bersifat takfiri tidak lekang oleh pupusnya wilayah, meski pendukungnya menjadi berkurang. Ghuluw dalam pengkafiran yang mereka anut sempat menjadi cap neokhawarij bahkan oleh sebagian pendukung mereka sendiri mencaci sebagian lainnya yang lebih ghuluw. Keberadaan paham ini tidak bisa ditutup-tutupi terlihat dengan kejadian dipenjarakan dan dibunuhnya tokoh-tokoh lajnah mufawwadhah oleh kelompok yang merasa pembawa fikroh abu muhammad alAdnani (eks jubir ISIS yang tewas oleh bom mobil)  dan Turki bin Ali (ulama ISIS). Bahkan sebelum ISIS ada atau masih dalam embrio daulah islam Irak (masa perang Irak lawan amerika) kelompok yang membawa pemikiran ghuluw fittakfir ini sudah ada dan sempat menjadi keluhan Syekh Usamah bin Ladin (amir Alqaida)  sampai-sampai memerintahkan ulama dan komandannya,  Syekh Athiyatullah Al-Libi untuk membuat tulisan menangkis pemikiran takfiri ini yang berujung terbitnya makalah beliau yang berjudul “jawaabus su’al fii jihaadi daf’i” (lihat letters from abbottabad). ISIS mungkin tak lama berakhir tetapi pemikirannya akan tetap ada,  masalahnya seberapa banyak jihadis yang mengambil pelajaran dari kesalahan ini, jika tidak akan ada model-model mirip ISIS di masa yang akan datang.

(TEAM)