Duniaekspress, 20 oktober 2017 . – Jakarta – Pintu Kedaulatan Republik “dijebol” via mega proyek reklamasi dan Meikarta. Dari dua lobang ini, penetrasi asing masuk. With “peace” in quote.

Dua proyek aneh. Negara 17 ribu pulau masih bikin pulau-palsu. Di Meikarta, katanya bakal ada 100 skyscraper, empat puluh lantai. Selain 400 ribu rumah (mewah?), 10 International Hotel, 100International school dan sebagainya.

Aneh, padahal mall-mall di Tangerang sepi pengunjung. Baru saja ada 1.600 penghuni rusun mau diusir akibat tidak sanggup bayar iuran. Kalau bukan orang asing atau kamunitas international, siapa lagi yang bakal menghuni pulau-pulau reklamasi dan beroperasi di perkantoran Meikarta.

Adanya foreign compound semacam ini bukan cosmopolit. Ini adalah semi-colonialism.

Di tahun 1840, China (Qing Dynasty) dibagi ke dalam beberapa “spheres of influence”. Macau dikuasai Portugal, Outer Manchuria jadi milik Rusia dan Inggris menguasai Hong Kong.

Pasca Opium War, Inggris punya priviledge beroperasi di lima pelabuhan. China diharuskan memberi izin kepada misionaris bule bermukim dan beroperasi di China.

Banyaknya orang asing beroperasi di sebuah negara biasanya diikuti oleh “extraterritoriality”. Sebuah kekebalan hukum. Mereka tidak terjangkau jurisdikasi local law.

Biasanya, Extraterritoriality berlaku di bulan, antartica, outer space, international water, zona internasional atau misi diplomatik. Bukan di dalam sebuah negara “berdaulat”. Dipulangkannya seratus penipu cyber adalah contoh halus extraterritoriality.

Di masa akhir Ottoman Empire, orang-orang Eropa bebas berkeliaran. Tak terjangkau hukum. Penguasa Ottoman tidak bisa berkutik. Hukum overlapping. “Pluralisme Hukum” memungkinkan orang asing bikin institusi dan mengorganisir diri. Dan mengkapitulasi Ottoman Empire.

Sampai tahun 1921, Shanghai dibagi tiga zona: Shanghai International Settlement dikuasai Amerika dan Inggris. Sedangkan Shanghai French Concession adalah teritorinya Perancis. AB/Lasdipo).

 

Baca juga, PEKERJA ASING DARI CHINA LECEHKAN BENDERA MERAH PUTIH