Duniaekspress 24 oktober 2017. – Bentuk konflik hari ini –

Peta Konflik Hari Ini: Perseteruan Asimetris antara Hak dan Batil.

By: Sultan Serdang

 

Perang yang dilancarkan pasukan salib hari ini adalah perang paling pengecut dalam catatan sejarah. Belum pernah tercatat dalam sejarah manusia pertemuran paling buruk dan paling pengecut dibandingkan perang ayng digelar Amerika dan sekutunya –sebagai Negara-negara kuat- melawan kekuatan kaum muslimin yang diwakili mujahidin.

Perang ini sesungguhnya adalah perang asimetris: perang yang tidak seimbang antara pihak aggressor melawan defender. Namun perang menampilkan suatu model peperangan yang yang tidak lazim, bahkan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek militer, geografis, demografis, dan sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Perang asimetri selalu melibatkan peperangan antara dua pelaku atau lebih.

Menurut Pruitt & Gahagan (1974) model konflik dapat diklasifikasikan menjadi tiga model konflik yakni model agresor-defender, model spiral-konflik, dan model perubahan struktural.

Model pertama adalah model agresor-defender, terdapat dua pihak berbeda yang saling konflik, “agresor” (pihak yang menyerang) yang memiliki suatu tujuan tertentu untuk mengubah hal-hal yang searah dengan kepentingannya. Keinginan perubahan tersebut mengakibatkan “agresor” terlibat di dalam konflik bersama pihak lainnya yakni “defender” (pihak yang bertahan) yang berusaha menolak perubahan tersebut. Untuk mewujudkan kepentingannya, sang “agresor biasanya memulai dengan taktik-taktik yang ringan, namun apabila tidak berhasil, ia akan berpindah ke taktik-taktik yang lebih berat dan berlanjut ke eskalasi.

Sebaliknya “Defender” hanya semata-mata bereaksi, ia akan semakin meningkatkan reaksinya sebagai respons terhadap eskalasi dari “agresor”. Eskalasi terus berlanjut sampai sang “agresor” menang atau menghentikan upayanya. Contoh model konflik ini adalah konflik pertama sekali yang terjadi antara Negara Madinah melawan kezaliman Kekaisaran Romawi.

Disebutkan dalam buku-buku Sirah bahwa paska haji Wada’, Rasulullah SAW menyiapkan pasukan muslimin untuk menghadapi tentara Romawi. Sebab pertempuran ini adalah penyaliban Farwah bin ‘Umar Al Judzami oleh pihak Romawi sebagai bentuk terror kepada penduduk arab utara yang mendukung pemerintahan Madinah dan menyatakan keIslaman. Padahal, ketika Islam menguat di Madinah, dengan suka rela masyarakat arab menyatakan keIslaman secara berbondong-bondong. Tak ketinggalan juga Farwah bin ‘Umar Al Judzami, kepala daerah Ma’an dan sekitarnya yang diangkat Kaisar Romawi.

Kekaisaran Romawi tidak dapat menerima perubahan tersebut. Maka Romawi bergerak aktif dan menyatakan sikap dengan “menyerang” untuk menyetop perubahan masyarakt arab di utara yang berbondong-bondong masuk ke dalam Islam. Romawi sebagai “agresor” memiliki tujuan untuk mengubah hal-hal yang searah dengan kepentingannya. Inilah yang menyebabkan meluasnya gesekan antara Kekaisaran Romawi melawan Kaum Muslimin yang dipimpin Rasulullah dan memaksa beliau mengirim pasukan yang dipimpin Usãmah.

Apa yang menimpa Rasulullah SAW kala itu memiliki kesamaan dengan apa yang dihadapi kaum muslimin hari ini. Pasukan salib yang diwakili Amerika dan Negara-negara NATO beserta poros lain: salib timur yang diwakili Rusia dan Negara-negara sosialis dan tidak lupa pula Zionisme dengan jelmaan barunya dalam rupa Negara Israel; memainkan perang yang tidak lazim dan penuh dengan kobongan dan jauh dari sikap satria dan keperwiraan.

Sejatinya mereka adalah Negara-negara besar, bahkan adidaya, namun untuk menghadapi kekuatan gerakan jihad yang terpecah dalam banyak faksi dan jamaah mereka memainkan strategi dan taktik paling licik dan pengecut. Untuk menghadapi kekuatan gerakan jihad yang ternilai amatiran jika dibandingkan Amerika dan sekutunya, Amerika selalu keroyokan seperti sekumpulan penjahat pengecut yang sedang berhadapan dengan anak kecil namun memiliki sifat satria. Bahkan Amerika dan sekutunya lebih buruk daripada Uni Sovyet yang berani terjun langsung face to face berhadapan langsung; Amerika hari ini justru meminjam tangan-tangan milisi lokal yang dipersenjatai untuk menghadapi gerakan jihad. Sungguh strategi dan taktik paling memalukan. Amerika yang digadang-gadang “Super Hero” tak lebih seperti “Duda Tua”.

Yang harus dicatat seluruh gerakan jihad di bumi manapun mereka berada, bahwa Allah sudah berulang kali memperlihatkan bagaimana pasukan sedikit dapat mengalahkan pasukan besar dengan izin Allah. Perang ini adalah perang yang tidak lazim dan akan menempuh waktu lama hingga lintas generasi. Kekuatan yang paling sabar menghadapi kondisi ini adalah kekuatan yang akan keluar sebagai pemenang. Dan untuk setiap gerakan jihad lokal, sungguh langkah dan cita-cita kalian akan dihentikan oleh kekuatan kufur global. Karenanya, jangan kalian lupa musuh besar itu: koalisi kafir global. Kekuatan umat islam yang diwakili gerakan jihad baik local maupun internasional akan melangsungkan perang asimetris dan upaya yang strategis adalah mengundang para aggressor datang ke negeri kita, defender.

[Sultan Serdang]

Baca juga,  POLITIK YANG KAMI INGINKAN