Duniaekspress, 25 Oktober 2017- Kulit bayi perempuan itu berkerut seperti kertas tipis, saat mulut mungil mereka terbuka dengan rasa sakit. Mayat mereka tidak bisa lagi mengakhiri perang Suriah.

Abeeda Fawaidar dan Sahar Devdeh keduanya meninggal minggu ini setelah hanya satu bulan dilahirkan, mereka adalah contoh korban dari pengepungan keji rezim Basyar Assad di daerah Ghouta Timur Pedesaan Damaskus.

Yahia Abo Yehia, seorang dokter di rumah sakit di Ghouta Timur yang merawat kedua bayi tersebut, mengatakan bahwa mereka meninggal karena kekurangan gizi dan kurangnya peralatan untuk mengobati komplikasi usus.

“Tidak ada perawatan medis untuk kasus ini,” katanya kepada Al Jazeera, Selasa (24/10/2017).

“Adanya kekurangan peralatan khusus untuk mengukur elektrolit dan komposisi darah atau untuk pemindaian.” Tambahnya.

Kondisi bayi di Ghouta

“Persediaan bantuan hanya memenuhi lima persen kebutuhan nutrisi di wilayah ini dan anak-anak sangat kekurangan nutrisi vital,” terangnya.

“Sebagai seorang dokter anak, saya merasa bahwa anak-anak di dunia adalah anak-anak saya, saya menderita karena penderitaan mereka,” katanya. “Bagaimana perasaan Anda jika anak Anda meninggal di depan mata Anda dan Anda tidak dapat memberinya sesuatu? Ini adalah sesuatu yang menyakitkan.” Ujar Abo.

Pengepungan Empat Tahun

Ghouta Timur, yang dulu terkenal dengan tanahnya yang subur dan produksi pertanian yang kaya, telah dikelilingi oleh pasukan pemerintah Suriah selama empat tahun. Persediaan makanan yang melimpah telah menyusut, dan persediaan obat hampir hilang sama sekali.

“Kami memiliki banyak penyakit untuk ditangani. Ada kemungkinan dialisis ginjal, mengobati tuberkulosis, peradangan hati, gangguan tekanan darah atau diabetes,” kata Abo Yehia kepada Al Jazeera.

“Fasilitas di pusat sangat buruk, tidak ada alat sterilisasi. Tidak ada bahan bakar untuk menjalankan peralatannya.” Terangnya.

Zona Aman Tak Luput Dari Serangan Rezim Basyar, 28 Warga Sipil Tewas Di Idlib

Ghouta Timur seharusnya menjadi salah satu “zona de-eskalasi” yang ditengahi tahun lalu oleh Iran, Rusia dan Turki. Namun, pekerja pertahanan sipil di wilayah tersebut melaporkan hampir setiap hari ada tembakan artileri dan serangan udara, yang seringkali mengakibatkan kematian warga sipil. Mereka memperkirakan bahwa 955 rudal telah dijatuhkan di Ghouta Timur sejak Juli dan 126 orang terbunuh.

Aktivis lokal menyatakan, kondisi pengepungan di Ghouta Timur terus memburuk, membatasi persediaan makanan, medis dan pendidikan kepada ratusan ribu orang.

“Di masa lalu, makanan dan kebutuhan masuk, dengan harga yang melambung, melalui perantara dan dealer,” kata aktivis lokal Abed al-Mayeen kepada Al Jazeera. “Tiga bulan yang lalu, pengepungan diperketat, dan sejak saat itu sedikit makanan atau obat-obatan memasuki daerah tersebut. Situasinya semakin parah, ada kekurangan makanan, obat-obatan, susu dan suplemen makanan. Ini benar-benar pengepungan terburuk yang pernah ada,” pungkasnya. (IF)